Pakar Anjurkan Kurangi Kopi selama Isolasi Diri, Cek Alasannya

Reporter:
Editor:

Yayuk Widiyarti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi kopi. Unsplash.com/Kira Auf Der Heide

    Ilustrasi kopi. Unsplash.com/Kira Auf Der Heide

    TEMPO.CO, Jakarta - Banyak hal yang perlu dilakukan di tengah wabah virus corona. Ahli gizi dari Institut Pertanian Bogor (IPB) Profesor Ali Khomsan mengatakan masyarakat sebaiknya mengurangi konsumsi kopi serta makanan pedas dalam situasi tidak nyaman atau stres, termasuk saat mulai melakukan isolasi diri menghindari penyebaran COVID-19.

    "Masyarakat sudah mulai isolasi mandiri. Jika salah satu efeknya ialah stres, maka yang pertama harus dikurangi adalah minum kopi," katanya.

    Kemudian, sebaiknya saat stres tidak banyak makan yang pedas-pedas serta mengurangi konsumsi makanan yang membuat lambung tidak nyaman, termasuk pula mengurangi makanan yang terlalu manis sebab dapat memboroskan vitamin-vitamin B yang sudah masuk ke dalam dan itu tidak baik.

    Ia mengatakan pola makan perlu diperhatikan sebab saat seseorang stres, maka hal itu biasanya berhubungan dengan kondisi lambung yang menjadi bermasalah.

    "Selain itu, pasokan makanan empat sehat, yakni karbohidrat, lauk, sayur dan buah juga harus tetap diperhatikan dan dikonsumsi," jelasnya.

    Selain menghindari sejumlah makanan saat berada dalam kondisi tidak nyaman atau stres, ia juga menganjurkan masyarakat untuk terus mengupayakan agar tubuh tetap bergerak dalam rangka antisipasi penyebaran COVID-19.
    Setidaknya masyarakat bisa berolahraga secukupnya di teras rumah masing-masing sehingga tubuh tidak mengalami kelebihan kalori yang masuk namun tidak dikeluarkan.

    "Jadi, usahakan agar tetap bergerak meskipun hanya di teras masing-masing," katanya.

    Bahkan, jika biasanya seseorang bisa menghabiskan 50 menit hingga satu jam untuk berolahraga, namun dalam situasi terbatas sebagaimana terjadi saat ini, hal itu cukup dilakukan 20 hingga 25 menit per hari.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Pedoman WHO Versus Kondisi di Indonesia untuk Syarat New Normal

    Pemerintah Indonesia dianggap belum memenuhi sejumlah persyaratan yang ditetapkan WHO dalam menjalankan new normal.