Psikolog Sebut Toxic Relationship Picu Emosi Negatif, Ini Contohnya

Reporter:
Editor:

Yayuk Widiyarti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Istilah toxic relationship mengacu pada sebuah hubungan yang tidak sehat dan ditandai dengan berbagai perilaku 'beracun' yang punya potensi merusak fisik dan mental diri sendiri atau pasangan. (Foto: Canva)

    Istilah toxic relationship mengacu pada sebuah hubungan yang tidak sehat dan ditandai dengan berbagai perilaku 'beracun' yang punya potensi merusak fisik dan mental diri sendiri atau pasangan. (Foto: Canva)

    TEMPO.CO, Jakarta - Jangan biarkan toxic relationship terus berlanjut. Psikolog Rininda Mutia dari Universitas Indonesia menjelaskan ciri-ciri terjebak dalam hubungan toxic atau emosi negatif yang sering muncul. Emosi negatif tersebut merupakan alarm dari dalam diri ada sesuatu tidak baik yang terjadi di sekitar.

    "Tanda-tandanya apa? Kita lebih sering marah, nangis, lebih sensitif juga," kata Rininda.

    Secara umum, kesehatan mental juga jadi kurang sehat dan rasa tidak berdaya di dalam hubungan tersebut. Apa yang diharapkan dan diinginkan dari hubungan itu terasa tidak kunjung tercapai.

    "Misalnya lebih banyak porsinya dia yang memaksakan kehendaknya. Dan saya merasa tidak berdaya, tidak bisa melawan, tidak bisa berbuat apa-apa," jelasnya.

    Dampak terjebak dalam hubungan yang tidak sehat bisa terasa hingga jangka panjang. Orang bisa merasa tidak percaya diri, mengetahui hubungan ini memang tidak baik tapi sulit lepas karena merasa sayang dengan orang tersebut.

    "Bisa jadi itu bukan sayang. Bisa jadi karena ini sudah jadi kebiasaan sehingga ketika dia tidak ada, pasangannya hilang, dia akan merasa kehilangan," tuturnya.

    Untuk mengetahui apakah orang terdekat berada dalam hubungan tidak sehat, amati perilakunya bila ada yang berubah drastis. Dia mencontohkan orang yang biasanya mudah bertemu dengan teman mendadak tidak pernah bersosialisasi gara-gara dilarang oleh pacar.

    "Bahkan sampai bilang tidak boleh main sama pacar, saya harus temani pacar. Itu salah satu kekerasan psikis. Namanya isolasi. Artinya memang si pelaku kekerasan ini membuat pasangan atau korbannya itu tidak punya tempat bergantung selain dirinya. Dijauhkan dari teman-teman, keluarga. Jadi si korban menganggap yang peduli itu hanya pasangan atau pelakunya," paparnya.

    Itulah mengapa orang yang ada dalam hubungan tidak sehat merasa sulit lepas dari kekasihnya. Dia mengingatkan bila ada tanda-tanda seperti itu, jangan lupa untuk sering mengecek kabar teman terdekat. Tanyakan keadaan, tawarkan diri untuk menjadi pendengar bila ada yang ingin diceritakan.

    Ciri lain hubungan tidak sehat adalah penampilan fisik yang semakin berantakan atau munculnya lebam-lebam di badan. Anda bisa bertanya apa penyebab dan menawarkan bantuan tapi jangan langsung menghakimi dan menuduh.

    "Pasti dia akan defensif. Dia akan membela pacar, biasanya. Tapi, kita pancing sedikit- sedikit supaya dia mau cerita dan jangan menghakimi juga ketika dia bercerita supaya ceritanya bisa lengkap," sarannya.

    Kadang korban menutupi kebiasaan yang dilakukan pasangan agar kekasihnya tidak dinilai negatif oleh teman-temannya. Kekerasan psikis yang dialami dalam hubungan tidak sehat bisa juga berupa posesif yang berlebihan. Kekasih selalu bertanya di mana dia berada, bersama siapa, apa yang dilakukan, dan sebagainya. Jika tidak dijawab atau dibalas, orang tersebut akan mengamuk. Bila itu yang terjadi, berarti hubungan tersebut tidak sehat.

    "Seseorang itu harus bisa mengembangkan kepercayaan kepada pasangannya. Tentu dengan orang yang tepat karena kalau dari dulu dia suka bohong, wajar kalau sering mempertanyakan. Tapi artinya apa? Hubungannya udah tidak sehat lagi. Sudah tahu pacarnya suka bohong, tapi tidak mau pisah, jadi posesif banget juga. Sebenarnya sudah tidak sehat juga," paparnya.

    Hubungan yang tidak sehat bisa disembuhkan hanya butuh waktu dan kesadaran dari kedua belah pihak untuk menyelesaikan konflik. Ciri kedua adalah terlalu banyak mengatur, mulai dari siapa yang boleh jadi teman, baju yang dipakai, sampai-sampai pasangan tidak punya hak mengatur kehidupan sendiri sebab berpasangan adalah dua individu yang terpisah tapi berada di satu kapal dan tujuan. Beda pendapat boleh saja dan bisa diselesaikan dengan negosiasi dan diskusi.

    "Bukan berarti si A jadi harus sama kayak si B atau si B harus sama kayak si A. Bukan berarti mereka menjadi satu orang yang sama. Itu sudah tidak sehat, terlalu nge-blend antara pasangan yang satu dengan pasangan yang lainnya," kata Rininda.

    Ketiga adalah isolasi, di mana orang dituntut untuk tidak boleh bertemu dengan siapa pun kecuali pasangan sehingga dia merasa bergantung. Bergantung secara ekonomi juga bisa terjadi, misalnya memaksa kekasihnya untuk membayari sesuatu bila memang ingin terus berpacaran.

    Penghinaan secara langsung atau secara verbal bisa dilontarkan dari mulut pasangan. Dia menyarankan perbaiki hubungan bila itu terjadi sebelum menikah.

    "Jangan dipikir kalau sudah nikah dia bakal berubah, tidak. Kalau memang ada di toxic relationship dan berpikir untuk menikah, perbaiki dulu sebelum menikah karena tugas nanti setelah menikah itu lebih berat lagi," ujarnya.

    Lebih mudah untuk meninggalkan pasangan yang membuat hubungan tidak sehat dan mencari orang yang memperlakukan dengan lebih baik.

    Baca juga: Mengenali Toxic Relationship, Tanda-Tandanya, dan Cara Menghadapinya


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Rachel Vennya Diduga Tak Menyelesaikan Masa Karantina Usai Pulang dari AS

    Rachel Vennya diduga tak menyelesaikan masa karantina yang semestinya ia lalui sepulang dari Amerika Serikat. Dugaan datang dari unggahan Instagram.