RSCM dan Kimia Farma Segera Dirikan Pusat Produksi Sel Punca

Reporter:
Editor:

Mitra Tarigan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi sel punca. wikipedia.org

    Ilustrasi sel punca. wikipedia.org

    TEMPO.CO, Jakarta - Sel punca atau stemcell sangat bermanfaat dalam bidang kesehatan. Selain mampu untuk berkembang menjadi berbagai jenis sel-sel yang spesifik untuk menciptakan jaringan tubuh, sel ini juga mampu berubah menjadi berbagai jenis sel matang yang khas, bisa beregenerasi sendiri, dan pada dasarnya merupakan blok pembangun pada tubuh manusia.

    Hasilnya, berbagai masalah kesehatan khususnya penyakit degeneratif yang sangat merugikan pada organ tulang, sel otot, sel saraf, sel darah merah, atau sel otak pun bisa disembuhkan. Selain sel punca itu sendiri, produk metabolitnya juga memiliki kandungan berbagai faktor pertumbuhan untuk menunjang regenerasi jaringan dan fungsi organ.

    Melihat potensi yang positif ini, Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo dan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia yang bekerjasama dengan PT. Kimia Farma berencana untuk mengusung proyek pendirian Pusat Produksi Sel Punca dan Produk Metabolit Nasional (PPSPPMN). Lembaga ini akan diresmikan Menteri Riset Teknologi/Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional Bambang Permadi Soemantri Brodjonegoro, pada Selasa 17 Desember 2019 di Ruang Senat Akademik Fakultas, FKUI, Salemba, Jakarta.

    Harapannya, pusat produksi sel punca ini bisa menjadi terobosan dan inovasi bagi Indonesia. Saat ini, Indonesia menjadi salah satu negara yang sudah melakukan pelayanan terapi sel punca bagi pasien umum di berbagai rumah sakit, sedangkan beberapa negara lain tidak memilikinya. Sehingga nanti, kegiatan ini bisa meningkatkan potensi adanya medical tourism karena kedepannya pelayanan terapi sel punca bagi pasien umum ini tidak hanya untuk bagi pasien dalam negeri, tetapi juga pasien dari mancanegara.

    Pusat produksi sel punca ini juga diharapkan mampu memproduksi berbagai jenis sel punca, baik autogenik maupun autologus, serta produk metabolit sel punca yang teregistrasi dan dapat diproduksi secara massal serta dikomersialisasikan. Hal ini sejalan dengan upaya mewujudkan kemandirian dan meningkatkan daya saing industri farmasi dan alat kesehatan dalam negeri melalui percepatan pengembangan industri farmasi dan alat kesehatan hasil inovasi anak bangsa.

    Hingga saat ini sudah lebih dari 300 orang pasien yang dilakukan terapi sel punca yang dibiayai dari berbagai hibah kompetitif senilai lebih dari Rp 36 miliar. Ke depannya, penelitian sel punca akan dikembangkan untuk pengobatan gagal ginjal akut, nerve regeneration, demensia, alzheimer dan penyakit-penyakit yang tidak lagi memberi respon dengan pengobatan konvensional lainnya.

    NB : Berita ini telah mengalami perubahan judul pada 17 Desember 2019 pukul 06.20. Kami sampaikan permohonan maaf.  


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Cesium 137 dan Bahaya Radiasi Pada Tubuh Manusia

    Cesium 137 adalah bahan radioaktif yang digunakan berbagai industri dan pengobatan. Bila salah dikelola, bahan itu akan menimbulkan sejumlah penyakit.