Lupa Kata Sandi? Klik di Sini

atau Masuk melalui

Belum Memiliki Akun Daftar di Sini


atau Daftar melalui

Sudah Memiliki Akun Masuk di Sini

Konfirmasi Email

Kami telah mengirimkan link aktivasi melalui email ke rudihamdani@gmail.com.

Klik link aktivasi dan dapatkan akses membaca 2 artikel gratis non Laput di koran dan Majalah Tempo

Jika Anda tidak menerima email,
Kirimkan Lagi Sekarang

Selain Gigi Bolong, Ini Masalah Kesehatan yang Bisa Dideteksi dengan Cek ke Dokter Gigi Rutin

Reporter

Editor

Mitra Tarigan

image-gnews
Ilustrasi pria periksa gigi. shutterstock.com
Ilustrasi pria periksa gigi. shutterstock.com
Iklan

TEMPO.CO, Jakarta - Sebagai rongga pertama dari saluran pencernaan, mulut dapat menjadi pintu masuk bakteri penyebab penyakit. Namun, jika Anda dapat merawat kesehatan gigi dan mulut dengan baik, maka hal itu dapat meminimalisir masuknya bakteri berbahaya tersebut.

Hal itu disampaikan oleh dokter gigi dari Klinik Rata drg. Gita. "Mulut itu adalah rongga pertama. Jadi kalau misalnya Anda ada masalah pencernaan, dari pemeriksaan gigi dan mulut itu biasanya dokter gigi akan tahu kesehatan sistemiknya seperti apa," ujar Gita.

Gita melanjutkan, ada beberapa kondisi kesehatan yang dapat dideteksi melalui pemeriksaan rongga mulut seperti kekurangan asupan vitamin, HIV, hingga autoimun. "Misalnya sariawan, oh ternyata dia defisiensi, ada vitamin yang kurang atau ada faktor hormonal. Bahkan sesimpel penyakit sistemik kayak HIV bisa dideteksi dari rongga mulut," kata Gita.

"Biasanya orang-orang dengan gangguan autoimun, itu pasti gampang berjamur rongga mulutnya dan itu jarang ditemukan dengan orang yang tidak memiliki penyakit itu. Jadi karena dia rongga pertama, sudah pasti kita bisa melihat banyak hal di situ," kata dia.

Masalah yang muncul 

Gita kemudian menjelaskan mengenai beberapa masalah yang dapat muncul jika kurang merawat gigi dan mulut. Menumpuknya karang gigi, misalnya, akan menyebabkan gingivitis atau radang gusi dan halitosis atau bau mulut.

Menurut Gita, karang gigi merupakan endapan sisa makanan yang termineralisasi karena bercampur dengan air liur dan bakteri di dalam mulut. Oleh karena itu, karang gigi sebenarnya pasti akan terbentuk selama ada saliva atau air liur. "Misalnya saat ngopi, ngeteh, atau merokok, pasti tercampur sama steam, makanya jadi cokelat. Itu biasanya karena air liur yang mengeras dan menempel di antara gusi dan gigi," kata Gita.

Jika dibiarkan terus menerus, Gita mengatakan bahwa selain menyebabkan radang gusi dan bau mulut, menumpuknya karang gigi juga dapat membuat gigi goyang atau berlubang. "Misalnya gusi diisi oleh karang gigi maka dia enggak bisa sempurna saat menyangga gigi, jadi giginya goyang. Atau bisa juga karena dia menutupi permukaan gigi, jadinya enggak sadar kalau ternyata di dalamnya itu bakteri lagi makanin sehingga giginya berlubang," kata Gita.

Bicara soal gigi berlubang, menurut Gita, beberapa orang sengaja membiarkan kondisi tersebut karena merasa tak ada keluhan apapun. Namun, jika dibiarkan, kondisi tersebut akan membuat gigi menjadi sangat sensitif yang bisa sampai mengganggu waktu istirahat. "Kalau dibiarin terus lubangnya karena merasa enggak ada keluhan, itu bisa dalam loh sampai penetrasi ke dalam saraf. Kalau sudah penetrasi ke saraf, udah mulai merasa ngilu kalau minum dingin," ujar Gita.

"Sudah merasa begitu tapi tetap dicuekin, eh lama kelamaan enggak ngapa-ngapain juga sakit, bahkan sampai mengganggu waktu tidur," sambungnya.

Jika hal tersebut sudah terjadi, Gita mengatakan pasien harus menjalani perawatan saluran akar. Namun, jika masih dibiarkan juga, lama kelamaan muncul nanah di ujung akar yang akan menyebar ke gigi lain. "Atau mungkin giginya sudah enggak bisa dirawat, enggak bisa ditambal lagi tapi sudah harus dicabut," kata Gita.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Selain karang gigi dan gigi berlubang, gigi kuning juga menjadi salah satu masalah yang sering dihadapi oleh banyak orang. Menurut Gita, gigi kuning bisa disebabkan banyak faktor seperti gaya hidup yang tidak sehat karena terlalu banyak mengonsumsi makanan atau minuman yang berwarna pekat, termasuk kopi dan teh.

Gigi kuning juga bisa disebabkan faktor genetik. Selain itu, bisa juga karena saat masih dalam kandungan, ibu terlalu banyak minum antibiotik. Tak hanya menyebabkan masalah di rongga mulut, kurangnya merawat gigi dan mulut juga dikatakan Gita dapat mempengaruhi masalah kesehatan lainnya. "Kita sering melihat bahwa bakteri yang ada di penyakit jantung itu juga ada di gigi. Makanya sebelum operasi besar, biasanya harus pastikan gigi pasien bersih dulu," ujar Gita.

"Saya juga pernah dapat rujukan pasien hamil gatal-gatal, pas dilihat ternyata ada sisa akar gigi yang enggak dicabut dan jadi sumber infeksi," lanjutnya.

Tips perawatan gigi dan mulut

Agar rongga mulut dapat terawat dengan baik, Gita mengatakan hal utama yang tak boleh terlewatkan adalah menyikat gigi dua kali sehari yakni setiap habis sarapan dan sebelum tidur. Saat menyikat gigi, pastikan sikat gigi yang digunakan memiliki bulu sikat yang lembut dan tipis sehingga bisa masuk ke sela-sela gigi. Adapun cara menyikat gigi yang benar adalah dengan gerakan "merah-putih" atau dari gusi ke gigi.

"Harus merah-putih. Karena gusi itu ada naik turunnya jadi jangan dihajar horizontal. Jadi harus dari gusi kemudian sikat ke arah bawah jika menyikat gigi bagian atas, dan sebaliknya. Jadi gusinya ikut kesikat tapi dengan arah yang benar," ujar Gita.

"Dua menit cukup. Semua permukaan harus tersikat dengan baik dengan pasta gigi sebesar biji jagung," lanjut dia.

Gita juga menyarankan untuk mengurangi penggunaan tusuk gigi dan ganti dengan dental floss atau benang gigi. Hal itu, kata dia, guna mencegah luka yang dapat menyebabkan infeksi pada gusi. Selain itu, bagi Anda yang tak bisa lepas dari minum kopi dan teh setiap harinya, Gita menyarankan untuk minum menggunakan sedotan agar cairan tidak langsung mengenai gigi sehingga warnanya tetap terjaga. "Kalau enggak pakai sedotan kan nanti giginya terendam, jadi gampang kuning. Kemudian misal makan sesuatu yang berwarna gitu, pastikan selalu kumur air putih setelahnya," ujar Gita.

Tak lupa, Gita juga menyarankan untuk periksa gigi secara rutin enam bulan sekali untuk menghindari masalah kesehatan gigi dan mulut. "Enam bulan itu biasanya mulai ada pembentukan karang gigi, lalu lubang yang tadinya di email mulai masuk ke dentin. Orang dewasa, anak kecil, semua tetap enam bulan sekali harus ke dokter gigi," kata Gita.

Baca: Waktu Tepat Ajak Anak ke Dokter Gigi Pertama

Iklan



Rekomendasi Artikel

Konten sponsor pada widget ini merupakan konten yang dibuat dan ditampilkan pihak ketiga, bukan redaksi Tempo. Tidak ada aktivitas jurnalistik dalam pembuatan konten ini.

 

Video Pilihan


Benarkah GERD Bisa Sebabkan Gigi Berlubang?

7 jam lalu

Ilustrasi gerd. Pexels/Cottonbro
Benarkah GERD Bisa Sebabkan Gigi Berlubang?

GERD diketahui dapat menyebabkan erosi gigi seiring berjalannya waktu. Berikut langkah-langkah untuk mengurangi efek asam lambung pada gigi.


Pasien HIV Tertutup dengan Statusnya, Tantangan Tersulit Tenaga Kesehatan Berikan Layanan

1 hari lalu

Media briefing Peringatan Hari AIDS Sedunia Tahun 2023 ''Bergerak Bersama Komunitas, Akhiri AIDS 2030
Pasien HIV Tertutup dengan Statusnya, Tantangan Tersulit Tenaga Kesehatan Berikan Layanan

Orang dengan HIV diharapkan tidak menutup status kesehatannya. Tenaga kesehatan dan komunitas bisa mendampingi mereka demi kualitas hidup yang baik.


Anak Terinfeksi HIV, 90 Persen Transmisi dari Ibu

5 hari lalu

Ilustrasi HIV/AIDS. ANTARA/Aditya Pradana Putra
Anak Terinfeksi HIV, 90 Persen Transmisi dari Ibu

Meski persentasenya hanya 3 persen, pakar mengatakan jumlah anak dengan HIV mencapai sekitar 15 ribu, 90 persen transmisi infeksi dari ibu ke bayi.


7 Peringatan Awal Tubuh Terinfeksi HIV

8 hari lalu

Ilustrasi pemeriksaan HIV. ANTARA/Zabur Karuru
7 Peringatan Awal Tubuh Terinfeksi HIV

Berikut gejala yang harus diwaspadai mungkin Anda terinfeksi HIV dan mungkin disangka hanya flu biasa.


Pahami Gejala HIV/AIDS Melalui Fase Infeksi Sebelum Berkembang Menjadi AIDS

9 hari lalu

Ilustrasi AIDS. Shutterstock
Pahami Gejala HIV/AIDS Melalui Fase Infeksi Sebelum Berkembang Menjadi AIDS

HIV atau Human Immunodeficiency Virus adalah infeksi yang menyerang sistem kekebalan tubuh. Tahap paling lanjut dari penyakit ini disebut AIDS.


Kenali Cara Penularan HIV/AIDS, Apakah Bisa Akibat Berpelukan?

9 hari lalu

Peserta aksi memegang poster saat mengikuti aksi peringatan Hari AIDS sedunia di Lapangan Vatulemo, Palu, Sulawesi Tengah, Ahad, 1 Desember 2019. Peringatan ini digelar Kelompok Dukungan Sebaya (KDS) bagi ODHA, Komunitas Maleo serta Dinas Kesehatan setempat tersebut mengajak masyarakat untuk lebih peduli terhadap penderita HIV/AIDS. ANTARA/Mohamad Hamzah
Kenali Cara Penularan HIV/AIDS, Apakah Bisa Akibat Berpelukan?

Memperingati Hari AIDS Sedunia, kenali kembali penyebab penularan virus HIV/AIDS ini dan hal apa saja yang tidak menularkannya.


10 Selebritas Meninggal Akibat HIV/AIDS Termasuk Freddie Mercury dan Tommy Morrison

9 hari lalu

Freddy Mercury
10 Selebritas Meninggal Akibat HIV/AIDS Termasuk Freddie Mercury dan Tommy Morrison

HIV/AIDS menyerang 10 selebritas dunia ini antara lain vokalis Queen Freddie Mercury, petinju Tommy Morrison dan aktor Rock Hudson.


Hari AIDS Sedunia 2023 Usung Tema: End Inequalities. End AIDS. End Pandemic

9 hari lalu

Anggota Komunitas Literasa Kolektif menggelar aksi ekperimen sosial Hari AIDS Sedunia di lokasi kegiatan Hari Bebas Kendaraan Bermotor atau Car Free Day (CFD) Solo, Jawa Tengah, Ahad, 1 Desember 2019. Aksi tersebut untuk memberikan edukasi bahwa para penyandang AIDS butuh perhatian dan simpati dari masyarakat. ANTARA/Maulana Surya
Hari AIDS Sedunia 2023 Usung Tema: End Inequalities. End AIDS. End Pandemic

1 Desember diperingati sebagai Hari AIDS Sedunia. Kenali bagaimana kisah awalnya peringatan ini dicanangkan.


Hari AIDS Sedunia, Waspadai Penularan HIV/AIDS dari Ibu ke Anak

10 hari lalu

Ilustrasi AIDS. Shutterstock
Hari AIDS Sedunia, Waspadai Penularan HIV/AIDS dari Ibu ke Anak

Hari AIDS Sedunia diperingati setiap 1 Desember. Kemenkes mencatat kasus HIV pada anak berusia di bawah 4 tahun dengan jumlah 1,9 persen.


Hari AIDS Sedunia, Berikut 10 Rekomendasi PB IDI untuk Penanganan HIV/AIDS

10 hari lalu

Ilustrasi HIV/AIDS. ANTARA/Aditya Pradana Putra
Hari AIDS Sedunia, Berikut 10 Rekomendasi PB IDI untuk Penanganan HIV/AIDS

Menyambut Hari AIDS Sedunia, PB IDI memberi 10 rekomendasi penanganan HIV/AIDS di Indonesia agar lebih efektif dan efisien.