Dapat Undangan Nikah Mantan? Perhatikan 4 Hal Ini Sebelum Hadir

Reporter:
Editor:

Mila Novita

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • ilustrasi pernikahan (pixabay.com)

    ilustrasi pernikahan (pixabay.com)

    TEMPO.CO, Jakarta - Mantan istri Tommy Kurniawan, Tania Nadira, menikah lagi pada Jumat, 26 Juli 2019, di Gedung Tribrata, Jakarta Selatan. Akad nikah itu dihadiri sejumlah pesohor Tanah Air, termasuk Sandiaga Uno dan Ayu Ting Ting. Bagaimana dengan Tommy  Kurniawan? Tania yang menikah dengan Abdullah Alwi itu mengaku sudah mengundang mantan suaminya.

    Seperti Tommy Kurniawan, menerima undangan pernikahan dari mantan pasangan bisa menimbulkan campuran emosi. Sulit memutuskan apakah akan menghadiri acara tersebut atau tidak. Jadi, sebelum memutuskan, sebaiknya Anda mempertimbangkan hal-hal berikut ini.

    1. Apa alasan mantan mengundang Anda?

    Dalam situasi yang ideal, mantan akan mengundang ke pernikahannya karena ia masih menganggap Anda teman yang baik. Jadi, ia ingin Anda berada di sana untuk salah satu momen terpenting dalam hidupnya.

    Tapi banyak juga motif lain yang perlu Anda pertimbangkan, misalnya mungkin saja mantan mengundang agar Anda cemburu dan menyesal. Jika Anda curiga bahwa undangan itu dikirim karena alasan lain selain persahabatan, Anda perlu mempertimbangkan lagi apakah menghadiri pernikahan ini adalah yang terbaik semua orang.

    2. Perlukah membawa pasangan?

    Mungkin akan ada rasa tidak nyaman melihat mantan duduk di pelaminan bersama dengan orang lain. Jika ini membuat Anda gugup, ada baiknya membawa teman atau pasangan. Hadir berdua dengan teman atau pasangan akan mengurangi pertanyaan tentang status Anda setelah berpisah dengan mantan.

    Tapi jika tidak punya pasangan, pertimbangkan untuk hadir sendiri. Cobalah memperkirakan apakah Anda akan merasa nyaman. Jika tidak, sebaiknya tolak dengan sopan undangan dari mantan.

    3. Apakah Anda dan mantan memiliki anak bersama?

    Jika Anda memiliki anak dengan mantan, bisa jadi anak adalah alasan utama Anda diundang. Ini akan membantu anak merasa nyaman dengan pernikahan mantan dengan orang lain.

    "Jika anak-anak Anda masih merasa gugup tentang pernikahan, dan Anda dan mantan Anda berhubungan baik dan Anda merasa bahwa ini adalah hal yang baik, silakan hadir," tulis Ivy Jacobson di The Knot, seperti dikutip Insider.

    Tapi, jika Anda dan mantan Anda tidak dekat dan Anda merasa kehadiran Anda akan menyebabkan ketegangan, jangan ragu untuk melewatkan undangan pernikahan itu.

    4. Mampukah bersikap bijaksana?

    Sebagian orang mudah mengungkapkan hal yang ada di benaknya, tanpa berpikir panjang. Dan pernikahan mantan akan menjadi pemicu Anda untuk bersikap tidak bijaksana, misalnya mengucapkan hal-hal yang tidak baik tentang pasangan baru mantan.

    Hindari membandingkan diri Anda dengan pasangan baru mantan Anda, jangan mengemukakan semua hal menyenangkan yang Anda berdua lakukan bersama, dan jangan memperkenalkan diri Anda sebagai "mantan."

    "Dalam situasi apa pun, sebaiknya jangan menjadikan diri Anda sebagai pusat perhatian," kata pakar tata cara New York Myka Meier, pendiri Beaumont Etiquette, kepada New York Post. "Samarkan latar belakang, hormati, dan perhatikan ekspresi wajah Anda.”

    Jika Anda tidak yakin bisa datang ke pernikahan tanpa menimbulkan drama, sebaiknya jangan pergi.

    5. Apakah masih menyimpan perasaan ke mantan?

    Ada beberapa tanda bahwa masih ada yang belum selesai antara Anda dan mantan, misalnya berdebar ketika membaca nama mantan di undangan atau mual membayangkan ia dan pasangan barunya. Jika Anda masih memiliki perasaan pada pasangan, sebaiknya jangan menghadiri pernikahan.

    "Jika masih berpegang pada hubungan masa lalu Anda dengan orang ini dan berharap bahwa ada kemungkinan menghidupkan kembali romansa lama, maka Anda benar-benar tidak boleh ada di sana," Jen Siomacco, kreatif direktur perusahaan Pernikahan Catalyst, dalam sebuah posting.

    "Dia telah membuat keputusan untuk berkomitmen pada orang lain, dan jika Anda tidak bisa menghadiri pernikahan dan sepenuhnya mendukung keputusan mereka, maka kamu harus tetap di rumah."

    INSIDER | NEW YORK POST 


     


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.