Baby Growth Spurts, Waktunya Bayi Rewel

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Bagikan Berita
    Ilustrasi Bayi menangis. TEMPO/Aditia noviansyah

    Ilustrasi Bayi menangis. TEMPO/Aditia noviansyah

    TEMPO.CO, Jakarta - Nur Metasari, 27 tahun, cemas bukan kepalang. Putra pertamanya yang berumur dua bulan, Gading Yudhistira, jadi lebih rewel sepekan belakangan ini. Tak hanya kerap terbangun saat tidur, Gading juga lebih sering minta minum. Jika biasanya Meta menyusui saban dua jam, kini frekuensinya naik dua kali lipat.

    Kendati sudah mendapat cukup air susu ibu, Gading terus menangis kencang dan susah ditenangkan. Kondisi ini kontras dengan beberapa hari sebelumnya, saat si orok mudah pulas dan anteng saat tidur. “Semula saya mengira produksi ASI (air susu ibu) saya kurang, atau dia kelaparan," kata karyawan perusahaan aviasi di Jakarta ini, seperti ditulis Koran Tempo, Senin, 11 Agustus 2014.

    Setelah mengumpulkan informasi dari kolega dan buku, dia mendapati Gading cranky lantaran sedang mengalami baby growth spurts. Baby growth spurts adalah masa percepatan pertumbuhan bayi, baik dari ukuran maupun berat tubuh. Periode ini muncul selama 2-7 hari, saat bayi berusia 6 pekan sampai 9 bulan.

    "Itulah sebabnya bayi membutuhkan asupan ASI lebih banyak," ujar Aman Pulungan, dokter spesialis anak di RS Cipto Mangunkusumo, Jakarta. Dia mengatakan tidak ada waktu pasti terjadinya baby growth spurts, sehingga kemunculannya berbeda pada tiap bayi. "Sesuai potensi genetiknya."

    Hal yang perlu diperhatikan adalah jika ibu merasa ASI-nya tidak cukup, atau ada gangguan dalam produksi air susu. Menurut Aman, hal itu bisa diketahui dengan mengecek frekuensi buang air kecil harian si bayi. Setelah melewati usia lima hari, bayi semestinya buang air kecil 5-6 kali per hari. Adapun jika si orok terlalu rewel, keseringan terbangun malam hari, serta berat badannya tidak meningkat, Anda sebaiknya berkonsultasi kepada dokter.

    Namun tak semua bayi mengalami growth spurts. Bayi yang tidak mengalami fase itu bisa dilihat dari kenaikan berat badan dan tinggi badan yang tak sesuai dengan kurva pertumbuhan ideal. Ketika hal itu terjadi, bisa dikatakan bayi mengalami gagal tumbuh. Penyebabnya adalah si bayi mengalami penyakit kronis atau kekurangan asupan nutrisi, baik dari ASI maupun susu formula.

    ISMA SAVITRI

    Berita Terpopuler
    Cuci Muka dengan Air Kelapa, Jerawat pun Lenyap
    Sundul Bola Berbahaya bagi Anak
    Segudang Manfaat Pepaya 
    Ini Penyebab Muncul Fenomena Jilboobs  


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Ronaldo Cetak Gol ke-800: Ini Jejak Gol Bersejarah CR7

    Ronaldo mencetak 800 gol sepanjang kariernya. Gol itu ia torehkan di laga Liga Inggris melawan Arsenal, 3 Desember lalu. Apa saja gol bersejarahnya?