Kenali Disleksia pada Anak, Cek Tandanya

Reporter:
Editor:

Yayuk Widiyarti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi disleksia/belajar dengan anak. Shutterstock

    Ilustrasi disleksia/belajar dengan anak. Shutterstock

    TEMPO.CO, Jakarta - Disleksia adalah gangguan belajar yang ditandai dengan kurangnya kemampuan membaca, dialami anak-anak dengan penglihatan dan intelektual normal. Gejala termasuk terlambat bicara, lambat belajar kata-kata baru, dan membaca.

    Sebagian besar anak yang mengidap disleksia dapat berhasil di sekolah dengan bimbingan atau program pendidikan khusus. Penelitian mutakhir neuroimaging pada bayi dan balita menunjukkan disleksia berhubungan dengan perubahan struktural pada bagian otak yang mempengaruhi kemampuan membaca.

    Tetapi, terlepas dari akar neurobiologis disleksia, sekelompok kesalahpahaman masih ada. Disleksia tidak secara langsung merupakan masalah pemahaman, meskipun anak-anak yang kesulitan membaca dapat mengembangkan masalah pemahaman. Disleksia juga tidak disebabkan oleh defisit visual. Sederhananya, disleksia tidak melihat kata-kata dan atau huruf mundur, terbalik, campur aduk, atau dialihkan.

    Tapi, sebuah makalah tahun 2009 dari American Academy of Pediatrics menyatakan dengan tegas bahwa masalah penglihatan bukanlah penyebab disleksia. Seperti yang dianjurkan oleh organisasi profesional, seperti Asosiasi Disleksia Internasional, Asosiasi Literasi Internasional, dan Asosiasi Ketidakmampuan Belajar Amerika, prediksi awal dan identifikasi anak-anak dengan disleksia sangat penting untuk menentukan pola pengajaran efektif untuk anak dengan disleksia.

    Ketika orang tua dan pendidik anak usia dini memahami disleksia sebagai defisit dalam kemampuan anak untuk memahami struktur suara, mereka lebih siap untuk mengamati beberapa tanda peringatan dini. Kesadaran fonologis adalah keterampilan dasar melek huruf, itu memungkinkan anak-anak untuk mengambil aliran bahasa lisan dan membaginya menjadi kata-kata individual, kata-kata menjadi suku kata, dan suku kata menjadi suara-suara individu.

    Tanpa keterampilan kesadaran fonologis yang kuat, anak berjuang untuk mencocokkan nama-nama huruf dengan bunyi yang sesuai, misalnya huruf M dan bunyi yang sesuai, berjuang untuk membagi kata-kata menjadi bagian-bagian, dan berjuang untuk menggabungkan suara individu menjadi kata-kata yang lebih besar.

    Kita sekarang tahu bahwa prekursor disleksia terlihat sedini mungkin sejak usia 3 tahun, ditunjukkan dalam kelemahan dalam keterampilan fonologis, pengetahuan huruf, penamaan cepat, dan memori kerja. Tidak satu pun dari perilaku ini yang berdiri sendiri dalam diagnosis disleksia, tetapi berikut ini adalah penanda awal disleksia, seperti dikutip dari psychologytoday.com.

    Riwayat keluarga dan riwayat medis
    -Kemungkinan memiliki riwayat keluarga disleksia
    -Memiliki Attention Deficit Disorder / Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADD / ADHD)
    -Memiliki kelainan bahasa perkembangan
    -Mengalami dispraksia, kelainan dalam koordinasi perkembangan

    Tanda potensi disleksia pada balita dan anak prasekolah
    -Mengalami kesulitan mengucapkan kata-kata, misal Busgetti untuk spagetti, aminal untuk hewan)
    -Tidak dapat mengingat kata yang tepat
    -Mengalami kesulitan mengenali dan mengingat sajak
    -Mengalami keterlambatan dalam pengembangan atau produksi pidato
    -Dapat menggunakan bahasa yang ambigu atau perjuangan untuk memberikan kata-kata tertentu
    -Mengalami kesulitan mempelajari atau mengingat nama surat
    -Tidak bisa mengenali huruf-huruf itu pada namanya sendiri

    Tanda potensi disleksia di taman Kanak-kanak dan kelas 1
    -Mengalami kesulitan memanipulasi bagian kata
    -Tidak bisa mengeluarkan kata-kata sederhana seperti peta, kelelawar, babi
    -Mengalami kesulitan mengidentifikasi suara dalam sebuah kata
    -Mengalami kesulitan mengidentifikasi suara
    -Dapat membuat kesalahan membaca lisan yang terputus dari kata-kata di halaman
    -Memberi ejaan/tulisan yang biasanya sulit diuraikan

    Tanda-tanda potensial disleksia di kelas 2 dan lebih lanjut
    -Menunjukkan frustrasi, seperti menghindari membaca, mengeluh membaca itu terlalu sulit
    -Mengalami kesulitan dengan tulisan tangan
    -Mengalami kesulitan dengan ejaan
    -Mengalami kesulitan menguraikan kata-kata yang tidak dikenal
    -Dapat menunjukkan pembacaan yang lambat atau melelahkan
    -Berjuang untuk mengingat atau memahami apa yang dibaca
    -Mengalami kesulitan mengingat kata-kata frekuensi tinggi
    -Perlu waktu tambahan untuk memberikan tanggapan lisan terhadap pertanyaan


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kemenag Berikan Pedoman Berkegiatan di Rumah Ibadah saat Pandemi

    Kementerian Agama mewajibkan jemaah dan pengurus untuk melaksanakan sejumlah pedoman ketika berkegiatan di rumah ibadah saat pandemi covid-19.