Waspada Hemofilia Jika Anak Mengalami Hal Ini

Reporter:
Editor:

Mila Novita

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi anak terluka. guiainfantil.com

    Ilustrasi anak terluka. guiainfantil.com

    TEMPO.CO, JakartaGangguan pembekuan darah atau hemofilia menyebabkan penderitanya mengalami pendarahan yang sulit dihentikan saat terluka. Karenanya, penderita harus berhati-hati agar tidak mudah terluka atau terbentur.

    Baca: Mengenal Hemofilia Si Penyebab Perdarahan, Jangan Anggap Enteng

    Kelainan genetika ini tergolong langka. Tapi sebenarnya bisa dideteksi sejak dini, seperti pendarahan yang tak berhenti saat pemotongan tali pusar, mudah lebam saat mulai belajar merangkak, atau pendarahan di bagian bokong saat anak mulai belajar duduk. 

    Meski mudah dideteksi, tak banyak orang yang langsung menyadarinya. Di Indonesia, kelainan ini baru diketahui pada 1965. Sementara pendataan pasien hemofilia kali pertama dilakukan di Tanah Air pada 1998. 

    Sejak itu, penelitian dan penanganan hemofilia dikembangkan. Kesadaran tentang hemofilia pun terus ditingkatkan. Salah satunya dengan peringatan Hari Hemoflilia Sedunia yang diperingati setiap 17 April.

    Tapi, kini pendataan pasien akan semakin mudah. Menyambut Hari Hemofilia Sedunia, Himpunan Masyarakat Hemofilia Indonesia (HMHI) merilis aplikasi  Android Hemofilia Indonesia yang bertujuan memudahkan pencatatan pasien hemofilia atau gangguan penggumpalan darah lain dalam sistem registrasi nasional. Aplikasi ini dilengkapi fitur data diri pasien, data keluarga, data medis, catatan perdarahan, forum, dan pengumuman. Hanya dengan mengisi aplikasi dan mengirim data, pasien otomatis terdaftar dalam sistem registrasi nasional.

    Ketua HMHI, Prof dr. Djajadiman Gatot, Sp.A, menjelaskan, hingga saat ini, penderita hemofilia hanya tercatat sebanyak 2.092 orang. Padahal menurut statistik, setidaknya ada 20 hingga 25 ribu penderita hemofilia di Indonesia. “Artinya hanya 10 persen yang terdeteksi. Saya membayangkan ini seperti fenomena gunung es, yang tampak lebih sedikit dari fakta sebenarnya,” kata dia saat peluncuran aplikasi Hemofilia Indonesia di Hotel Borobudur Jakarta, pekan ini.

    Wakil Ketua HMHI, Dr. dr. Novie Amelia Chozie, Sp.A, menduga rendahnya tingkat identifikasi pasien hemofilia dipicu banyak faktor. Salah satunya, mitos yang beredar di masyarakat yang membuat penderita menyembunyikan kondisi mereka. Mitos itu antara lain kelainan ini merupakan kutukan atau santet. 

    BacaJangan Remehkan Mimisan, 2 Penyakit Serius Ini Mungkin Mengintai

    “Padahal, penanganan hemofilia bisa dilakukan dengan pemberian faktor penggumpal darah, yakni faktor VIII untuk hemofilia A dan faktor IX untuk hemofilia B. Pesatnya perkembangan dunia medis memungkinkan pemberian faktor secara langsung lewat penyuntikan pembuluh balik tanpa transfusi darah dalam jumlah banyak,” imbuhnya.

    TABLOIDBINTANG.COM


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Beda Kerusuhan Mei 2019 dengan Kengerian di Ibu Kota 1998

    Kerusuhan di Jakarta pada bulan Mei terjadi lagi, namun kejadian di 2019 berbeda dengan 1998. Simak kengerian di ibu kota pada akhir Orde Baru itu.