Takut Jujur, Bagaimana Seorang LGBT Mengakui Identitasnya?

Reporter:
Editor:

Mila Novita

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Anggota komunitas LGBT Thailand mengikuti Pawai Hari Kebebasan Gay di Bangkok, Thailand, Kamis, 29 November 2018. Hukum Thailand saat ini tidak mengakui pernikahan sesama jenis. REUTERS/Soe Zeya Tun

    Anggota komunitas LGBT Thailand mengikuti Pawai Hari Kebebasan Gay di Bangkok, Thailand, Kamis, 29 November 2018. Hukum Thailand saat ini tidak mengakui pernikahan sesama jenis. REUTERS/Soe Zeya Tun

    TEMPO.CO, Jakarta - Para lesbian, gay, biseksual, dan transgender (LGBT) punya cara khusus untuk mengungkapkan identitas kepada keluarga, disebut dengan melela. Di laman melela.org, disebutkan bahwa kata tersebut pernah digunakan Pramoedya Ananta Toer dalam novel berjudul Bukan Pasar Malam. Melela berarti menunjukkan diri dengan cara yang elok. Ini bisa dipadankan dengan “coming out”, saat LGBT membuka diri pada lingkungannya.

    Baca juga: Sulitnya LGBT Ungkapkan Jati Diri

    Menurut Advokat dan Analis Kebijakan komunitas LGBT Arus Pelangi Riska Carolina, melela biasanya dilakukan setelah mengenali jati diri. Riska sendiri mengaku butuh 21 tahun untuk meyakinkan dirinya adalah seorang lesbian.

    Setelah yakin, perlu juga dipikirkan konsekuensi yang ada di depan mata. Menurut Riska, tantangannya tidak mudah, apalagi di tengah masyarakat yang umumnya belum menerima keberadaan LGBT. Sekali lagi, perlu keyakinan kuat untuk bisa menghadapi bahwa tantangan itu bisa dihadapi.

    Ada banyak cara yang dilakukan LGBT untuk mengungkapkan identitas kepada keluarga. Riska, misalnya, membuat sebuah presentasi PowerPoint yang cukup lengkap. Awalnya, Riska menjelaskan tentang LGBT kepada orang tua dan kakaknya, sebelum akhirnya memberi tahu jati dirinya.

    “Cara saya memang seperti itu. Tapi, LGBT juga dapat menjelaskan kepada orang tua secara langsung tanpa harus repot-repot dengan PowerPoint. Yang penting dapat dipahami,” kata Riska kepada Tempo.co, Jumat, 11 Januari 2019. 

    Setelah itu, kata Riska, perlu dipikirkan langkah berikutnya. Riska lalu memberi tahu secara jelas dan terperinci. “Jika orang tua sayang, pasti mereka akan menerima apa adanya,” kata dia.

    Riska juga menjelaskan bahwa tidak sedikit orang yang setelah melela, lalu depresi dan bunuh diri. Oleh karena itu, mereka yang memiliki jati diri sebagai LGBT harus kuat mental dan tidak gampang jatuh.

    Baca juga: Tilik Penyebab Maraknya LGBT, Waspada HIV/AIDS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Klaim Sandiaga Uno Soal Tenaga Kerja Asing Tak Sebutkan Angka

    Sandiaga Uno tak menyebutkan jumlah Tenaga Kerja Asing dalam debat cawapres pada 17 Maret 2019. Begini rinciannya menurut Kementerian Ketenagakerjaan.