Rabu, 24 Oktober 2018

Teror Bom, Orang Tua Lakukan Ini agar Anak Tidak Trauma

Reporter:
Editor:

Mitra Tarigan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sejumlah anak bermain di teras rumah yang hancur pacsakonflik antarwarga di desa Kusumadadi, Kecamatan Bekri, Lampung Tengah, Minggu (11/11). Anak anak di desa tersebut mengalami trauma serta rasa takut  pacsa konflik dan sampai saat ini belum ada upaya pemerintah untuk memulihkan psikologis  mereka. TEMPO/Marifka Wahyu Hidayat

    Sejumlah anak bermain di teras rumah yang hancur pacsakonflik antarwarga di desa Kusumadadi, Kecamatan Bekri, Lampung Tengah, Minggu (11/11). Anak anak di desa tersebut mengalami trauma serta rasa takut pacsa konflik dan sampai saat ini belum ada upaya pemerintah untuk memulihkan psikologis mereka. TEMPO/Marifka Wahyu Hidayat

    TEMPO.CO, Jakarta - Teror Bom yang terjadi di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia, oleh pihak-pihak yang tidak bertanggungjawab selain mengakibatkan kematian juga menyisakan dampak yang sangat buruk, khususnya kepada anak. Menurut akademisi psikologi di Bina Nusantara University Nanang Suprayogi dampak terburuk dari teror bom terhadap psikologis anak adalah trauma. "Ini (teror bom) akan mengakibatkan trauma yang berkepanjangan, mereka yang terekspos ledakan berisiko mengalami trauma terhadap kerumunan," katanya Selasa 15 Mei 2018. Baca: Sebelum Usia 25, Penuhi Zat Kalsium Agar Tidak Osteoporosis

    Pada prinsipnya, trauma yang dialami sama dengan yang dialami orang dewasa, namun trauma pada anak-anak bisa lebih parah karena teridentifikasi terkait dengan materi peledak. Mereka bisa trauma dengan barang seperti panci, paku, paralon atau benda lain yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Trauma juga bisa terjadi pada orang-orang yang identik terduga pelakunya. Anak bisa mengidentifikasinya baik dalam gaya berpakaian, penampilan, perilaku maupun tutur kata.

    Dampak buruk berikutnya adalah fobia. Dalam psikologis, secara sederhana fobia adalah rasa ketakutan atau kekhawatiran yang berlebihan. Nanang mengatakan sebaiknya para orang tua atau mereka yang mengasuh harus menghalangi konten vulgar yang dapat dilihat atau didengar oleh anak. Terutama terhadap foto-foto, video atau konten apapun yang memperlihatkan korban tewas dan luka-luka. "Misalnya saat nonton televisi, ada berita yang menayangkan gambarnya, kemudian ada anak kita ikut menonton, alihkan saya channelnya ke acara yang lain," katanya. Baca: Tips agar Pekerjaan Rumah Tidak Ganggu Ibadah Bulan Puasa

    Bila anak sampai melihatnya maka membuka peluang konten itu akan diingat anak sampai dewasa. Namun bila sudah terlihat anak, maka orang tua atau pengasuh harus segera menjelaskan bahwa tindakan itu dilakukan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Apalagi jika sampai orang tua atau pengasuh malah ikut-ikutan menyebarkan konten-konten tersebut baik di media-media sosial atau media lainnya. "Justru itu akan membantu pelaku menyebarkan teror kepada orang lain dan anak sendiri," katanya. Baca: Aksi Teroris: Waspada Penyakit Semakin Parah, Ini Penjelasan Ahli

    Kemudian, dalam kondisi seperti ini yang perlu dilakukan orang tua adalah mengajak anaknya secara bersama mendoakan para korban dan memberikan pemahaman bagaimana menjadi umat beragama dan warga negara yang baik. Pemahaman berdasarkan kaidah-kaidah agama yang benar dan aturan-aturan yang berlaku di negara ini.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Saham Lippo yang Jebol dan yang Melambung Dihantam Kasus Meikarta

    Jebloknya saham perusahaan-perusahaan Grup Lippo telah dimulai Selasa 16 Oktober 2018, sehari setelah KPK menangkap dan menetapkan Bupati Bekasi.