Belajar dari Tragedi Kanjuruhan, Tanamkan Mental Rivalitas Sehat sejak Dini

Reporter

Sejumlah pemain dan official Arema FC menaburkan bunga di depan patung Singa Tegar kawasan Stadion Kanjuruhan, Malang, Jawa Timur, Senin, 3 Oktober 2022. ANTARA/Prasetia Fauzani

TEMPO.CO, JakartaTragedi Kanjuruhan menyisakan duka mendalam bagi rakyat Indonesia. Psikolog klinis forensik dari Universitas Indonesia (UI), Kasandra Putranto, menjelaskan perlunya memberikan pemahaman mengenai rivalitas yang sehat sejak dini untuk menciptakan suasana pertandingan olahraga yang kondusif.

"Harus ada pendidikan sejak dini," ujar Kasandra.

Pemahaman terkait rivalitas yang sehat untuk level suporter artinya tidak hanya mendukung ketika sebuah tim olahraga memenangkan pertandingan saja namun juga tim yang didukung mengalami kekalahan, itu juga harus diterima. Hal itu disampaikan Kasandra terkait tragedi di Stadion Kanjuruhan Malang usai klub sepakbola Arema Malang mengalami kekalahan dari Persebaya, 1 Oktober 2022, di mana terjadi ketidakpuasan hasil akhir yang memicu reaksi suporter.

Sosiolog dari UI, Ida Ruwaida, juga berpendapat serupa. Salah satu cara untuk mencegah kembali terulangnya insiden serupa diperlukan edukasi yang tepat kepada para pecinta olahraga mengenai sportivitas dan rivalitas sehat.

"Memang perlu edukasi dan penyadaran kepada para suporter, panitia, maupun pihak-pihak terkait. Hal ini harus dilakukan secara berlapis, sistematis, dan intens, termasuk melibatkan berbagai kalangan seperti sekolah, pemuka agama, media, hingga peer groups. Hal ini mengingat latar belakang suporter juga beragam, baik dari usia, pendidikan, jenis kelamin, pekerjaan, serta area tinggal," ujar Ida.

Evaluasi tuntas
Terkait tragedi Kanjuruhan, baik Kasandra dan Ida pun sepakat tidak hanya dari segi suporter yang perlu dievaluasi tapi juga pihak penyelenggara hingga petugas keamanan. Kasandra berpendapat evaluasi bisa dimulai dari pihak panitia penyelenggara yang tidak mengikuti prosedur operasi standar (SOP), mulai dari jumlah tiket yang dicetak melebihi kapasitas hingga waktu pertandingan yang terlalu malam.

Selain itu, dari segi petugas keamanan evaluasi bisa dilakukan terkait dengan penggunaan gas air mata serta cara penanganan yang berakhir tidak mampu membendung massa. Sementara Ida berpendapat dari segi penyelenggara seharusnya evaluasi dalam tragedi Kanjuruhan juga memperhitungkan aspek psikologis massa. Mereka sepakat faktor-faktor di atas perlu diperhitungkan dan tentunya dibutuhkan konsekuensi hukum agar kejadian serupa tidak terulang.

"Seharusnya ada pembelajaran sosial yang mahal bagi siapa pun penyelenggara kegiatan yang memobilisasi atau melibatkan massa besar dari kejadian ini," tutur Ida.

Tragedi Kanjuruhan bermula dari kericuhan yang terjadi setelah pertandingan Liga I antara Arema FC melawan Persebaya berakhir dengan skor 2-3. Kekalahan yang terjadi di kandang Arema itu membuat sejumlah suporter masuk ke dalam area lapangan. Kondisi semakin ricuh setelah sejumlah benda-benda seperti flare dan botol minum dilemparkan ke arah lapangan.

Petugas keamanan sebenarnya sudah berusaha menghalau agar para suporter tidak memanas. Di tengah kondisi itu, petugas akhirnya melakukan tembakan gas air mata dan kondisi justru semakin memanas sehingga menelan banyak korban jiwa.

Baca juga: Psikolog Ingatkan Dampak Media Sosial dan Kesehatan Mental Remaja






Suporter Belum Boleh Nonton Liga 1, 2 dan 3, Menpora: Jangan Dianggap Ini Situasi Normal

13 jam lalu

Suporter Belum Boleh Nonton Liga 1, 2 dan 3, Menpora: Jangan Dianggap Ini Situasi Normal

Menurut Menpora kebijakan ini harus diambil karena kondisinya tidak memungkinkan pascatragedi Kanjuruhan di Malang.


Korban Tragedi Kanjuruhan Akan Laporkan Kabareskrim dan Karowassidik

16 jam lalu

Korban Tragedi Kanjuruhan Akan Laporkan Kabareskrim dan Karowassidik

Korban Tragedi Kanjuruhan Akan Laporkan Kabareskrim dan Karowassidik karena menolak laporan mereka.


Rebutan Kursi Ketum PSSI Setelah Tragedi Kanjuruhan

18 jam lalu

Rebutan Kursi Ketum PSSI Setelah Tragedi Kanjuruhan

Tragedi Kanjuruhan pada 1 Oktober lalu menjadi titik balik bagi Ketum PSSI Mochamad Iriawan.


Liga 1 Kembali Bergulir, Thomas Doll Senang Tim Punya Target Lagi

1 hari lalu

Liga 1 Kembali Bergulir, Thomas Doll Senang Tim Punya Target Lagi

Pelatih Persija Thomas Doll menyatakan para pemainnya berlatih tanpa punya target saat kompetisi Liga 1 berhenti karena Tragedi Kanjuruhan.


Liga 1 Bisa Digelar Kembali, Ini Sederet Ucapan Terima Kasih dari Ketua Umum PSSI

1 hari lalu

Liga 1 Bisa Digelar Kembali, Ini Sederet Ucapan Terima Kasih dari Ketua Umum PSSI

Ketua Umum PSSI Mochamad Iriawan mengucapkan terima kasih kepada Presiden Joko Widodo hingga pecinta sepak bola karena Liga 1 bisa digelar kembali.


Qatar Manfaatkan Momen Piala Dunia 2022 untuk Ubah Persepsi Tentang Islam

1 hari lalu

Qatar Manfaatkan Momen Piala Dunia 2022 untuk Ubah Persepsi Tentang Islam

Qatar yang memiliki masjid-masjid megah, mengenalkan wajah Islam yang ramah kepada suporter sepak bola dalam momen Piala Dunia 2022.


Menkopolhukam: Pemerintah Izinkan BRI Liga 1 Kembali Bergulir Tanpa Penonton

1 hari lalu

Menkopolhukam: Pemerintah Izinkan BRI Liga 1 Kembali Bergulir Tanpa Penonton

Pemerintah memberikan izin kompetisi BRI Liga 1 kembali bergulir, namun tak boleh ada penonton yang hadir di stadion.


Pemerintah Izinkan Liga 1 Dilanjutkan setelah Dihentikan karena Tragedi Kanjuruhan

1 hari lalu

Pemerintah Izinkan Liga 1 Dilanjutkan setelah Dihentikan karena Tragedi Kanjuruhan

Liga 1 ini digelar secara bubble dan tanpa penonton.


Tragedi Kanjuruhan, TGA Laporkan Bareskrim ke Ombudsman

1 hari lalu

Tragedi Kanjuruhan, TGA Laporkan Bareskrim ke Ombudsman

TGA melapokan Bareskrim ke Ombudsman Republik Indonesia karena diduga melakukan maladministrasi dalam laporan mereka soal Tragedi Kanjuruhan.


Semakin Banyak Karyawan Alami Gangguan Kesehatan Mental, Ini Pesan Kemenkes

2 hari lalu

Semakin Banyak Karyawan Alami Gangguan Kesehatan Mental, Ini Pesan Kemenkes

Banyak orang yang belum sadar akan kesehatan jiwa. Padahal, sehat itu tidak hanya secara fisik tetapi juga kesehatan mental.