Peneliti Sebut Kaitan Rokok Elektrik dan Depresi

Reporter:
Editor:

Yayuk Widiyarti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pria menghisap rokok elektrik. cloudfront.net

    Pria menghisap rokok elektrik. cloudfront.net

    TEMPO.CO, Jakarta - Sebuah penelitian menyimpulkan orang yang mengisap rokok elektrik dua kali lebih mungkin melaporkan depresi klinis dibandingkan yang tidak merokok elektrik. Korelasi itu sangat kuat di kalangan orang muda.

    Dikenal sebagai vape, rokok elektrik bertenaga baterai dan menggunakan panas untuk memberikan koktail aerosol nikotin dan rasa kepada pengguna. Vape menghasilkan uap kecil, sedangkan rokok melepaskan asap.

    Banyak orang percaya bahwa uapnya mengandung air, bahkan mengandung berbagai bahan kimia beracun yang memiliki hubungan dengan penyakit jantung dan pernapasan serta kanker. Penggunaan rokok elektrik di Amerika Serikat telah meningkat sejak diperkenalkan 10 tahun lalu.

    Menurut Annals of Internal MedicineTrusted Source, pada 2016, diperkirakan 10,8 juta orang di AS menggunakan rokok ini. Dari jumlah ini, 2,8 juta (9,2 persen) berusia 18 - 24 tahun. Saat ini, beberapa ahli menganggap vaping sebagai epidemi di kalangan remaja. Jumlah siswa sekolah menengah yang beralih ke vape naik dua kali lipat pada 2018.

    Sebuah penelitian yang diterbitkan dalam JAMA Network OpenTrusted Source menemukan hubungan yang signifikan antara vaping dan depresi. Meskipun hubungan antara rokok konvensional dan depresi lah yang mendorong penelitian ini, hasilnya menunjukkan bahwa 9,1 persen dari mereka yang depresi adalah pengguna rokok elektrik.

    Penulis utama studi ini, Olufunmilayo Obisesan dari Universitas John Hopkins di Baltimore, Amerika Serikat, mengatakan bahwa merokok dengan bahan yang mudah terbakar, seperti pada vape, telah dikaitkan dengan peningkatan risiko depresi mayor dan juga telah terbukti sangat prediktif terhadap perilaku bunuh diri di masa depan di antara individu dengan riwayat depresi.

    "Mengingat kesamaan dalam beberapa konstituen rokok dan rokok elektrik, kami memutuskan untuk mengeksplorasi keberadaan hubungan yang sama antara rokok elektrik dan depresi," katanya dilansir Medical News Today.

    Studi ini melibatkan hampir 900.000 orang dewasa dengan sampel acak berusia 18 ke atas dalam data lintas seksi 2016-2017 yang dikumpulkan oleh Behavioral Risk Factor Surveillance System (BRFSS), survei telepon nasional terbesar yang dilakukan di AS.

    "Para peneliti menemukan bahwa 34 persen dari pengguna rokok elektrik saat ini melaporkan mengalami depresi klinis dibandingkan dengan 15 persen dari mereka yang tidak pernah menggunakannya. Juga 27 persen dari mantan pengguna lebih mungkin melaporkan depresi klinis dibandingkan dengan 15 persen pada mereka yang tidak pernah menggunakan rokok jenis ini," ujarnya.

    Mahasiswa berusia 18 - 25 tahun menunjukkan hubungan paling signifikan antara penggunaan rokok elektrik dan depresi. Para ilmuwan berfokus pada kelompok ini, khususnya karena biasanya kaum muda lebih cenderung bereksperimen dengan produk-produk baru, seperti rokok elektrik. Perusahaan rokok sering menargetkan demografi ini dalam kampanye pemasaran.

    "Ini menyoroti potensi kerentanan pengguna rokok elektrik dalam kelompok ini terhadap depresi pada waktu yang sangat rentan dalam kehidupan mereka, tetapi juga menjamin bahwa apa yang mungkin dilakukan kecanduan nikotin terhadap anak-anak, siswa sekolah menengah, dan yang lebih muda, yang kita tahu menggunakan e-rokok dalam proporsi epidemi," kata Mariell Jessup dari American Heart Association (AHA) Tobacco Center of Regulatory Science.

    AHA telah meluncurkan inisiatif besar untuk mengatasi penggunaan rokok elektrik dan kecanduan nikotin pada kaum muda. Studi ini juga menemukan bahwa hubungan antara penggunaan rokok elektrik dan depresi lebih kuat pada orang yang paling sering merokok.

    "Secara klinis, penelitian kami memberikan informasi yang dapat dipertimbangkan dokter ketika memberi konseling pada pasien yang mencari informasi tentang rokok elektrik, terutama mereka yang mengalami depresi," kata Obisesan.

    Dia menambahkan bahwa penelitian ini menekankan perlunya dokter dan profesional kesehatan untuk secara rutin mengumpulkan informasi tentang rokok elektrik dari individu selama kunjungan klinik, terutama di antara mereka yang memiliki kondisi kesehatan mental.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Jokowi Memilih Status PSBB, Sejumlah Negara Memutuskan Lockdown

    Presiden Joko Widodo atau Jokowi memutuskan PSBB. Hal itu berbeda dengan sejumlah negara yang telah menetapkan status lockdown atau karantina wilayah.