Jangan Bohong soal 6 Hal Ini saat Wawancara Kerja, Cek Alasannya

Reporter:
Editor:

Yayuk Widiyarti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi wanita sedang wawancara kerja. shutterstock.com

    Ilustrasi wanita sedang wawancara kerja. shutterstock.com

    TEMPO.CO, Jakarta - Sebagian orang pernah berbohong saat wawancara kerja atau memberikan informasi palsu di dalam surat lamaran. Alasannya, agar perusahaan tertarik memperkerjakan.

    Namun, pernahkah terbayang semua kebohongan itu terbongkar dan diketahui oleh perusahaan? Alih-alih diterima dan diperkerjakan, yang ada Anda akan ditandai dan dimasukkan ke dalam daftar hitam oleh perusahaan itu. Kelak, jika melamar ke perusahaan itu lagi, lamaran Anda kemungkinan besar akan diabaikan meski memenuhi persyaratan.

    Ingin sukses dapatkan pekerjaan impian? Jangan pernah berbohong mengenai enam hal ini kepada perusahaan yang dituju, dilansir dari Pop Sugar.

    Alamat tempat tinggal
    Perusahaan yang Anda lamar berlokasi di Jakarta. Kelak, jika diterima bekerja, Anda akan ditempatkan di Jakarta. Padahal, Anda berdomisili di Purwokerto. Khawatir pekerjaan impian bakal lolos dari genggaman karena masalah tempat tinggal yang jauh, Anda pun berbohong dengan mengatakan selama ini tinggal di dekat perusahaan.

    Mungkin Anda berpikir melakukan kebohongan kecil seperti ini tidak akan berakibat fatal. Faktanya, kebohongan sekecil apapun tetaplah kebohongan. Jika ketahuan berbohong, dalam hal apapun, sekecil apapun, perusahaan akan enggan berhubungan. Jujur saja mengenai lokasi domisili selama ini. Katakan kepada mereka, Anda akan siap jika perusahaan menempatkan di lokasi tempat kerja yang ditentukan.

    Nominal gaji
    Tak jarang pewawancara iseng menanyakan nilai gaji di perusahaan lama. Untuk hal yang satu ini, kejujuran juga diperlukan. Tak usah malu menyebutkan nilai gaji karena itu tak akan berpengaruh apa-apa. Pihak perusahaan cuma sekadar ingin tahu saja. Kalau berbohong, dan setelah itu pewawancara meminta salinan slip gaji, maka akan terbongkar kebohongan itu. Pekerjaan impian pun terancam melayang dari genggaman karena ketahuan berbohong.

    Nilai IPK dan pendidikan
    Hampir semua lowongan pekerjaan pasti mengajukan syarat untuk menyertakan salinan nilai IPK pada surat lamaran. Sebaiknya, jangan pernah berbohong soal nilai IPK karena pasti akan dengan mudah ketahuan, juga dengan latar belakang pendidikan.

    Mungkin Anda berpikir perusahaan tidak peduli dan tidak akan memverifikasi soal itu. Masalahnya adalah, Anda tidak tahu apakah mereka akan memeriksanya atau tidak dan itu hal yang sangat mudah dilakukan. Paling tidak, mereka mungkin meminta salinan gelar pendidikan dan jika tahu Anda berbohong, mereka akan semakin gencar membongkar kebohongan apa lagi yang Anda buat.

    Alasan berhenti kerja
    Dipecat atau di-PHK masih menjadi hal yang memalukan bagi pekerja di Indonesia. Mereka merasa seakan pemecatan dan PHK merupakan aib yang amat hina. Oleh karena itu, hampir dapat dipastikan pekerja yang pernah mengalami pemecatan atau PHK, saat hendak melamar kerja lagi pasti akan menutupinya dengan berbohong.

    Jika Anda berada dalam situasi ini, tak perlu ragu lagi, katakan yang sejujurnya kepada pewawancara. Namun, setelah itu, penting untuk meyakinkan pihak perusahaan bahwa Anda dapat diandalkan dan bisa dipercaya.

    Jabatan terakhir pekerjaan
    Mirip dengan gaji, jabatan terakhir pekerjaan adalah fakta yang sangat mudah diverifikasi. Sebagai permulaan, mungkin ada bukti online yang bertentangan dengan apa yang Anda katakan. Anda mungkin merasa jabatan tidak mencerminkan pekerjaan yang sebenarnya, tetapi itu bukan berarti harus mengubahnya dengan mengarang cerita.

    Jujurlah. Bicara secara faktual apa yang Anda lakukan selama menjabat posisi itu dan jelaskan secara implisit tanggung jawab yang membuat Anda merasa percaya diri. Pewawancara dapat menarik kesimpulan sendiri.

    Keterampilan yang dimiliki
    Kemampuan dan keterampilan yang dimiliki mungkin sulit bagi perusahaan untuk mencari tahu. Tanpa sertifikasi, bagaimana mereka akan tahu Anda mahir di bidang komputer atau memiliki keterampilan yang baik dalam menyelesaikan masalah.

    Melebih-lebihkan kemampuan yang Anda miliki hanya akan menjadi bumerang pada diri sendiri. Setelah diterima bekerja, perusahaan akan segera tahu kemampuan Anda yang sebenarnya. Akan fatal akibatnya jika perusahaan sampai merasa kecewa.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Polemik Aturan Ketenagakerjaan Dalam RUU Cipta Kerja

    Perubahan aturan ketenagakerjaan menurut pemerintah harus dilakukan agar mengundang investasi.