Konsumsi Berlebih Suplemen Vitamin, Malah Sebabkan Gangguan Kesehatan

Reporter:
Editor:

S. Dian Andryanto

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Minum obat

    Minum obat

    TEMPO.CO, Jakarta - Rutin mengkonsumsi vitamin dalam bentuk suplemen merupakan salah satu upaya menjaga stamina tubuh. Namun, apabila dikonsumsi secara berlebih, vitamin berbentuk suplemen justru dapat merusak kesehatan.

    Melansir laman resmi Flushing Hospital Medical Center, berikut lima jenis suplemen vitamin yang apabila dikonsumsi berlebih dapat menganggu kesehatan:

    1. Suplemen Mengandung Zat Besi

    Berlebihan mengkonsumsinya dapat menyebabkan mual, buang air besar berdarah, diare, pusing, sakit kepala, penumpukan cairan di paru-paru dan demam.

    1. Vitamin A

    Apabila vitamin A dikonsumsi berlebihan dapat menyebabkan rambut rontok, kerusakan hati, sakit kepala hebat, nyeri tulang, penglihatan kabur, kulit kering, dan muntah.

    1. Vitamin D

    Berlebihan mengkonsumsi vitamin D menyebabkan irama jantung tidak normal, sembelit, sering buang air kecil, kelemahan otot, dan kebingungan.

    1. Vitamin E

    Vitamin E bila dikonsumsi berlebihan dapat menganggu kemampuan tubuh untuk membekukan darah, hal ini dapat berbahaya bagi orang yang sedang menjalani pengobatan pengenceran darah.

    1. Vitamin B-B6

    Jika dikonsumsi berlebihan, vitamin B dapat memicu kerusakan saraf, sedangkan vitamin B3 dapat menyebabkan penyakit kuning, peningkatan kadar enzim hati, dan mual.

    Dikutip Healthline, mengkonsumsi makanan, seperti buah dan sayur yang memiliki vitamin secara berlebih tidaklah memberikan dampak negatif. Namun jika vitamin berbentuk suplemen, ia akan memberikan dampak negatif jika dikonsumsi melebihi anjuran medis.

    DELFI ANA HARAHAP

    Baca: Manfaat Vitamin C, Vitamin D, Vitamin E dan Zinc Buat pasien Covid-19


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Negara-negera yang Sudah Melakukan Vaksinasi Anak di Bawah 12 Tahun

    Di Indonesia, vaksin Covid-19 baru diberikan ke anak usia 12 tahun ke atas. Namun beberapa negara mulai melakukan vaksinasi anak di bawah 12 tahun.