Harga Tenun Mahal? Ini Tanggapan Ketua Dekranasda NTT

Reporter:
Editor:

Yayuk Widiyarti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kain tenun Suku Boti di Desa Boti di kecamatan Kie, Timor Tengah Selatan, Nusa Tenggara Timur, 5 Oktober 2018. Suku Boti merupakan keturunan dari suku asli pulau Timor, Atoni Metu. TEMPO/ Nita Dian

    Kain tenun Suku Boti di Desa Boti di kecamatan Kie, Timor Tengah Selatan, Nusa Tenggara Timur, 5 Oktober 2018. Suku Boti merupakan keturunan dari suku asli pulau Timor, Atoni Metu. TEMPO/ Nita Dian

    TEMPO.CO, Jakarta - Banyak masyarakat yang menganggap harga tenun dari Nusa Tenggara Timur (NTT) mahal. Dari selendang hingga baju, harganya memang bisa mencapai ratusan ribu hingga jutaan rupiah.

    Namun, Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda), Julie Sutrisno Laiskodat, tidak membenarkannya. Ia mengatakan bahwa selendang bisa didapat dengan harga Rp 50 ribu saja.

    “Atasan pun cuma 150 ribu rupiah,” katanya saat ditemui di salah satu gerai Jakarta Fashion Week pada 22 Oktober 2019.

    Lantas, apa yang menyebabkan harganya selalu  mahal di mata masyarakat? Pertama, ini disebabkan oleh bahan tenun yang menggunakan kapas asli. Namun, Julie mengatakan kini masyarakat NTT telah menggantinya dengan benang katun atau sintetis.

    “Karena pohon kapas sudah mau punah, jadi mahal. Tapi sekarang untuk memenangkan pasar, kami sudah jarang menenun dengan kapas asli, tapi diganti dengan benang katun atau sintetis,” katanya.

    Kedua, Julie menjelaskan bahwa banyak masyarakat di desa yang tidak mengerti cara berjualan. Mereka tidak memiliki kemampuan berbisnis sehingga langsung memberi patokan harga yang tinggi.

    “Ini fungsi dekranasda untuk memberikan edukasi. Supaya mereka tidak aji mumpung karena ada yang beli, jadi harganya dibuat mahal,” jelasnya.

    Ketiga, akses untuk mendapatkan bahan dasar menenun juga menjadi pertimbangan harga yang mahal. Julie mengatakan bahwa banyak perajin di desa yang harus pergi ke kota untuk mendapatkan bahan sehingga ini dimasukan dalam biaya pembuatan.

    “Sekarang sudah kami bantu sediakan agar semua orang bisa menikmati kain NTT dengan harga terjangkau,” tuturnya. 


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Aturan Skuter Listrik Pasca Insiden GrabWheels Belum Ada Rujukan

    Pemerintah Provinsi DKI berencana mengeluarkan aturan soal skuter listrik setelah insiden dua pengguna layanan GrabWheels tewas tertabrak.