Sutopo Perokok Pasif, Ini Alasan Perlu Kawasan Tanpa Rokok

Reporter:
Editor:

Mila Novita

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi larangan merokok. Ulrich Baumgarten/Getty Images

    Ilustrasi larangan merokok. Ulrich Baumgarten/Getty Images

    TEMPO.CO, Jakarta - Kematian Kepala Pusat Data, Informasi, dan Hubungan Masyarakat Badan Nasional Penanggulangan Bencana atau BNPB Sutopo Purwo Nugroho seharusnya membuka mata semua pihak terhadap arti penting kawasan tanpa rokok. Kawasan ini mutlak diperlukan untuk melindungi masyarakat dari paparan asap rokok agar tidak menjadi perokok pasif.

    Baca juga: Belajar Menolak Rokok dari Swedia, Prancis, Amerika Serikat

    Hal itu diungkapkan Ketua Pengurus Harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) Tulus Abadi. "Sangat mendesak agar semua tempat kerja dan tempat umum menjadi kawasan tanpa rokok, tanpa kompromi," kata dia melalui pesan tertulis yang diterima di Jakarta, Senin, 8 Juli 2019.

    Menurut Tulus, Sutopo adalah salah satu putra terbaik bangsa Indonesia yang lagi-lagi harus tumbang karena kanker. Sutopo meninggal di Guangzhou, China, Ahad, 7 Juli 2019, saat menjalani pengobatan akibat kanker paru stadium IVB. 

    Sutopo mengaku menjaga perilaku hidup sehat dan tidak merokok, tetapi juga menyatakan kerap mendapati lingkungan kerja yang penuh asap rokok dan tidak bisa menghindar.

    "Dalam hal sebagai perokok pasif, Pak Sutopo tidak sendirian. Secara nasional, menurut Riset Kesehatan Dasar 2013, jumlah perokok pasif mencapai lebih dari 90 juta orang, 12 juta lebih adalah anak usia nol hingga empat tahun," kata Tulus.

    Ia mengatakan para perokok pasif kebanyakan terpapar asap rokok di tempat kerja bahkan di dalam rumahnya sendiri. "Faktor risiko perokok pasif terkena kanker paru adalah empat kali lipat, sedangkan perokok aktif 13,6 kali lipat," katanya.

    Oleh karena itu, YLKI mendesak semua pihak dan para pimpinan wilayah untuk mewujudkan kawasan tanpa rokok, khususnya di tempat kerja, tempat umum, dan angkutan umum.

    Baca juga: Perokok Pasif Berisiko 4 Kali Lebih Tinggi Terkena Kanker Paru

    "Menghirup udara yang sehat tanpa kontaminan racun asap rokok adalah hak asasi setiap orang di mana pun tempatnya," kata dia.

    ANTARA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Negara-negera yang Sudah Melakukan Vaksinasi Anak di Bawah 12 Tahun

    Di Indonesia, vaksin Covid-19 baru diberikan ke anak usia 12 tahun ke atas. Namun beberapa negara mulai melakukan vaksinasi anak di bawah 12 tahun.