Beda Pengusaha yang Bekerja Sendiri dan Solopreneur

Reporter:
Editor:

Yayuk Widiyarti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • ilustrasi pengusaha (pixabay.com)

    ilustrasi pengusaha (pixabay.com)

    TEMPO.CO, Jakarta - Di dunia usaha, solopreneur dan enterterpreneur seringkali disebut sebagai satu kesatuan dan sama-sama pengusaha. Namun, sebenarnya itu adalah dua hal yang berbeda.

    Solopreneur ramai beberapa tahun terakhir. Sedangkan entrepreneur atau pengusaha sudah populer sejak dulu. Perbedaan yang mencolok adalah solopreneur adalah pelaku bisnis memilih untuk memulai usaha tanpa niat untuk menambah staf.

    Sekilas, solopreneur dan wirausahawan seperti sama karena beberapa pengusaha bekerja sendiri hingga dapat membangun bisnis yang cukup untuk membentuk tim. Dilansir dari Entrepreneur, berikut perbedaan solopreneur dan wirausaha.

    Solopreneur tidak menunggu pembelian
    Seorang pengusaha bekerja keras untuk membangun bisnis tetapi tidak terlalu terikat pada konsep sebagai solopreneur. Wirausahawan membangun bisnis dengan harapan kecil perusahaan yang jauh lebih besar, seperti Google, akan datang dan menawarkan jutaan dolar. Dengan begitu perusahaan itu akan tumbuh sehingga dapat dengan mudah melanjutkan ke usaha besar berikut. Namun, perbedaan besar antara keduanya mungkin terjadi ketika seorang wirausahawan dapat menjalankan berbagai bisnis selama karirnya. Sementara itu, seorang solopreneur cenderung mengerjakan satu hal secara konsisten.

    Pengusaha menaruh wajah pada sebuah perusahaan. Bila seorang solopreneur cenderung menghabiskan berjam-jam bekerja keras untuk membangun bisnis, wirausahawan sering kali lebih suka keluar untuk membuat koneksi dan menyebarkan berita tentang bisnisnya. Seorang wirausahawan mungkin sangat senang melakukan itu sendirian dan meninggalkan timnya untuk melakukan pekerjaan tersebut. Satu perbedaan utama adalah seorang wirausahawan mungkin lebih nyaman menghabiskan sepanjang hari di berbagai peluang jaringan dan pertemuan klien sementara solopreneur puas hanya dengan melakukan pekerjaannya.

    Pengusaha adalah manajer
    Seseorang berjiwa pengusaha akan menunggu dapat membangun tim. Bahkan, mungkin mulai bekerja dengan pekerja lepas dan asisten virtual untuk mendelegasikan pekerjaan. Entrepreneur merasa nyaman memimpin tim ke arah tujuan yang ditentukan.

    Di sisi lain, solopreneur tidak terburu-buru mempekerjakan karyawan. Bahkan, jika saatnya tiba ketika harus melakukan outsourcing pekerjaan atau membawa anggota tim, solopreneur mungkin mendapati dirinya ikut serta dan melakukan sebagian besar pekerjaan itu sendiri. Solopreneur bahkan kesulitan melepaskan tugas, itu karena dia hanya ingin terjun dan bekerja keras untuk mengembangkan bisnis.

    Solopreneur adalah pekerja seorang
    Pada dasarnya, solopreneur seorang pekerja. Jika suatu tugas perlu diselesaikan, pikiran pertama adalah menyingsingkan lengan baju dan mulai bekerja. Untuk alasan ini, generasi baru pekerja lepas dan pemilik tunggal telah muncul. Solopreneur hadir dengan konten profesional untuk menjalankan toko tanpa niat untuk mengajak orang lain. Sebaliknya, pengusaha tidak mengalami kesulitan mendelegasikan, bahkan jika harus menunda proses tersebut sampai memiliki cukup uang untuk menambah pekerja.

    Pengusaha menyadari semakin cepat dapat mendelegasikan tugas seperti penagihan, pengembangan web, dan manajemen basis data, semakin cepat dapat berfokus pada membangun dan mengembangkan bisnis. Perbedaan antara seorang solopreneur dan pengusaha mungkin sulit dilihat, terutama karena begitu banyak wirausahawan mulai bekerja sendiri. Namun, pola pikir solopreneur dan wirausahawan sedikit berbeda. Dengan mencatat perbedaan tersebut dapat membantu para profesional menentukan arah jangka panjang yang akan diambil untuk bisnis mereka.

    Baca juga: Tinggalkan 5 Kebiasaan Buruk Ini Bila Ingin Jadi Pengusaha Sukses


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    PTM Lahirkan Klaster Covid-19 di Sekolah, 3 Provinsi Catat Lebih dari 100 Gugus

    Kebijakan PTM mulai diterapkan sejak akhir Agustus lalu. Namun, hanya anak 12 tahun ke atas yang boleh divaksin. Padahal, PTM digelar mulai dari PAUD.