Mendidik Anak Tahan Banting dengan 3 Cara Ini

Reporter:
Editor:

Mila Novita

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi anak tersenyum. Pixabay.com

    Ilustrasi anak tersenyum. Pixabay.com

    TEMPO.CO, Jakarta - Ketika dewasa, anak akan hidup di lingkungan yang lebih keras daripada rumah. Apalagi di era globalisasi. Persaingan ketat menuntut anak lebih tahan banting.  Artinya, anak mempunyai kemampuan yang baik dalam menghadapi masalah, tidak mudah frustrasi, dan mandiri.

    BacaTeror di New Zealand, Bagaimana Menjawab Pertanyaan Anak?

    Bagaimana caranya membantu anak untuk membangun ketahanan diri mereka dalam menghadapi berbagai ujian dan masalah hidup? Michael Grose, pendiri situs web Parenting Ideas sekaligus pakar ketahanan anak asal Australia, menyarankan orang tua untuk menerapkan tiga hal berikut.

    1. Bantu beradaptasi dengan situasi

    Jangan membantu anak mengubah situasi, namun bantu mereka beradaptasi dengan situasi. Anak harus belajar bahwa hidup tidak selalu menyediakan hal atau situasi seperti yang mereka inginkan. Dan sebagai orang dewasa, Anda  tidak boleh selalu hadir untuk membantu memperbaiki masalah atau mengubah situasi seperti yang diinginkan anak.

    “Situasinya mungkin tidak ideal bagi anak, tetapi ini tentang bagaimana Anda bisa mendapatkan yang terbaik dari situ,” jelas Michael Grose.

    Michael Grose juga menekankan bahwa, “Fleksibilitas untuk mengikuti arus adalah karakteristik ketahanan yang hebat.”

    Hal itu memungkinkan anak-anak beradaptasi dan menghadapi situasi yang mungkin membuat mereka tidak nyaman atau keadaan yang mungkin bukan pilihan mereka, namun (fleksibilitas) itu memberi mereka kemampuan untuk melewatinya.

    Kendati demikian, ada beberapa situasi ekstrem yang memperbolehkan orang tua untuk ikut terlibat di dalamnya. Misalnya ketika anak menjadi korban perundungan atau kekerasan fisik yang serius atau ketika anak menghadapi lawan yang tidak seimbang.

    2. Dorong anak menjadi orang yang gigih dan tidak mudah menyerah

    “Mereka yang gigihlah yang akan bertahan,” kata Michael Grose. Seseorang yang gigih akan terus maju bahkan meski ada masalah berat atau jika mereka melakukan kesalahan.

    Anak-anak yang tidak tahan banting akan mudah menyerah ketika mereka melakukan kesalahan di awal atau setidaknya akan mempengaruhi performa mereka selanjutnya. Kemampuan untuk bangkit, mencoba lagi, dan berhasil memperbaiki kesalahan adalah faktor penting dalam hidup dan karakteristik utama dalam ketahanan.

    “Dari sudut pandang ketahanan, Anda lebih baik melatih anak melalui beberapa momen menantang dan meninjau kembali apa yang telah mereka pelajari dari tantangan tersebut,” kata Michael Grose.

    3. Biarkan menyelesaikan masalahnya sendiri

    Anak-anak pasti pernah mengalami konflik dengan temannya. Entah karena berebut mainan, mengalami kontak fisik tanpa disengaja, atau perselisihan lainnya. Selama persoalannya masih dalam batas wajar, biarkan anak menyelesaikan sendiri konfliknya.

    “Sebagai orang tua, Anda harus bisa menahan diri untuk tidak selalu ikut menyelesaikan masalah sosial yang dihadapi anak, sebaliknya Anda perlu melatih kemampuan anak untuk menyelesaikan tantangan dalam hubungan pertemanan dan masalah sosial anak. Terkadang orang tua justru menciptakan masalah dengan ikut campur pada permasalahan anak,” Michael Grose memperingatkan.

    BacaSegudang Manfaat Anak Bermain di Alam Bebas, Apa Saja?

    Tidak semua hal harus Anda selesaikan. Terkadang anak-anak hanya ingin orang tuanya memahami problem atau konflik yang mereka hadapi, namun mereka tidak butuh Anda untuk memperbaikinya. Sebaiknya Anda hanya memonitor bagaimana cara anak mengatasi masalah dengan temannya dari jauh.

    AURA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Beda Kerusuhan Mei 2019 dengan Kengerian di Ibu Kota 1998

    Kerusuhan di Jakarta pada bulan Mei terjadi lagi, namun kejadian di 2019 berbeda dengan 1998. Simak kengerian di ibu kota pada akhir Orde Baru itu.