Epidemiolog UGM Sebut Gelombang Ketiga Covid-19 Pasti Terjadi di Indonesia

Reporter:
Editor:

Iqbal Muhtarom

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Bagikan Berita
    Petugas melakukan disinfeksi ruang kelas di SDN 065 Cihampelas, Bandung, Jawa Barat, 25 Oktober 2021. Sebanyak 14 sekolah tingkat SD sampai SMA di Bandung ditutup karena kasus positif Covid-19 diatas 5 persen pasca pembelajaran tatap muka terbatas. TEMPO/Prima Mulia

    Petugas melakukan disinfeksi ruang kelas di SDN 065 Cihampelas, Bandung, Jawa Barat, 25 Oktober 2021. Sebanyak 14 sekolah tingkat SD sampai SMA di Bandung ditutup karena kasus positif Covid-19 diatas 5 persen pasca pembelajaran tatap muka terbatas. TEMPO/Prima Mulia

    TEMPO.CO, Jakarta - Presiden Joko Widodo atau Jokowi mewanti-wanti tentang gelombang ketiga Covid-19 yang kemungkinan akan bisa menghantam kembali Indonesia. Jokowi mengungkapkan berdasarkan pengalaman, kenaikan angka positif Covid-19 kemungkinan akan terjadi setelah libur Natal dan Tahun Baru, yakni pada Desember 2021-Januari 2022.

    Pakar epidemiologi UGM Riris Andono mengatakan bahwa gelombang ketiga Covid-19 merupakan sesuatu yang pasti terjadi. Namun, waktu terjadinya dan seberapa tinggi kasus yang akan terjadi akan tergantung pada situasi di masyarakat.

    “Kemungkinan adanya gelombang Covid-19 berikutnya adalah sebuah keniscayaan. Tinggal pertanyaanya itu kapan terjadi dan seberapa tinggi ini sangat tergantung dengan situasi yang berkembang di masyarakat,” ujar Riris seperti yang dikutip Tempo dari laman UGM, Minggu, 24 Oktober 2021.

    Riris menjelaskan bahwa munculnya gelombang ketiga Covid-19 atau gelombang-gelombang setelahnya sangat bergantung pada kondisi di masyarakat.

    Kepatuhan menjalani protokol kesehatan 3M yang terdiri dari menjaga jarak, mencuci tangan, dan memakai masker di masyarakat merupakan situasi yang akan mempengaruhi gelombang ketiga Covid-19 nantinya. Selain itu, mobilitas sosial juga turut mempengaruhi hal ini.

    Selanjutnya ia mengingatkan bahwa virus Covid-19 masih terus ada dan tidak sedikit orang yang tidak memiliki kekebalan karena tidak bisa mendapatkan vaksin Covid-19. Sementara orang yang sudah mendapatkan vaksin pun kekebalannya dapat menurun seiring berjalannya waktu.

    “Jadi, tidak hanya satu kali gelombang tiga lalu stop, tapi akan terjadi lagi selama virus masih ada dan bersirkulasi secara global,” kata Direktur Pusat Kajian Kedokteran Tropis UGM ini.

    Terkait pemberian vaksin Covid-19, Riris menjelaskan bahwa beberapa negara dengan cakupan vaksinasi relatif tinggi seperti Israel, Inggris, Amerika Serikat dan negara-negara di Eropa saat ini pun tengah berjuang kembali dengan Covid-19 dikarenakan varian Delta.

    Riris menjelaskan bahwa varian Delta memiliki tingkat penularan lebih tinggi sehingga membutuhkan cakupan imunitas yang lebih tinggi dalam populasi.

    Sebelum adanya varian Delta, untuk mendapatkan kekebalan kelompok maka sekitar 70 persen populasi harus sudah divaksin. Namun, sejak adanya varian Delta, cakupan vaksinasi harus ditingkatkan menjadi 80 persen populasi. Kondisi tersebut dengan anggapan bahwa vaksin yang diberikan memiliki efektvitas 100 persen.

    Vaksinasi di Indonesia untuk bisa mencapai 80 persen populasi berarti sekitar 230 juta penduduk harus divaksin. Dalam pelaksanaannya pun ada baiknya dilakukan dalam waktu kurang dari 6 bulan agar bisa terwujud kekebalan kelompok.

    Untuk mencegah gelombang ketiga Covid-19 di Indonesia yang besar, Riris meminta masyarakat agar tidak lengah. Meski pun saat ini kondisi membaik, ia menghimbau masyarakat untuk tetap menerapkan protokol kesehatan. Sementara pemerintah diminta untuk memperkuat 3T yaitu testing, tracking, dan treatment.

    MAGHVIRA ARZAQ KARIMA

    Baca juga: Cegah Gelombang Ketiga Covid-19, Jokowi Minta Libur Natal dan Tahun Baru Diatur

    Selalu update info terkini. Simak breaking news dan berita pilihan dari Tempo.co di kanal Telegram “Tempo.co Update”. Klik https://t.me/tempodotcoupdate untuk bergabung. Anda perlu meng-install aplikasi Telegram terlebih dahulu.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Pemerintah Larang WNA dari 11 Negara Masuk untuk Cegah Varian Omicron

    Pemerintah telah berupaya membendung varian Omicron dari Covid-19. Luhut Binsar Pandjaitan menegaskan, pemerintah sudah membuat sejumlah kebijakan.