Tips Meminimalisir Dampak Kabut Asap pada Kesehatan

Reporter:
Editor:

Yayuk Widiyarti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kondisi pelataran Benteng Kuto Besak Palembang yang diselimuti kabut asap pekat, Senin pagi (14/10/2019). ANTARA/Aziz Munajar/19.

    Kondisi pelataran Benteng Kuto Besak Palembang yang diselimuti kabut asap pekat, Senin pagi (14/10/2019). ANTARA/Aziz Munajar/19.

    TEMPO.CO, Jakarta - Kabut asap pekat akibat kebakaran hutan dan lahan dapat mempengaruhi kesehatan. Harus dilakukan pencegahan agar dampaknya tidak semakin buruk pada orang yang terpapar.

    Berdasarkan Buku Penanggulangan Krisis Kesehatan Lindungi Diri Dari Bencana Kabut Asap Kementerian Kesehatan, ada beberapa tips untuk menghadapi kabut asap guna mencegah paparannya mempengaruhi kesehatan. Yang pertama, hindarilah pajanan asap dengan mengurangi aktivitas di luar rumah, terutama bagi yang menderita penyakit jantung dan gangguan pernapasan. Jika terpaksa pergi ke luar rumah, sebaiknya gunakan masker.

    Dampak kabut asap lebih mempengaruhi kondisi kesehatan kelompok rentan, seperti balita, ibu hamil, lansia, dan orang yang telah memiliki penyakit paru ataupun jantung. Bagi yang telah mempunyai gangguan paru dan jantung sebelumnya, disarankan untuk berkonsultasi dengan dokter untuk perlindungan tambahan sesuai kondisi.

    Upayakan agar polusi dari kabut asap tidak masuk ke dalam rumah atau sekolah dan ruang tertutup lain. Penampungan air dan tempat makanan yang berada di ruangan harus terlindungi dengan baik agar partikel asap tidak menempel.

    Cucilah sayuran dan buah-buahan sebelum dikonsumsi. Begitu pula dengan bahan makanan dan minuman harus dimasak dengan baik sebelum dikonsumsi. Selain itu, minumlah air putih lebih banyak dan lebih sering.

    Asap yang ditimbulkan oleh kebakaran hutan berdampak langsung pada kesehatan, khususnya gangguan saluran pernapasan. Asap mengandung sejumlah gas dan partikel kimia yang mengganggu pernapasan seperti sulfur dioksida (SO2), karbon monoksida (CO), formaldehid, akrelein, benzen, nitrogen oksida (NOx) dan ozon (O3).

    Sejumlah siswa SMP pulang lebih awal usai diumumkannya libur terkait kondisi kabut asap yang pekat di Palembang, Sumatera Selatan, Senin 14 Oktober 2019. Kondisi kabut asap yang sangat pekat membuat Dinas Pendidikan setempat mengeluarkan pemberitahuan bagi sekolah untuk meliburkan sekolah. ANTARA FOTO/Feny Selly

    Material tersebut memicu dampak buruk yang nyata pada lansia, bayi, dan pengidap penyakit paru, meskipun tidak dipungkiri dampak tersebut bisa juga menyerang orang sehat. Bagi orang sehat, dampak yang paling umum terjadi adalah dampak akut atau jangka pendek, seperti infeksi saluran pernapasan atas (ISPA). Segeralah menghubungi tenaga medis bila sudah merasakan gejala-gejala ISPA agar kondisi tubuh tidak semakin memburuk.

    Gejala ISPA yang dapat dirasakan antara lain demam, sakit kepala, batuk, hidung berair atau tersumbat, sakit pada tenggorokan, badan terasa pegal atau nyeri pada sendi, dan sesak napas.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Aturan Skuter Listrik Pasca Insiden GrabWheels Belum Ada Rujukan

    Pemerintah Provinsi DKI berencana mengeluarkan aturan soal skuter listrik setelah insiden dua pengguna layanan GrabWheels tewas tertabrak.