Senin, 17 Desember 2018

Survei Gaji 2019, Sektor Ini Diprediksi Naik Gaji

Reporter:
Editor:

Mitra Tarigan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi negosiasi gaji. Shutterstock.com

    Ilustrasi negosiasi gaji. Shutterstock.com

    TEMPO.CO, Jakarta - Perusahaan konsultan spesialis perekrutan profesional global, Robert Walters, baru-baru ini menerbitkan Survei Gaji 2019, yang memprediksi peluang dan besaran kenaikan gaji untuk delapan sektor. Dalam survei tersebut, pasar tenaga kerja di Indonesia untuk tenaga profesional di level manajerial menengah ke atas, akan sangat kompetitif.

    Baca: 4 Cara Latihan Keuangan Anak, Coba Bicarakan Gaji

    Menurut Manajer Perbankan dan Jasa Keuangan Robert Walter Indonesia, Ricky Chandra, digitalisasi akan meningkatkan permintaan terhadap kandidat yang berpengalaman menghadapi perubahan akibat digitalisasi. "Sehingga dia menjadi familiar dan menguasai manajemen perubahannya," ucapnya.

    Beberapa sektor yang akan berjalan cukup kompetitif adalah sektor sumber daya manusia (HRD). Permintaan akan talenta berkaliber tinggi dengan pengalaman di seluruh spektrum SDM, mengetahui kebutuhan organisasi di era digitalisasi, jadi kian tinggi pada tahun mendatang. "Karena adanya pertumbuhan start-up yang pesat dan mengandalkan dunia digital, serta adanya kebutuhan perusahaan yang sudah mapan untuk menyikapi digitalisasi yang melanda semua sektor," ujar Ricky.

    Talenta yang berkutat dalam sektor HRD atau SDM ini dapat mengharapkan kenaikan gaji 20-30 persen. Angka ini berlaku pula untuk talenta berlatar belakang hukum. Menurut dia, start-up yang sedang mencari pendanaan melalui cara initial public offering (IPO), merger, dan akuisisi akan membutuhkan talenta andal di bidang hukum. "Konsultan hukum yang melek teknologi akan terus diminati perusahaan di hampir semua sektor karena saat ini sudah ada peralihan kontrak dari berbasis kertas ke elektronik, dan beragam pengurusan izin bisnis berbasis teknologi online," ucap Ricky.

    Baca: Gaji Ekspatriat di Indonesia Termasuk 10 Tertinggi di Dunia

    Kenaikan gaji rata-rata 20 persen juga akan terjadi di sektor penjualan dan pemasaran. "Kandidat lokal dengan pengalaman luar negeri sangat diminati," tutur dia. Kandidat atau talenta tersebut juga harus memiliki keahlian digital, keterampilan komunikasi yang baik dan efisien, serta memiliki kombinasi kemampuan strategis dan operasional. "Mayoritas peran diharapkan untuk memimpin divisi e-commerce baru di perusahaan sebagai hasil dari restrukturisasi organisasi," katanya.

    Menurut Toby Fowlston, Managing Director Robert Walters untuk Asia Tenggara, Indonesia termasuk salah satu negara pemain utama pada era digital di kawasan ini. "Masuknya perusahaan multinasional dan investasi asing secara berkelanjutan merupakan pendorong utama pertumbuhan di pasar tenaga kerja di level ini. Kami melihat persaingan yang ketat untuk bakat yang terampil dan berpengalaman," ujarnya.

    Dalam survei yang melibatkan kandidat dan perusahaan tersebut, terdapat tren yang khas. Di sisi perusahaan, mereka mencari talenta yang memiliki keterampilan digital dan teknologi, menguasai manajemen perubahan yang ditimbulkan, dwibahasa aktif, dan memiliki pengalaman internasional. Sementara itu, para talenta mengharapkan kenaikan gaji lebih dari 10 persen dengan sejumlah keuntungan lain, seperti eksposur ke luar negeri, jenjang karier yang pasti, kursus bisnis profesional, atau pertukaran pekerjaan.

    Baca: Gaji Pilot Benar Rp 3,7 Juta? Ini 4 Profesi dengan Gaji Tinggi

    Adapun riset lain yang dilakukan Willis Tower Watson menunjukkan pekerja di India menempati posisi tertinggi ihwal kenaikan gaji di Asia-Pasifik dengan rata-rata 10 persen di seluruh sektor. Khusus di Asia Tenggara, Indonesia merupakan negara dengan proyeksi kenaikan gaji tertinggi, yakni 8,3 persen, meninggalkan Singapura, Malaysia, dan Filipina, yang rata-rata kenaikan gajinya diproyeksikan sebesar 4-6 persen.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Fintech Lending, Marak Pengutang dan Pemberi Utang

    Jumlah lender dan borrower untuk layanan fintech lending secara peer to peer juga terus bertumbuh namun jumlah keduanya belum seimbang.