Manfaat Senyum bagi Kesehatan  

Sabtu, 04 Agustus 2012 | 12:37 WIB
Manfaat Senyum bagi Kesehatan  
Seorang wanita tersenyum saat ia mengenakan karangan bunga dalam festival Ivan Kupala di kota Turov, selatan Minsk, Belarus, Jumat (6/7). Festival tradisional ini merayakan titik balik matahari musim panas dengan perayaan semalam suntuk seperti bernyanyi, menari sebelum melompati api unggun, campfires, karena mereka percaya hal itu akan membersihkan mereka dari dosa-dosa mereka dan membuat mereka lebih sehat. REUTERS/Vasily Fedosenko

TEMPO.CO, Jakarta - Menahan rasa sakit tanpa mengeluh bisa membantu kita mengatasi masalah. Namun para ilmuwan menemukan bahwa tersenyum juga bisa membantu menurunkan kadar stres dan meningkatkan kesehatan jantung kita.

Sebuah riset di University of Kansas meneliti potensi keuntungan dari tersenyum dengan melihat berbagai jenis senyum dan kepedulian terhadap senyuman. Hal itu bisa mempengaruhi kemampuan seseorang untuk mengatasi stres yang dihadapinya.

“Peribahasa lama mengatakan, 'tahanlah rasa sakit tanpa mengeluh', telah menunjukkan bahwa tersenyum tidak hanya penting untuk indikator kebahagiaan nonverbal, tetapi juga menjanjikan obat bagi semua jenis masalah yang membuat stres,” kata ketua penulis, Tara Kraft, seperti dikutip Daily Mail.

“Kami meneliti apakah peribahasa ini mempunyai efek ilmiah, yakni apakah tersenyum benar-benar memiliki hubungan dengan kesehatan.” Hasil penelitian menunjukkan bahwa tersenyum memang berpengaruh pada pernyataan fisik kita.

Secara umum, senyum dibagi menjadi dua kategori, senyum standar, yang menggunakan otot-otot di sekitar mulut, dan senyum asli atau senyum Duchenne, yang melibatkan otot-otot di sekitar mulut dan mata.

Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa emosi positif bisa membantu selama masa stres dan bahwa tersenyum bisa mempengaruhinya. Namun hasil penelitian dari Kraft dan Pressman ini adalah yang pertama kalinya meneliti jenis senyum seseorang guna mengetahui dampak senyum pada kadar stres.

Untuk penelitian tersebut, para ilmuwan merekrut 169 partisipan dari Midwestern University. Riset ini dilakukan dalam dua tahap, yaitu latihan dan pengujian. Dalam latihan, partisipan dibagi menjadi tiga kelompok dan dilatih melakukan berbagai jenis ekspresi wajah. Pada tahap pengujian, partisipan diminta untuk melakukan berbagai aktivitas sekaligus, yang tidak mereka ketahui akan membuat stres.

DAILY MAIL | ARBA’IYAH SATRIANI


Berita Terpopuler Lainnya
Macaulay Culkin Hidupnya Tinggal 6 Bulan?
Dituding Sebarkan Foto Luna Maya Mabuk, Tyas Kaget
Seno Gumira Tolak Penghargaan Bakrie

Lika-liku Noah Jadi Nama Pengganti Peterpan

d''Masiv Mewakili MTV Asia

Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi tempo.co. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan