Apakah Vaksin Dapat Memulihkan Long Covid?

Reporter:
Editor:

Iqbal Muhtarom

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Petugas medis menyuntikan dosis vaksin Sinopharm kepada pencari suaka saat vaksinasi COVID-19 di GOR Bulungan, Jakarta Selatan, Kamis, 7 Oktober 2021. Vaksinasi tersebut digelar atas kerja sama Pemprov DKI Jakarta, UNHCR dan Kadin Indonesia. Sebanyak 600 vaksin dosis pertama disediakan dalam vaksinasi tersebut. TEMPO / Hilman Fathurrahman W

    Petugas medis menyuntikan dosis vaksin Sinopharm kepada pencari suaka saat vaksinasi COVID-19 di GOR Bulungan, Jakarta Selatan, Kamis, 7 Oktober 2021. Vaksinasi tersebut digelar atas kerja sama Pemprov DKI Jakarta, UNHCR dan Kadin Indonesia. Sebanyak 600 vaksin dosis pertama disediakan dalam vaksinasi tersebut. TEMPO / Hilman Fathurrahman W

    TEMPO.CO, Jakarta - Meski Covid-19 memiliki tingkat kesembuhan yang tinggi, penyakit ini tetaplah berbahaya. Covid-19 dapat menyebabkan atau memicu penyakit yang parah, yang bisa berujung pada kematian. Selain itu, meskipun telah sembuh dari Covid-19, para penyintas kemungkinan bakal mengidap long covid.

    "Long Covid adalah sindrom gejala persisten yang berkembang setelah virus penyebab Covid-19 dibersihkan," kata Direktur Post-Covid Recovery Center University Hospital, Thomas Gut, dikutip dari healthline.com.

    Gut menjelaskan, gejala berupa brain fog, kelelahan, anosmia, rambut rontok, dan mati rasa dapat berlangsung selama berminggu-minggu hingga berbulan-bulan.

    Dalam situs resminya, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) Amerika Serikat menyatakan cara terbaik untuk mencegah long covid adalah dengan mencegah terinfeksi Covid-19. Salah satu caranya adalah vaksin.

    Pada 1 September 2021, sebuah penelitian yang diterbitkan dalam jurnal The Lancet Infectious Diseases memaparkan, vaksinasi tidak hanya mengurangi risiko infeksi dan gejala parah, tetapi secara signifikan mengurangi kemungkinan mengalami long covid.

    Di Inggris, para peneliti menganalisis data dari lebih 1,2 juta orang dewasa dalam the national COVID Symptom Study. Mereka mengevaluasi laporan dari orang-orang dewasa yang telah diberi setidaknya satu dosis vaksin Pfizer-BioNTech, Moderna, atau AstraZeneca mRNA COVID-19 antara Desember 2020 dan Juli 2021.

    Hasilnya, 971.504 orang yang sepenuhnya divaksinasi, hanya 0,2 persen yang berisiko terinfeksi long covid. Melansir dari healthline.com, ketika dibandingkan dengan orang yang tidak divaksinasi, risiko long covid 49 persen lebih rendah bagi orang yang telah divaksinasi.

    Namun, CDC memaparkan vaksin Covid-19 tidak 100 persen efektif dalam mencegah infeksi long covid.

    Dilansir dari laman cdc.gov, CDC menunjukkan bahwa:

    • Orang yang sepenuhnya divaksinasi tidak mengembangkan penyakit serius dibanding mereka yang tidak divaksinasi dan terkena COVID-19.
    • Bahkan, ketika orang yang sepenuhnya divaksinasi mengembangkan gejala, gejalanya cenderung ringan dibanding yang dialami oleh orang yang tidak divaksinasi. Dengan demikian, dapat mengurangi risiko rawat inap atau kematian.

    M. RIZQI AKBAR

    Baca juga: Definsi Baru WHO Soal Long Covid sebagai Kondisi Pasca Covid-19


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Rachel Vennya Diduga Tak Menyelesaikan Masa Karantina Usai Pulang dari AS

    Rachel Vennya diduga tak menyelesaikan masa karantina yang semestinya ia lalui sepulang dari Amerika Serikat. Dugaan datang dari unggahan Instagram.