Bagaimana Menakar Porsi Makan Anjing? Intip Saran Dokter Hewan

Reporter:
Editor:

Mila Novita

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi makanan anjing. Shutterstock

    Ilustrasi makanan anjing. Shutterstock

    TEMPO.CO, Jakarta - Tak sedikit pemilik anjing yang memberikan makanan peliharaannya dengan takaran ala kadarnya. Kadang-kadang kurang, bisa juga lebih. Ternyata salah takaran bisa menimbulkan dampak buruk bagi hewan peliharaan.

    BacaKenapa Anjing Suka Makan Feses? Intip Cara Menanganinya

    Dokter hewan Elvinkan Ruth mengatakan makanan yang dimakan sang anjing akan berpengaruh pada tumbuh kembangnya. “Kalau diberi makan terlalu sedikit, anjing akan menjadi kurus. Begitu juga dengan sebaliknya. Jika terlalu banyak, akan menjadi obesitas,” katanya dalam diskusi yang bertajuk makanan hewan, Pro Balance, di Jakarta pada Senin, 1 Maret 2019.

    Untuk itu, Elvinkan memberi saran takaran yang tepat dalam menyediakan makanan bagi anjing. Menurutnya, untuk anjing yang masih kecil atau puppy, takaran yang tepat ialah sebanyak seperempat gelas air mineral. Sedangkan untuk anjing dewasa, umumnya adalah sepuluh persen dari berat badan anjing.

    Menambahkan jawaban dokter Elvinkan, seorang pelatih anjing, Aang memberikan opsi yang berbeda. Ia mengatakan bahwa cara lain yang dapat dilakukan untuk mengetahui porsi tepat bagi anjing adalah dengan teknik trial and error. Aang menyarankan pemilik anjing memberi makan dengan porsi sedikit untuk peliharaannya. Apabila makanan tersebut habis, tambahkan lagi hingga anjing menyisakan makanannya.

    “Kalau makanan masih ada yang tersisa, berarti nutrisinya telah 100 persen terpenuhi. Sehingga, Anda tahu persis berapa takaran yang tepat di mana ia benar-benar menghabiskan seluruh porsi tersebut,” katanya.

    BacaSebaiknya Anjing Diberi Makanan Basah atau Kering? Ini Kata Ahli

    SARAH ERVINA DARA SIYAHAILATUA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Beda Kerusuhan Mei 2019 dengan Kengerian di Ibu Kota 1998

    Kerusuhan di Jakarta pada bulan Mei terjadi lagi, namun kejadian di 2019 berbeda dengan 1998. Simak kengerian di ibu kota pada akhir Orde Baru itu.