Muncul Istilah Zoom Fatigue, Ini Dampaknya Menurut Psikiater

Reporter:
Editor:

Yayuk Widiyarti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi pengguna aplikasi zoom. (ANTARA/Shutterstock)

    Ilustrasi pengguna aplikasi zoom. (ANTARA/Shutterstock)

    TEMPO.CO, Jakarta - Telekonferensi atau rapat melalui Zoom dilakukan setiap hari dan berturut-turut memunculkan istilah "Zoom fatigue". Terutama di masa pandemi, banyak kantor yang mengharuskan pegawai bekerja dari rumah dan memanfaatkan layanan pertemuan video tersebut.

    Psikiater di Rumah Sakit Umum Pusat Nasional Dr. Cipto Mangunkusumo (RSCM) dr. Gina Anindyajati, SpKJ mengatakan Zoom fatigue dapat terjadi karena ada kelelahan fisik akibat menghadap layar yang berlangsung lama, ditambah dengan kehabisan energi mental untuk selalu fokus pada pertemuan daring yang diadakan.

    "Zoom fatigue adalah kelelahan fisik dan mental yang timbul akibat paparan dengan pertemuan daring yang lama tanpa jeda. Zoom fatigue bisa berkontribusi pada terjadinya burn out yang dialami pekerja," kata Gina.

    Ada pun sejumlah faktor yang bisa membuat orang merasakan Zoom fatigue, mulai dari lama durasi dan jarak menghadap layar komputer, tidak adanya jeda di antara bekerja dan istirahat, hingga kendala teknis seperti sinyal yang terputus-putus.

    "Saat menatap layar untuk durasi yang lama, mata merasa lelah sehingga rekomendasi dari dokter adalah memandang jauh (6 meter) setiap 20 menit, sementara tidak semua orang yang bekerja jarak jauh punya fasilitas untuk mengalihkan pandangannya. Akibatnya, mata dipaksa untuk melihat lama ke layar tanpa bisa refresh," jelas Gina.

    "Selain itu, pertemuan yang dikerjakan back to back tidak memberi kesempatan pada orang untuk jeda, bahkan ke toilet atau bergerak. Bayangkan kalau kita rapat di kantor, antara satu jadwal dengan jadwal yang lain, kita bisa ke toilet terlebih dulu atau naik tangga atau naik lift," imbuhnya.

    Menurutnya, jeda sejenak itu penting untuk mengembalikan rasa segar. Sementara pada pertemuan daring benar-benar langsung pindah ruangan setelah satu pertemuan selesai. Selanjutnya, rasa lelah juga dikontribusikan oleh fokus yang dipaksakan, belum lagi ditambah dengan kendala sinyal atau teknologi yang membuat orang harus bolak balik melakukan pengecekan.

    "Selain itu, pertemuan daring juga membuat interaksi lebih terbatas karena tidak ada waktu untuk chit chat yang bisa dilakukan saat pertemuan tatap muka," jelasnya.

    "Belum lagi pertemuan daring yang dianggap dapat dilakukan dari mana saja, memaksa orang untuk mengikuti pertemuan multipel dan tidak mengenal jam kerja. Tentu secara tidak langsung ini menambah beban pekerjaan dan bisa membuat lelah," tambah Gina.

    Lebih lanjut, ia mengatakan hubungan antara pekerjaan dan kesehatan mental sangat dekat. Mengutip dari Healthline, selain stres terkait pekerjaan yang biasa, pandemi telah menyebabkan kesehatan mental hampir semua orang menurun.

    Namun, kebanyakan orang diharapkan terus bekerja seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Pandemi telah mempengaruhi banyak kehidupan. Wajar jika interaksi kerja juga terpengaruh. Tanda-tanda kelelahan tradisional termasuk perasaan apatis dan umumnya kelelahan dan penurunan kinerja.

    "Pekerjaan dan kesehatan mental saling berkaitan karena orang yang mentalnya sehat akan bisa mengerjakan pekerjaannya dengan optimal, produktif, serta berkontribusi untuk lingkungan," jelas Gina.

    "Pekerjaan yang melebihi kapasitas seseorang dapat mengancam kesehatan jiwa sehingga berisiko menimbulkan masalah, bahkan gangguan jiwa. Akan tetapi, pekerjaan juga bisa menjadi faktor protektif yang meningkatkan kesejahteraan mental seseorang," papar Gina terkait aplikasi Zoom.

    Baca juga: Rapat Online via Zoom Bikin Lelah, Cek Sebabnya


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Pelonggaran Kembali PPKM: Aturan Baru WFO, Bioskop, dan Anak-anak

    Pemerintah kembali melonggarkan sejumlah aturan PPKM yang berlaku hingga 4 Oktober 2021. Pelonggaran termasuk WFO, bioskop, dan anak-anak di mall.