Pascamudik, Ini Cara Jitu Atasi Nyeri Otot

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Seorang pemudik melakukan pijat refleksi di rest area SPBU Muri jalur pantura, Kabupaten Tegal, Jateng, Senin (13/8). Pijat refleksi salahsatu cara untuk menghilangkan pegal dan melepas lelah pemudik di jalur pantura, pijat selama 45 menit tersebut memasang tarif Rp 55 ribu. FOTO ANTARA/Oky Lukmansyah

    Seorang pemudik melakukan pijat refleksi di rest area SPBU Muri jalur pantura, Kabupaten Tegal, Jateng, Senin (13/8). Pijat refleksi salahsatu cara untuk menghilangkan pegal dan melepas lelah pemudik di jalur pantura, pijat selama 45 menit tersebut memasang tarif Rp 55 ribu. FOTO ANTARA/Oky Lukmansyah

    TEMPO.CO, Jakarta - Masa berpesta Lebaran sudah habis. Para pemudik dari berbagai penjuru Tanah Air sudah kembali ke Ibu Kota. Jarak ratusan kilometer mereka tempuh dengan berbagai moda. Bagi mereka yang menempuh perjalanan darat, entah dengan kendaraan roda dua atau roda empat, waktu tempuh bisa belasan jam karena terjebak macet di sana-sini. Alhasil, nyeri otot alias myalgia kerap menclok.

    Bagi sopir, nyeri atau pegal di otot kaki bisa terjadi karena harus bolak-balik menginjak pedal gas, rem, atau kopling. Sementara itu, bagi penumpang, nyeri bisa muncul di leher atau punggung lantaran tidurnya tak senyaman di rumah. Untuk para pemudik bersepeda motor, nyeri bisa menyerang di punggung atau leher karena sekian jam mereka harus duduk di atas sadel dengan mata menteleng agar motor tidak meleng.

    Saat menempuh perjalanan panjang saat mudik, plus balik, sejumlah penyakit kerap menyerang para pemudik. Menurut data Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Kementerian Kesehatan, Profesor Tjandra Yoga Aditama, myalgia termasuk tiga besar penyakit yang dialami pemudik. Gangguan kesehatan pemudik yang paling banyak ditemukan petugas di pos-pos layanan kesehatan yang disediakan Kementerian Kesehatan di sepanjang jalur mudik adalah infeksi saluran pernapasan akut. “Sampai 23 Agustus pukul tujuh pagi, ada 4.631 kunjungan warga yang memanfaatkan pos-pos kesehatan kita,” kata Tjandra, Kamis malam lalu.

    Myalgia atau nyeri otot, menurut dokter spesialis kesehatan olahraga, Michael Triangto, biasanya timbul karena akumulasi asam laktat--salah satu senyawa kimia penting dalam proses biokimia tubuh. Akumulasi bisa terjadi karena seseorang melakukan gerakan yang sama berulang-ulang, seperti menginjak pedal rem, kopling, dan gas lantaran terjebak macet. Penumpukan asam laktat juga bisa terjadi karena seseorang berada pada posisi yang sama dalam jangka waktu lama, misalnya duduk terus-menerus. “Kalau tidak dieliminasi dengan baik, akumulasi asam laktat ini menimbulkan rasa nyeri,” katanya kepada Tempo, “Itu sebabnya eliminasi sangat penting.”

    Eliminasi asam laktat bisa dilakukan dengan berbagai cara. Salah satunya melakukan peregangan pada waktu tertentu. Misalnya, setelah dua jam perjalanan, hentikan kendaraan, lalu berjalan berkeliling di lokasi itu, regangkan kaki ke bawah, atas, kanan, dan kiri. Paha, lutut, dan pinggang juga mesti diregangkan. Aktivitas peregangan ini perlu dilakukan baik oleh pengemudi maupun penumpang yang selama perjalanan hanya duduk atau tertidur.

    Jika sudah sampai di tujuan, Michael melanjutkan, berbaringlah di lantai, tangan diangkat ke atas kepala, dan kaki dijulurkan. Lakukan hal itu 5-10 menit. Aktivitas ini akan membuat tubuh rileks setelah berjam-jam hanya duduk dan banyak sendi terlipat sehingga peredaran darah tidak lancar. Beres berbaring, mandilah dengan air hangat agar peredaran darah semakin lancar dan otot kian rileks. Dengan serangkaian upaya itu, myalgia tidak berkepanjangan dan tidur bisa lebih nyaman.

    Apakah pemijatan boleh dilakukan untuk mengatasi myalgia? Pada kondisi nyeri otot biasa, menurut Michael, pijat boleh dilakukan. Sebab, pemijatan juga bisa membantu peregangan otot. Nyeri otot biasa perlu mendapat tekanan, tapi ada kondisi nyeri tertentu yang tak boleh dilakukan pemijatan. Kondisi itu antara lain nyeri yang diikuti dengan peradangan, pembengkakan (tumor), warna kulit kemerahan (rubor), permukaan kulit terasa panas saat dipegang (calor), rasa nyeri (dolor), atau penurunan fungsi (fungsiolesa), seperti nyeri sampai tak bisa menunduk atau mengambil barang.

    Selain pijat, penanganan myalgia yang boleh dilakukan adalah penggunaan obat topikal, yakni obat yang penggunaannya di lokasi yang nyeri (lokal), seperti koyo, obat gosok (liniment), dan obat usap (krim atau salep). Bila obat ini belum membantu, barulah obat-obatan penghilang nyeri (analgesik) yang diminum menjadi pilihan, seperti yang mengandung parasetamol atau asam mefenamat.

    Jika dalam tiga hari pengobatan sejak penggunaan obat topikal rasa nyeri otot tak kunjung reda, mau tak mau, penderita harus berobat ke dokter. “Itu bukan myalgia biasa, bisa jadi karena cedera atau hal-hal lain,” kata Michael, “Dokter akan mencari penyebab dan pengobatannya.”

    DWI WIYANA

    Berita terpopuler lainnya:
    Politikus PDIP Akui Sebarkan Pesan Berantai Kebakaran
    Pemain Liga Spanyol Ini Ingin Perkuat Timnas Indonesia

    Marzuki Alie Minta Warga Terima Pemimpin Non Muslim

    Soal Kebakaran, Tim Foke-Nara Laporkan Politisi PDIP

    Iklan Tong Fang Masih Beredar

    Selebaran Megawati, Tim Jokowi-Ahok Cuek

    Rusuh Sampang, Gubernur Diminta Tanggung Jawab

    Tim Jokowi Minta Polisi Usut Video Koboy

    Ibunda Pemimpin Syiah Sampang Kritis

    Sepuluh Rumah Penganut Syiah Sampang Dibakar


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Jejak Fahri Hamzah Dari PKS Ke Partai Gelora Indonesia

    Partai Gelora Indonesia didirikan di antaranya oleh Fahri Hamzah dan Anis Matta pada, 28 Oktober 2019. Beberapa tokoh politik lain ikut bergabung.