Kos Mewah Mahasiswa di Yogyakarta, Bonus Tiket Nonton Bioskop!

Reporter:
Editor:

Mitra Tarigan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Penghuni menggunakan fasilitas kost eksklusif Rukita Karawaci, Curug, Tangerang, Banten, 13 Juni 2019. TEMPO/Nurdiansah

    Penghuni menggunakan fasilitas kost eksklusif Rukita Karawaci, Curug, Tangerang, Banten, 13 Juni 2019. TEMPO/Nurdiansah

    TEMPO.CO, Jakarta - Kos mahasiswa semakin banyak ragamnya. Anda bisa saja mendapatkan berbagai fasilitas unik kos mahasiswa. Salah satu mahasiswa yang memiliki kamar kos dengan layanan “serba ada” adalah Alifia Heibinia, 22 tahun. Sudah dua tahun mahasiswa Jurusan Komunikasi Universitas Atma Jaya Yogyakarta itu menghuni rumah kos yang menyebut dirinya “kos eksklusif khusus perempuan”. Namanya Kost Exclusive The Aryana. Lokasinya di Caturtunggal, Depok, Sleman.

    Baca: Fasilitas Mentereng Kamar Kos Mahasiswa, Ada Kolam Renang Indoor

    Suasana kamar hotel begitu terasa saat memasuki kamar kos eksklusif itu. Dindingnya bernuansa hijau. Fasilitas di dalam kamar meliputi kasur berukuran 120 x 200 sentimeter, meja belajar, lemari baju, lemari buku, lemari simpan, kulkas, AC, Wi-Fi, juga televisi LED 32 inci. Pengelola kos melengkapi televisi dengan siaran TV kabel.

    Kamar mandi di dalam kamar dilengkapi dengan shower yang menyediakan air panas. Belum lagi petugas cleaning service yang membersihkan kamar dua hari sekali. Baju-baju kotor setiap penghuni pun dicucikan dua hari sekali. “Biaya laundry dan listrik sudah jadi satu dengan biaya sewa kamar. Tanpa tambahan lagi,” kata Alifia kepada Tempo, Rabu 12 Juni 2019.

    Mahasiswa asal Bali itu sebelumnya menghuni sebuah kamar kos di tempat lain, sebelum memutuskan pindah ke rumah kos tersebut. Ia beralasan ingin mencari kamar yang lebih luas dengan fasilitas lebih lengkap. “Sama-sama eksklusif, sih. Di atas Rp 2 juta per bulan. Tapi yang ini lebih lengkap.”

    Ada 20 kamar di rumah kos yang ditempati Alifia, tapi mempunyai kelas berbeda seperti hotel. “Hanya beda ukuran kamar dan harga,” kata Alifia, yang memilih kamar kelas deluxe. Kamar kelas reguler berukuran 3 x 3,5 meter di rumah kos Alifia dibanderol Rp 2 juta per bulan. Kamar kelas deluxe ukuran 3 x 4 meter seharga Rp 2,2 juta per bulan dan kamar superior berukuran 4 x 6 meter seharga Rp 2,5 juta per bulan.

    Setiap pagi, para penghuni mendapat sarapan pagi berupa jajanan pasar atau nasi uduk dan nasi kuning. Agar mereka betah, pengelola juga menyediakan dua tiket nonton film di bioskop XXI setiap bulan. Penghuni tinggal menghubungi petugas keamanan rumah kos agar dipesankan tiket dan kemudian dikirimkan kepada pemesan dengan fasilitas barcode. “Terserah mau nonton film apa dan jam berapa,” kata Alifia.

    Meski mendapatkan fasilitas seperti itu, Alifia tetap menambah pernak-pernik yang tak disediakan pengelola, seperti rak sepatu, rice cooker, serta sejumlah piring dan gelas untuk kebutuhan pribadi. Keuntungan lain yang didapatkannya dari kamar kos ini adalah jarak yang relatif dekat dengan kampusnya, sekitar 10-15 menit dengan berjalan kaki.

    Hanya, di rumah kos baru ini, Alifia merasa tak nyaman dengan aturan pengelola yang tidak memperbolehkan ayahnya menginap di kamarnya. Hanya ibunya yang diperbolehkan. “Padahal, Papa datang bersama Mamaku. Masak enggak boleh menginap? Aku sempat ngotot soal ini,” kata Alifia kesal.

    Layanan kos mewah tersebar pula di berbagai kawasan kampus. Beberapa rumah-rumah kos dengan fasilitas wah di sekitar Universitas Pelita Harapan. Di kampus-kampus lain seperti di Universitas Indonesia, Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, Universitas Padjadjaran Bandung, Institut Pertanian Bogor, dan berbagai perguruan tinggi swasta juga mulai dikelilingi rumah-rumah kos dengan fasilitas mentereng. Begitu tahun ajaran baru tiba, mahasiswa-mahasiswa baru dari berbagai daerah segera berburu kamar-kamar kos di lokasi favorit di dekat kampus itu. Sebagian dari mereka tak mempersoalkan jika mereka harus merogoh kocek lebih dalam.

    PITO AGUSTIN RUDIANA | ADE RIDWAN YANDWIPUTRA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.