Positif Covid-19, Pasien Hipertensi Harus Tetap Minum Obat

Reporter:
Editor:

Yayuk Widiyarti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi hipertensi (Pixabay.com)

    Ilustrasi hipertensi (Pixabay.com)

    TEMPO.CO, Jakarta - Hipertensi adalah penyebab kematian nomor tiga di Indonesia. Padahal, penyakit yang prevalensi meningkat seiring pertambahan usia ini bisa dicegah asal waspada sejak dini. Apalagi, banyak pengidap hipertensi yang tidak mengalami gejala apa pun, alasan mengapa tekanan darah tinggi dijuluki pembunuh senyap.

    Presiden Indonesian Society of Hypertension (InaSH), dokter spesialis penyakit dalam Tunggul D. Situmorang, mengatakan pasien hipertensi yang terinfeksi COVID-19 tidak perlu khawatir untuk terus melanjutkan konsumsi obat-obatan yang bertujuan mengelola tekanan darah tinggi.

    “Penggunaan obat-obatan antihipertensi pada masa COVID-19 oleh asosiasi profesi terkait hipertensi di seluruh dunia menekankan bahwa pada pasien-pasien hipertensi yang terkena COVID-19, maka obat anti hipertensi yang digunakan sebelumnya harus dilanjutkan," jelas Tunggul dalam webinar “Waspadai Hipertensi sebagai Komorbid Tertinggi COVID-19”, Jumat, 26 Februari 2021.

    Dia menegaskan hingga saat ini data yang ditemukan menghasilkan kesimpulan pemberian obat antihipertensi pada pasien yang terkena COVID-19 memang harus dilanjutkan, bukan dihentikan. Penyakit hipertensi memperburuk perjalanan COVID-19 sehingga pasien perlu waspada dalam menghadapinya.

    Baca juga: Risiko Tinggi Terpapar Covid-19, Pasien Hipertensi Penting Pantau Tekanan Darah

    Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018 mencatat sebanyak 63 juta orang atau sebesar 34,1 persen penduduk di Indonesia menderita hipertensi. Dari populasi tersebut, hanya sebesar 8,8 persen terdiagnosis hipertensi dan hanya 54,4 persen dari yang terdiagnosis hipertensi rutin minum obat.

    Tunggul menjelaskan, “Data terkini menyebutkan hipertensi merupakan komorbid tertinggi COVID-19 di dunia termasuk di Indonesia, dengan perbandingan di AS sebanyak 56,6 persen, Cina 58,3 persen, Italia 49 persen, serta Indonesia 50,5 persen.”

    Sebaiknya, masyarakat mulai mengukur tekanan darah setelah beranjak berusia 18 tahun untuk mendeteksi dini apakah memiliki hipertensi. Di tengah keterbatasan ruang gerak saat pandemi, Tunggul mengajak masyarakat untuk memanfaatkan teknologi layanan kesehatan secara daring dalam berkonsultasi secara rutin dengan dokter. Selain itu, penting untuk rutin mengukur sendiri tekanan darah di rumah secara mandiri.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Aman Ibadah Sholat Ramadan Saat Covid-19

    Pemerintah DKI Jakarta telah mengizinkan masjid ataupun mushola menggelar ibadah sholat dalam pandemi.