Peneliti Sebut Hampir Separuh Orang Positif COVID-19 Tanpa Gejala

Reporter:
Editor:

Yayuk Widiyarti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi wabah virus corona (Covid-19) di Iran. Sumber: Reuters/asiaone.com

    Ilustrasi wabah virus corona (Covid-19) di Iran. Sumber: Reuters/asiaone.com

    TEMPO.CO, Jakarta - Hasil riset yang dikeluarkan Scripps Research Translational Institute menunjukkan kasus positif COVID-19 yang tak memiliki gejala berkontribusi sebesar 45 persen. Jurnal Annals of Internal Medicine menyebutkan 45 persen orang yang terpapar virus corona tak memiliki gejala. Hal itu diperoleh dari tes terhadap 16 populasi yang berbeda.

    Dari tes itu, dilihat gejala yang timbul. Selain porsi orang tanpa gejala, riset menemukan bahwa penyebaran virus bisa lebih lama, yakni lebih dari 14 hari.

    Menjawab pertanyaan tentang berapa banyak orang yang tak menimbulkan gejala setelah terpapar virus sangat penting bagi pembuat kebijakan. Alasannya, hal itu membantu pemahaman terkait dengan penyebaran dan tingkat keparahan.

    Sebelumnya, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Menular (CDC) menyatakan porsi orang yang tak bergejala sebesar 25 persen. Di sisi lain, beberapa kajian terhadap antibodi justru menunjukkan porsi lebih besar. Periset pun menyarankan agar program pengetesan dilakukan lebih sering kepada pasien yang tak memiliki gejala virus corona.

    Adapun, Universitas Johns Hopkins mencatat bahwa total kasus virus corona secara global menembus 6,39 juta dengan total 383.318 kematian. Jumlah kasus tertinggi diduduki oleh Amerika Serikat dengan 1,85 juta dan kematian 107.099.

    Di urutan kedua ada Brasil dengan 555.383 kasus dan 31.199 kematian. Lalu, di urutan ketiga Rusia dengan 431.715 kasus dan 5.208 kematian. Kendati berada di urutan keempat dengan 281.270 kasus, Inggris mencatatkan angka kematian 39.811 yang menempatkannya berada di bawah Amerika Serikat.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Benarkah Ada Jam Makan Yang Bikin Gemuk?

    Banyak cara untuk membuat berat badan menjadi ideal, contohnya waktu makan. Namun makan di jam yang salah bisa bikin gemuk.