Psikiater Bagi Kiat Atasi Kecemasan selama Pandemi COVID-19

Reporter:
Editor:

Yayuk Widiyarti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi cemas. Shutterstock.com

    Ilustrasi cemas. Shutterstock.com

    TEMPO.CO, Jakarta - Banyak orang mengalami kecemasan dalam menghadapi pandemi Covid-19. Namun, kecemasan bisa dicegah.

    Dokter spesialis jiwa dari RSUP Persahabatan, Alvinia Hayulani, mengatakan banyak hal yang memang bisa memicu kecemasan di tengah pandemi Covid-19 yang tidak pernah dialami sebelumnya.

    “Kecemasan bisa karena belum pernah mengalami ini, seperti tiba-tiba harus kerja, sekolah dari rumah, social distancing, sampai pemotongan pendapatan. Ada juga terkait dengan penyakit itu sendiri, si virus ini kita belum tahu sakitnya seperti apa dan bagaimana mengatasinya, ada ketakutan tertular atau menularkan juga menjadi pemicu kecemasan,” ungkap Alvinia.

    Menurutnya, kecemasan adalah perasaan yang wajar terjadi pada manusia dan bukan merupakan hal yang negatif. Cemas merupakan respons tubuh dan sebagai bentuk perlindungan diri ketika mengetahui kita sedang menghadapi sesuatu yang berbahaya atau belum pernah dialami sebelumnya.

    Ketika cemas, tubuh merespons terhadap zat kimia di otak, hormon, dan imun tubuh. Oleh karena itu, ketika cemas, banyak orang yang kemudian merasa penyakit-penyakit yang ada di dalam tubuhnya kambuh.

    “Yang banyak dirasakan antara lain ketika cemas atau stres penyakit maag atau GERD sering kambuh,” jelas Alvinia.

    Dia menjelaskan perasaan cemas ini bisa diatasi, dikendalikan, dan dikelola agar tetap wajar dan tidak mengganggu aktivitas sehari-hari. Misalnya, cemas terkait Covid-19, cara untuk mengelola dan mengendalikan kecemasan antara lain dengan mematuhi protokol kesehatan dengan disiplin, seperti rajin mencuci tangan, jaga jarak, dan menggunakan masker.

    Rasa cemas juga bisa diatasi dengan melakukan relaksasi, olahraga ringan, melakukan hobi, me time. Namun, Alvinia mengatakan jika gejala sudah berat dan mengganggu aktivitas sehari-hari, penderita kecemasan bisa mencari pertolongan kepada tenaga profesional seperti psikolog atau psikiater.

    “Kita biasanya memberikan obat dan terapi. Psikoterapi ini terapi yang dilakukan supaya pasien bisa menyelesaikan masalahnya dengan tenang sehingga tidak terjadi gangguan di kemudian hari,” ungkap Alvinia.

    Di tengah masa pandemi Covid-19, apabila takut untuk berkunjung ke layanan, tenaga profesional bisa melakukan konsultasi secara daring, termasuk melalui situs PDSKJI.org, di mana penderita bisa melakukan swaperiksa untuk kecemasan, depresi, trauma, dan masalah kesehatan mental lain.

    “Di situ kelihatan apakah sudah muncul gangguan atau bisa ditangani sendiri. Nanti kalau sudah jelas, kita akan menghubungi penderita dan melakukan pendampingan psikososial selama Covid-19 ini,” ujarnya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Bandingkan Ledakan di Beirut dengan Bom Atom Hiroshima Nagasaki

    Pemerintah Lebanon meyakini ledakan di Beirut disebabkan 2.750 ton amonium nitrat. Banyak orang membandingkannya dengan bon atom Hiroshima Nagasaki.