Harry Ibrahim, Hadirkan Koleksi Bordir di HFW 2015  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Bagikan Berita
    Busana karya desainer Harry Ibrahim di Bandung, 8 Desember 2014. Dok. Ade Oyot

    Busana karya desainer Harry Ibrahim di Bandung, 8 Desember 2014. Dok. Ade Oyot

    TEMPO.CO, Jakarta - Desainer asal Bandung, Harry Ibrahim, menampilkan koleksi busana yang akan ditampilkan dalam Hong Kong Fashion Week 2015, dalam fashion show yang diadakan Yayasan Bordir Jawa Barat di Trans Hotel pada 8 Desember 2014.

    Koleksi busana ini sangat simpel dan modern. Inspirasinya dari kawung dengan siluet H Line dan transparan. Bahan-bahan seperti sifon, tule, dan satin mendominasi 8 karya Harry dengan tema Il Fiore ini.

    Warna-warna gold, silver, dengan detail bordir dan kristal menjadi andalan desainer yang memulai karier pada 2003 ini. Bordir hanya ditempatkan sebagai aksen, di bagian dada, leher, atau punggung. (Baca: Begini 7 Tren Mode Tahun Depan)

    Menurut Harry, delapan busana yang ditampilkan koleksi untuk musim gugur dan dingin. “Saya memang tidak memberi full bordir, karena ini busana untuk produksi massal. Kebetulan ada buyer asal Italia yang memesan sampai 500 potong,” kata Harry.

    Harga yang dibuat juga tidak terlalu tinggi. Antara Rp 1 hingga 2 juta. “Busana couture sulit dilirik di luar negeri, padahal kita membuat koleksi couture. Makanya, saya menggali koleksi simpel dengan ciri ready to wear,” kata Harry.

    Ia menamakan koleksinya memiliki signature structural dengan aplikasi dan siluet sederhana.(Baca: Kesempurnaan Angka 9 ala Arantxa Adi)

    Fashion kini bergeser dari extravaganza yang jadi kuno saat ini. Makanya desainer harus punya second line. Karena masyarakat yang suka pesta bergeser seleranya lebih memilih ready to wear, dan meninggalkan euphoria kemewahannya,” ujar Harry yang enggan membuat baju pria dengan alasan, baju pria kurang imajinatif.

    Bordir menurutnya harus digarap antara sistem komputer dan manual. ”Para pengrajin harus dibuat betah membuat bordiran di daerahnya sendiri, jangan sampai pergi ke kota karena upah yang lebih tinggi,” katanya.

    Sebagai perancang, ia mengaku, dituntut untuk bisa mengolah busana agar bisa bersaing dengan negara lain seperti Cina yang tenaga kerjanya murah.

    EVIETA FADJAR

    Berita Terpopuler
    Indonesia Destinasi Turis Dalam Kesehatan Estika
    Heboh #kodokijo, Modus Iklan Terselubung?
    Tina Toon Berdagang Toko Online
    Gaya Lipstik Oranye Ala Bintang K-Pop


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    PPKM Level 3 selama Nataru Batal, Ini Aturan Baru yang Diterapkan

    Rencana PPKM Level 3 di seluruh tanah air selama Natal dan Tahun baru telah batal ditetapan. Gantinya, ada aturan baru pengganti pada periode Nataru.