Selasa, 11 Desember 2018

Pendiri Roti Bakar Eddy Meninggal, Diusir Kamtib Hingga ke Istana

Reporter:
Editor:

Mitra Tarigan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • suasana tempat Roti Bakar Eddy (rotibakareddy.com).jpg

    suasana tempat Roti Bakar Eddy (rotibakareddy.com).jpg

    TEMPO.CO, Jakarta - Pendiri Roti Bakar Eddy, Eddy Supardi, meninggal dunia. Kabar itu dikonfirmasi dari anak Eddy, Risdianti Edi Supardi (Risdy) melalui akun instagramnya @risdiantiedi. "Innalillahi wa inna ilaihi rojiun ..... Selamat jalan Bapak," tulisnya sekitar pukul 20.00 pada 10 Oktober 2018.

    Baca: Menu Roti Bakar Eddy yang Siap Memanjakan Lidah, Apa Saja?

    Usaha Roti Bakar Eddy pernah ditulis Tempo pada 2005. Saat itu, sudah banyak terlihat deretan mobil mentereng berjejer rapi di persimpangan Jalan Raden Patah dekat Departemen Pekerjaan Umum. Tak jauh dari tempat itu, puluhan kaum muda sudah berkumpul menyebar di warung-warung tenda yang ada di sana.

    Bangga bisa bertemu dengan "orang gedean", demikian yang terbenam dalam benak Eddy Supardi kepada Tempo 13 tahun lalu. Bayangkan saja, laki-laki ini tidak mengenyam pendidikan tinggi dan hanya berprofesi sebagai pedagang kaki lima, tapi warung tendanya kerap dikunjungi artis, bahkan pejabat. Sejak awal Eddy berjualan roti bakar, mayoritas pengunjungnya memang kaum muda.

    Ucapan duka untuk Eddy Supardi, pemilik Roti Bakar Edi. Instagram.com/@Risdiantiedi

    Pria ini tidak hanya meracik roti bakar pesanan pengunjung, tetapi dia juga ramah. Dengan keramahannya, Eddy juga membiarkan mereka ngumpul-ngumpul sambil memasang musik keras-keras. Namun, keramahan kepada pengunjung mudanya pernah mendatangkan kesulitan baginya sendiri. Warga di sekitar tempat dia berjualan protes. Tak jarang Eddy pun harus berurusan dengan petugas keamanan. "Saya diusir aparat Kamtib. Saya pindah tempat, diusir lagi, pindah lagi, begitu terus hingga 13 kali pindah," ujarnya mengenang.

    Uniknya, ke mana pun Eddy pindah berjualan, pelanggan setianya dari kalangan muda tetap banyak. Eddy sepertinya memang sudah disukai banyak "anak gaul" yang memiliki latar belakang sosial tinggi. Pada 1980-an, warung tendanya menjadi tempat pembalap otomotif ternama berkumpul. "Habis balapan, biasanya mereka datang untuk sekadar ketemuan," ujar Eddy.

    Dia bahkan pernah diajak para pembalap mensponsori sebuah acara balap mobil di Sentul. Berbeda dengan sponsor lainnya, nama Roti Bakar Eddy dicantumkan pada spanduk tanpa membayar sepeser pun hingga sempat mengundang protes sponsor lainnya. "Mereka yang nyuruh, kok," tuturnya.

    Selain bisa nebeng nama di arena olahraga bergengsi, ada satu hal yang membuat Eddy juga cukup bangga. Pada 2004, masakannya dipakai sebagai hidangan dalam sebuah acara di Istana Bogor. Saat ini dalam event musik di beberapa kampus, Eddy sering diajak menjajakan roti bakar khasnya.

    Baca: Pemilik Roti Bakar Eddy Meninggal, Intip Perjuangannya di Jakarta

    Hingga 2018 ini, usaha Roti Bakar Eddy sudah memiliki 9 buah cabang. Roti Bakar Eddy tersedia di Blok M, Tanah Abang, Ciledug, Pondok Pucung, Haji Nawi, Pondok Gede, Lenteng Agung, Margonda, dan Cibubur. Usaha Roti Bakar Eddy pun saat ini dikelola oleh anak-anak Eddy.

    KHAIRUNNISA | ROTIBAKAREDDY.COM


     

     

    Lihat Juga


    Selengkapnya
    Grafis

    Peringkat Indonesia dalam Indeks Persepsi Korupsi 1995 - 2017

    Sejak kehadiran KPK pada 2002, skor Indeks Persepsi Korupsi Indonesia hingga 2017 menanjak 18 poin yang berarti ada di peringkat 96 dari 180 negara.