Kurang Zat Besi Pengaruhi Kecerdasan Anak, Cegah dengan Cara Ini

Reporter:
Editor:

Mila Novita

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi anak tidak konsentrasi saat belajar. shutterstock.com

    Ilustrasi anak tidak konsentrasi saat belajar. shutterstock.com

    TEMPO.CO, Jakarta - Dua tahun pertama setelah dilahirkan menjadi periode emas tumbuh kembang anak. Bukan hanya fisik, pertumbuhan otak yang optimal juga terjadi di usia ini. Itu sebabnya, anak membutuhkan banyak nutrisi penting, salah satunya zat besi.

    Baca: Kenapa Anak Tak Boleh Kekurangan Zat Besi? Cek Penjelasan Ahli

    Zat besi menjadi komponen penting dalam pembentukan hemoglobin dalam darah. Hemoglobin berfungsi megantarkan oksigen ke seluruh organ tubuh, termasuk otak. Kekurangan mineral ini akan menimbulkan anemia defisiensi zat besi pada anak. Apa dampaknya?

    Dokter spesialis anak konsultan Endang Widiastuti mengatakan, anemia defisiensi zat besi dapat mempengaruhi tumbuh kembang anak, juga perkembangan otaknya. “Pembentukan saraf mulai dari pengantar dan saraf itu sendiri membutuhkan zat besi. Zat besi juga bekerja pada enzim-enzim untuk pengantar saraf di otak. Makanya ketika dua tahun pertama anak sangat membutuhkan zat besi,” kata dia di Jakarta, Sabtu, 6 April 2019.

    Ditambahkan Dr. dr. Setyo Handryastuti, Sp.A (K), salah satu bagian dari sel saraf itu adalah akson. Akson ini dibungkus oleh lapisan yang disebut myelin yang fungsinya mengantarkan informasi dari satu sel saraf ke sel saraf yang lain.

    “Mielin itu membutuhkan zat besi sebagai salah satu komponennya. Makin bagus myelin, makin cepat anak belajar,” kata dia.

    Selain itu, zat besi juga bekerja untuk neurotransmitter, yaitu zat kimia yang menghubungkan otak dengan saraf. Menurut Handry, zat inilah yang mengatur perilaku manusia. “Kalau kekurangan zat besi akan mempengaruhi neurotransmitter, jadi atensi atau focus anak akan kurang,” ujar dia.

    Zat besi bisa didapatkan dari air susu ibu atau ASI dan makanan. Jadi, penting bagi anak untuk mendapatkan ASI hingga dua tahun dan mengonsumsi makanan yang mengandung zat besi tinggi. 

    Makanan yang mengandung zat besi dibagi menjadi dua kelompok, antara lain heme yang berasal dari hewan seperti daging, hati, ikan, dan ayam; serta nonheme yang berasal dari sayuran seperti sayuran hijau seperti bayam dan brokoli, kacang-kacangan, dan tahu tempe.

    Umumnya, kekurangan zat besi terjadi karena pola makan anak yang buruk, penyerapan makanan yang kurang baik, cacingan, infeksi menahun, dan penyakit tertentu.

    Baca: Ketahui Bahaya jika Tubuh Kelebihan Zat Besi  


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Lika-Liku Calon Wakil Gubernur DKI Jakarta Pengganti Sandiaga Uno

    Kursi Wakil Gubernur DKI Jakarta kosong sejak Agustus 2018. Pada Januari 2020, Partai Keadilan Sejahtera dan Partai Gerindra mengajukan dua nama.