Lupa Kata Sandi? Klik di Sini

atau Masuk melalui

Belum Memiliki Akun Daftar di Sini


atau Daftar melalui

Sudah Memiliki Akun Masuk di Sini

Konfirmasi Email

Kami telah mengirimkan link aktivasi melalui email ke rudihamdani@gmail.com.

Klik link aktivasi dan dapatkan akses membaca 2 artikel gratis non Laput di koran dan Majalah Tempo

Jika Anda tidak menerima email,
Kirimkan Lagi Sekarang

Gejala Penyakit Hipertensi Paru yang Sering Dikira Asma dan TBC

Reporter

Editor

Rini Kustiani

Ilustrasi anak sakit. Shutterstock
Ilustrasi anak sakit. Shutterstock
Iklan

TEMPO.CO, Jakarta - Penyakit hipertensi paru mungkin masih asing terdengar. Banyak orang yang memahami penyakit hipertensi saja atau penyakit paru saja. Namun penyakit yang satu ini adalah gabungan dari keduanya. Apa maksudnya?

Pakar Kardiologi Anak Rumah Sakit Adam Malik Medan, Sumatera Utara, dokter spesialis anak Rizky Adriansyah mengatakan hipertensi paru adalah kelainan patofisiologi pada pembuluh darah di paru-paru yang dapat memicu komplikasi ke penyakit-penyakit kardiovaskular (jantung) dan respirasi (pernapasan). "Salah satu indikasinya adalah ketika tekanan darah di pembuluh paru lebih dari 25 mmHg atau ada pula literatur terbaru yang merujuk di atas 20 mmHg," kata Rizky dalam webinar Pfizer Media Health Forum "Kenali Gejala Hipertensi Paru pada Anak dan Cara Penanganannya" pada Kamis, 10 Maret 2022.

Penyakit hipertensi paru dapat terjadi pada anak maupun dewasa. Apabila mengidap sejak kanak-anak, maka akan berlanjut sampai dia dewasa dan harus rutin minum obat. Rizky menjelaskan, hipertensi paru termasuk penyakit yang jarang ditemukan. Berdasarkan Pedoman Diagnosis dan Tata Laksana Hipertensi Pulmonal Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia pada 2021 menunjukkan, angka prevalensi penyakit hipertensi paru di seluruh dunia sebesar 20 sampai 70 juta orang dari total populasi dunia sekitar 7,7 miliar orang.

Rizky mengatakan, ada dua sebab terjadinya hipertensi paru. Pertama penyebab primer yang belum diketahui hingga saat ini. Kedua, penyebab sekunder yang bisa menjadi implikasi dari penyakit jantung bawaan, penyakit paru, dan multi-faktor. Salah satu yang harus diwaspadai dari penyakit hipertensi paru adalah tidak ada gejala yang khas.

Sebab itu, menurut Rizky, terkadang orang salah dalam mendeteksinya. Gejala hipertensi paru meliputi:

  • Sesak napas saat beraktivitas
  • Mudah lelah
  • Lemas
  • Nyeri dada
  • Pusing
  • Hilang kesadaran atau pingsan
  • Terkadang disertai batuk
  • Hemoptisis atau batuk berdarah dari saluran pernapasan
  • Sindrom Ortner atau suara serak dari pita suara
  • Aritmia atau gangguan irama jantung

Dengan gejala yang belum spesifik, menurut Rizky, masih terjadi kekeliruan dalam mendeteksi karena menduga pasien terkena Tuberkulosis (TBC) atau asma. "Jika tidak ditangani dengan cepat dan tepat, hipertensi paru dapat menyebabkan munculnya komplikasi dan bisa berakibat fatal hingga menyebabkan kegagalan fungsi paru dan jantung," katanya.

Webinar Pfizer Media Health Forum "Kenali Gejala Hipertensi Paru pada Anak dan Cara Penanganannya" pada Kamis, 10 Maret 2022. Dok. Pfizer

Untuk mengetahui apakah seseorang mengidap penyakit hipertensi paru atau tidak, pakar Kardiologi Anak dan Penyakit Jantung Bawaan dari Rumah Sakit Jantung Harapan Kita Jakarta, dokter spesialis jantung Radityo Prakoso menyampaikan apa saja pemeriksaan yang perlu dilakukan.

  • Anamnesis atau pemeriksaan riwayat kesehatan secara rinci
  • Pemeriksaan fisik
  • Pemeriksaan laboratorium
  • Elektrokardiogram
  • Ekokardiografi
  • Saturasi oksigen perifer
  • Rontgen dada
  • USG jantung

Setelah terdiagnosa pasien mengalami hipertensi paru, maka ada beberapa proses perawatan yang harus dijalani.

  • Pasien mendapatkan perawatan di pusat pelayanan pesanana yang memiliki spesialis jantung
  • Edukasi pasien, kewaspadaan terhadap risiko yang potensial, komplikasi, dan modifikasi kebiasaan.
  • Tidak olahraga berlebihan, namun tetap penting melakukan olahraga ringan
  • Menjalani terapi obat
  • Terapi bedah
Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

"Proses perawatan yang tepat diharapkan dapat memperlambat progresi penyakit atau bahkan mengembalikan fungsi jantung dan paru ke pada posisi normal, meskipun hipertensi paru cenderung tidak dapat disembuhkan," kata Radityo Prakoso. "Pasien yang terdiagnosa hipertensi paru memerlukan pengobatan dalam jangka waktu lama, bahkan seumur hidup."

Ketua Yayasan Hipertensi Paru Indonesia atau YHPI, Arni Rismayanti mengatakan, saat ini kasus penyakit hipertensi paru di Indonesia paling banyak ditemukan pada pasien yang mengalami penyakit jantung bawaan akibat keterlambatan diagnosa atau tidak dikoreksi sejak dini. "Keterlambatan penanganan hipertensi paru pada kasus penyakit jantung bawaan bisa menyebabkan pasien tidak dapat dikoreksi lagi seumur hidup," ujarnya.

Direktur PT Pfizer Indonesia - Upjohn Division, Satria Surjati berharap masyarakat lebih memahami dan mawas diri terhadap penyakit hipertensi paru, terutama pada anak. "Pentingnya pengetahuan akan penyakit hipertensi paru agar segera terdeteksi dan mendapatkan penanganan yang cepat dan tepat untuk menghindari komplikasi fatal," ujarnya.

Baca juga:
Dokter Ungkap Kaitan Obat Pelangsing dan Hipertensi Paru

Selalu update info terkini. Simak breaking news dan berita pilihan dari Tempo.co di kanal Telegram “Tempo.co Update”. Klik Tempo.co Update untuk bergabung. Anda perlu meng-install aplikasi Telegram lebih dulu.

Iklan




Rekomendasi Artikel

Konten sponsor pada widget ini merupakan konten yang dibuat dan ditampilkan pihak ketiga, bukan redaksi Tempo. Tidak ada aktivitas jurnalistik dalam pembuatan konten ini.




Video Pilihan


Dampak Penyakit Paru Obstruktif Kronis pada Penderita, Kualitas Hidup Turun

11 jam lalu

ilustrasi sesak napas. shutterstock.com
Dampak Penyakit Paru Obstruktif Kronis pada Penderita, Kualitas Hidup Turun

Dokter mengingatkan penyakit paru obstruktif kronis dapat berdampak pada penurunan kualitas hidup penderita.


Waspada 7 Hal Ini Agar Asma Tidak Kambuh

19 hari lalu

Ilustrasi anak asma. Pexel/Cottonbro
Waspada 7 Hal Ini Agar Asma Tidak Kambuh

Dokter ingatkan cara mencegah asma kambuh. Salah satunya, menjaga lingkungan yang sehat.


Awas, Batuk Kronis Berulang pada Anak Bisa Jadi Gejala Asma

23 hari lalu

Gejala sesak napas pada anak.
Awas, Batuk Kronis Berulang pada Anak Bisa Jadi Gejala Asma

Orang tua harus mewaspadai anak yang batuk kronis berulang sebab bisa jadi itu gejala asma. Ini yang perlu dilakukan.


Asap Dapur Hingga Tungau Debu Bisa Jadi Alergen Hidup Pemicu Munculkan Asma

24 hari lalu

Ilustrasi anak asma. Pexel/Cottonbro
Asap Dapur Hingga Tungau Debu Bisa Jadi Alergen Hidup Pemicu Munculkan Asma

Pemicu alergi yang bisa menyebabkan munculnya asma di antaranya adalah asap kendaraan bermotor, asap dapur, asap pembakaran sampah, hingga tungau.


Anak dengan Orang Tua Perokok Bisa 4 Kali Lebih Tinggi Alami Gangguan Pernapasan

24 hari lalu

Ilustrasi rokok, stop smoking, no smoking
Anak dengan Orang Tua Perokok Bisa 4 Kali Lebih Tinggi Alami Gangguan Pernapasan

Walaupun orang tua perokok mengaku tidak merokok di depan anak, namun partikel asap rokok dapat menempel di meja, sofa, atau menempel di tembok.


Aneka Mitos soal Asma, Dokter Ungkap Faktanya

26 hari lalu

Bersepeda santai adalah salah satu olahraga yang bisa dipilih para penderita penyakit asma. (Pexels/Andrea Piacquadio)
Aneka Mitos soal Asma, Dokter Ungkap Faktanya

Kurangnya kajian soal penyakit asma malah menimbulkan banyak mitos dalam masyarakat. Lalu, bagaimana faktanya?


Vaksin IndoVac dari Bio Farma Kantongi EUA untuk Booster Pfizer

26 hari lalu

Petugas kesehatan menunjukan vaksin Covid-19 Indovac saat pelaksanaan vaksin dosis 1 di Bio Farma, Bandung, Kamis, 13 Oktober 2022. Setelah mendapat sertifikasi emergency use authorization, penyuntikan perdana vaksin Covid-19 buatan Indonesia ini  diberikan pada 15 warga masyarakat. TEMPO/Prima mulia
Vaksin IndoVac dari Bio Farma Kantongi EUA untuk Booster Pfizer

Sebelumnya, Bio Farma telah mendapatkan EUA vaksin IndoVac sebagai booster Sinovac dan AstraZeneca.


Hari Asma Sedunia, Hindarkan Penderita Anak dari Pemicunya

26 hari lalu

ilustrasi anak sesak napas
Hari Asma Sedunia, Hindarkan Penderita Anak dari Pemicunya

Di Hari Asma Sedunia ini, penting untuk mengetahui pemicu dan gejala asma pada anak agar bisa segera dilakukan tindakan dan pencegahan.


Pelaku Penyerangan Kantor MUI Pusat Punya Riwayat Penyakit Jantung dan Asma

27 hari lalu

Petugas inafis melakukan oleh TKP penembakan di kantor MUI Pusat, Jakarta, Selasa, 2 Mei 2023. Pelaku berinisial M diketahui berdomisili di Lampung, usianya sekitar 60 tahun. TEMPO/Febri Angga Palguna
Pelaku Penyerangan Kantor MUI Pusat Punya Riwayat Penyakit Jantung dan Asma

Hengki Haryadi menuturkan pihaknya juga bekerja sama dengan Polda Lampung menyelidiki penembakan di kantor MUI Pusat.


Tolak Tinggal di Rumah Adik Kandung, Pria Lumpuh Dibuang di Tangerang Pilih Rumah Singgah

30 hari lalu

Petugas mengevakuasi seorang pria lumpuh yang dibuang di pinggir jalan di Tangerang, Rabu, 26 April 2023. Seorang pria dalam kondisi lumpuh ditemukan di pinggir Jalan Palem Manis Kampung Dumpit  Kelurahan Gandasari, Kecamatan Jatiuwung, Kota Tangerang. Foto: Polres Tangerang Kota
Tolak Tinggal di Rumah Adik Kandung, Pria Lumpuh Dibuang di Tangerang Pilih Rumah Singgah

Setelah lima hari dirawat di RSUD Kota Tangerang, kondisi Toto Daryanto, pria lumpuh dibuang di pinggir jalan di Tangerang semakin membaik.