Pakar Sebut Vaksinasi Sukses Jika Didukung Protokol Kesehatan

Reporter:
Editor:

Yayuk Widiyarti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Botol kecil berlabel stiker

    Botol kecil berlabel stiker "Vaccine COVID-19" dan jarum suntik medis dalam foto ilustrasi yang diambil pada 10 April 2020. [REUTERS / Dado Ruvi]

    TEMPO.CO, Jakarta - Pemerintah terus berupaya agar rantai penularan COVID-19 bisa ditekan, salah satunya dengan merencanakan pengadaan vaksin COVID-19. Akan tetapi, tanpa dukungan masyarakat, program vaksinasi tentu tidak akan bisa berjalan lancar, apalagi menekan penularan.

    Masyarakat perlu proaktif dengan cara terus disiplin menjalankan protokol kesehatan 3M dengan #pakaimasker, #cucitangan, dan #jagajarak, bahkan sampai nanti vaksin sudah hadir.

    Dr. Elizabeth Jane Soepardi, pakar imunisasi menjelaskan, “Protokol kesehatan 3M ini berdasarkan penelitian dari WHO dan telah ditetapkan sebagai standar bagi semua negara. Jadi, kalau kita tidak melakukan apa-apa kemungkinan tertular COVID-19 itu 100 persen. Namun kalau kita mencuci tangan dengan sabun selama 20 detik, itu menurunkan risiko penularan hingga 35 persen."

    "Kalau kita menggunakan masker biasa yang tiga lapis, akan mampu menurunkan risiko penularan hingga 45 persen. Kalau menggunakan masker bedah yang warnanya hijau atau biru, menurunkan risiko penularan hingga 70 persen, dan kalau menjaga jarak aman, akan menurunkan risiko penularan hingga 85 persen. Jadi, yang berkerumun itu saya rasa keterlaluan sekali karena abai kepada dirinya sendiri dan orang di sekitar," ujarnya pada acara Dialog Produktif, bertema “Siapkan Kedatangan Vaksin” yang diselenggarakan Komite Penanganan COVID-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (KPCPEN), Kamis, 3 Desember 2020.

    Pernyataan Elizabeth juga didukung tenaga kesehatan lain yang tengah merawat pasien COVID-19 seperti, Lia Gustina AMD.Kep, relawan tenaga kesehatan yang sudah bertugas sejak April di Rumah Sakit Darurat COVID-19 (RSDC) Wisma Atlet, Kemayoran, Jakarta Pusat. “

    Saya berharap kepada masyarakat untuk tetap menjaga protokol kesehatan 3M dan tidak berkerumun meski ada vaksin nantinya. Tetap mendukung kami yang ada di garda terdepan," ujarnya di laman Satgas COVID-19.

    Selain itu, Elizabeth juga mengingatkan, “Kita semua harus sadar, kapasitas produksi vaksin tidak akan cukup untuk semua penduduk. Sudah pasti vaksinasi nantinya akan bertahap sehingga 3M harus tetap kita jalankan, bahkan setelah divaksinasi jangan merasa terlindungi 100 persen sehingga dengan begitu masker dan hand sanitizer akan terus kita bawa sebagai budaya ke depannya."

    Terkait program vaksinasi, pemerintah akan memberikan aturan mengenai yang akan bertugas memberikan vaksinasi dan siapa yang diberikan vaksin Covid-19 secara bertahap.

    “Tentu nantinya ada aturan kapan vaksinasinya, di mana, dan siapa. Tentu siapanya ini tidak semua orang, itu yang harus kita mengerti karena vaksin yang ada baru untuk kelompok tertentu, misalnya yang diprioritaskan kepada tenaga kesehatan terlebih dulu. Kenapa diutamakan tenaga kesahatan? Karena mereka yang menolong orang sakit dan kalau tenaga kesehatan tertular, mereka bisa menularkan kepada orang lain, itu alasan yang harus bisa diterima," ujar Elizabeth.

    *Ini adalah artikel kerja sama Tempo.co dengan #SatgasCovid-19 demi memutus mata rantai penyebaran Covid-19. Tegakkan protokol kesehatan, ingat selalu #pesanibu dengan #pakaimasker, #jagajarakhindarikerumunan, dan #cucitanganpakaisabun.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Aman Ibadah Sholat Ramadan Saat Covid-19

    Pemerintah DKI Jakarta telah mengizinkan masjid ataupun mushola menggelar ibadah sholat dalam pandemi.