Pola Minum yang Tepat kala Ramadan Menurut Pakar Gizi

Reporter:
Editor:

Yayuk Widiyarti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi Air Minum. shutterstock.com

    Ilustrasi Air Minum. shutterstock.com

    TEMPO.CO, Jakarta - Banyak tantangan selama Ramadan 2021 yang masih berlangsungdi tengah pandemi Covid-19. Butuh cara tepat menghadapi berbagai tantangn itu dengan harapan semua dapat meraih kemenangan Ramadan meski situasi pandemi belum usai. Salah satunya dengan selalu menjaga kesehatan dan cukup minum air.

    “Studi menunjukkan selama berpuasa tubuh manusia cenderung lebih mudah mengalami dehidrasi. Itulah mengapa kita perlu memperhatikan kecukupan asupan air saat sahur, berbuka, dan sepanjang malam,” ujar Dr. dr. Diana Sunardi, M.Gizi, Sp.GK, Ketua Indonesia Hydration Working Group (IHWG), pada webinar yang berlangsung Selasa, 20 April 2021.  

    “Tubuh membutuhkan sedikitnya 2 liter atau kurang lebih delapan gelas air bagi rata-rata orang dewasa. Karena tidak bisa minum di siang hari ketika berpuasa, kita bisa memenuhi kebutuhan air tubuh dengan minum dua gelas air saat berbuka, empat gelas air setelah makan malam hingga menjelang tidur, dan dua gelas lagi ketika sahur. Selain kuantitasnya, perhatikan pula kualitas air minum. Pastikan air minum itu datang dari sumber yang terlindungi dan prosesnya sesuai dengan standar pemerintah,” lanjutnya.

    Lebih lanjut mengenai dampak dehidrasi menurut Diana, selain dapat mengganggu fungsi kognitif, kurang minum air juga dapat mempengaruhi suasana hati. Hal ini disebabkan fungsi kognitif memegang peranan penting dalam mengatur persepsi, cara berpikir, kemampuan mengingat, dan merasakan emosi dan berpotensi mengganggu aktivitas sehari-hari, termasuk beribadah. Pasalnya, 75 persen otak manusia terdiri dari air, apabila tubuh kehilangan sedikitnya 2 persen saja dari jumlah total air dalam tubuh, hal ini dapat mengganggu fungsi tubuh, termasuk otak.

    Selain itu, berpuasa di tengah pandemi kemudian bukan hanya menantang secara fisik, tetapi juga mental. Dilansir dari hasil penelitian tentang Risiko Global 2021, ditemukan sebanyak 80 persen anak muda di seluruh dunia tercatat mengalami penurunan kondisi kesehatan mental selama pandemi Covid-19.

    “Mengakui bahwa pada Ramadan kali ini kita masih menghadapi tantangan secara mental merupakan langkah pertama untuk mengatasi masalah, dan lebih membuka diri untuk melindungi Ramadan,” jelas psikolog Analisa Widyaningrum.

    “Selanjutnya, kita bisa mulai mencari solusi yang tepat untuk diri masing-masing, misalnya menggunakan momentum Ramadan ini untuk membangun kebiasaan baik seperti istirahat secara teratur, mengalokasikan waktu untuk me-time dan beribadah, serta minum cukup air agar tidak dehidrasi dan mengalami penurunan fungsi kognitif. Sempatkan juga untuk berbagi dan melindungi sesama di bulan Ramadan, karena menurut studi, kebahagiaan yang datang dari berbagi akan lebih awet dibanding kebahagiaan dari berbelanja untuk diri sendiri,” tambahnya.

    “Di bulan Ramadan ini, selain mengingatkan untuk melindungi diri, kami juga mengajak masyarakat untuk melindungi sesama dengan cara berbagi cerita Ramadan masing-masing di Twitter atau TikTok dengan tagar #RamadanbersamaAQUA. Cerita yang diunggah akan kami konversi menjadi donasi ke berbagai kegiatan kemanusiaan, untuk melindungi saudara-saudara kita yang membutuhkan,” ujar Intan Ayu Kartika, Brand Director Danone-AQUA.

    Baca juga: Waspadai Dampak Puasa pada Pasien Diabetes


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Aman dan Nyaman Liburan Lebaran Idul Fitri 1442 H

    Ada sejumlah protokol kesehatan yang sebaiknya Anda terapkan kala libur lebaran 2021. Termasuk saat Salat Idul Fitri 1442H