Obat Sirup Mampu Menekan Batuk, tapi Ada Efek Sampingnya

Reporter:
Editor:

Mila Novita

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi sirup obat batuk (pixabay.com)

    Ilustrasi sirup obat batuk (pixabay.com)

    TEMPO.CO, Jakarta - Obat berbentuk sirup menjadi pilihan banyak orang untuk meredakan batuk. Rasanya manis dan langsung terasa di tenggorokan. Seperti sugesti, setelah minum obat sirup, kita pun merasa lebih baik dan seketika mampu meredakan batuk yang menyerang.

    Baca: Ini Etika Batuk Saat Tak Ada Tisu atau Saputangan Penutup Mulut

    Namun, benarkah batuk benar-benar reda setelah minum obat sirup? Pemakaian obat ini dianggap mampu menekan batuk karena mengandung pholcodine atau dekstrometorfan yang berfungsi memberi tahu otak untuk menghentikan refleks batuk.

    Namun, menurut penelitian yang dilakukan di Amerika Serikat, meminum obat batuk sirup rupanya dapat membuat seseorang menjadi pusing, mengantuk, dan cepat lelah. Ini disebabkan oleh kandungan guaifenesin yang pengencer dahak, ekspektoran.

    “Apabila kondisi Anda berada di tempat tidur, minum obat sirup seperti ini memang sangat melegakan. Tapi akan berakibat tidak begitu baik apabila Anda dalam keadaan mengemudi,” kata penasihat ilmiah senior di American Lung Association, Norman Edelman.

    Bahaya lain datang dari antihistamin yang terkandung di dalamnya. Zat ini bertujuan meredam gejala pilek, tapi dapat membuat Anda mengantuk, berhalusinasi dan dada yang berdebar-debar. Bahkan, efek samping lainnya yang tanpa disadari adalah tidak adanya jaminan bahwa obat batuk akan menghentikan Anda dari batuk.

    “Meskipun mungkin sepintas membuat Anda jatuh tertidur, belum tentu obat tersebut memberikan efek dan bekerja pada tubuh Anda,” katanya.

    Beberapa penelitian lain juga memaparkan tentang pemakaian obat batuk sirup yang tidak terbukti melegakan atau meredakan batuk. Melansir dari Healthylife, Komisi Obat Manusia (CHM) mengatakan bahwa obat batuk sirup dengan jenis bahan tertentu tidak boleh diberikan kepada anak di bawah usia enam tahun karena risikonya lebih besar dibanding manfaatnya. Justru, pemberian obat batuk ini membuat cepat lelah dan terkadang diserang rasa mudah mengantuk.

    Selain itu, obat batuk sirup umumnya mengandung kodein yang harus dihindari anak-anak dan dewasa yang berpengaruh terhadap metabolisme tubuh. Sebuah penelitian yang dilakukan Kelompok Infeksi Pernapasan Akut Cochrane juga memaparkan bahwa obat batuk sirup dianggap memiliki kualitas rendah dengan hasil yang bertentangan untuk sembuh atau pulih.

    BacaWaspadai Batuk yang Tak Kunjung Sembuh, Bisa Jadi Penyakit Kronis

    SARAH ERVINA DARA SIYAHAILATUA | GUARDIAN | HEALTHYLIFE


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tingkat Kepuasan Kinerja dan Catatan Baik Buruk 5 Tahun Jokowi

    Joko Widodo dilantik menjadi Presiden RI periode 2019 - 2024. Ada catatan penting yang perlu disimak ketika 5 tahun Jokowi memerintah bersama JK.