Ini Sebab Orang Tua Tak Dianjurkan Sering Belikan Anak Mainan

Reporter:
Editor:

Mila Novita

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi anak-anak dan mainan. Shutterstock.com

    Ilustrasi anak-anak dan mainan. Shutterstock.com

    TEMPO.CO, Jakarta - Mainan dapat membantu anak dalam proses tumbuh kembangnya. Tapi, anak tak selalu membutuhkan mainan saat bermain. Tanpa mainan, mereka justru memiliki kesempatan lebih banyak untuk mencari tahu lingkungannya. Itu sebabnya, orang tua tak dianjurkan membelikan mereka terlalu banyak mainan.

    Baca juga: Ingin Beli Mainan Anak, Perhatikan Dulu 3 Hal Berikut

    “Mereka akan mengeksplorasi lingkungan dan barang-barang di sekitar yang menarik untuk mereka,” kata Konselor klinis dari Institut Neufeld, AS, Deborah MacNamara, Ph.D, penulis buku Rest, Play, Grow.

    Kendati tak ada takaran pasti terkait jumlah mainan yang ideal untuk anak, para ahli menduga rata-rata anak memiliki mainan yang terlalu banyak. Cara utama untuk membatasi jumlah mainan, dengan mengurangi kebiasaan membelikan mainan pada anak.

    Cari alternatif, berikan hadiah selain barang ketika ingin menghadiahi anak terutama yang masih bayi dan balita. Karena pada usia ini, anak justru lebih tertarik pada hal yang mencuri perhatian mereka seperti bentuk kotak kado atau kertas kado yang berwarna dibanding mainan itu sendiri.

    Pertimbangkan pula bahwa kemungkinan besar anak akan menerima kado mainan dari orang lain pada hari spesialnya. Khusus untuk anak usia 5 tahun, Deborah mengingatkan orang tua membeli mainan sesuai dengan minat anak agar tak ada mainan yang sia-sia. Pada usia ini biasanya minat anak telah tampak.

    “Orang tua harus melihat mainan apa yang disukai anaknya. Sediakan barang atau mainan tersebut sambil tetap menyediakan ruang untuk berimajinasi,” saran Deborah.

    Baca: Cara Menyesuaikan Mainan dengan Usia dan Kebutuhan Bayi

    TABLOID BINTANG


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Arti Bilangan R(0) dan R(t) untuk Menerapkan New Normal

    Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional Suharso Monoarfa mengatakan bahwa suatu daerah dapat melaksanakan New Normal bila memenuhi indikator R(0).