Wabah Virus Corona, Indonesia Buru Masker, Luar Negeri Cari Tisu

Reporter:
Editor:

Yayuk Widiyarti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Orang-orang mengantre ketika mereka menunggu untuk membayar belanjaannya di supermarket saat wabah Virus Corona terus menjalar di sejumlah negara, di Mexico City, Meksiko 13 Maret 2020. REUTERS/Henry Romero

    Orang-orang mengantre ketika mereka menunggu untuk membayar belanjaannya di supermarket saat wabah Virus Corona terus menjalar di sejumlah negara, di Mexico City, Meksiko 13 Maret 2020. REUTERS/Henry Romero

    TEMPO.CO, Jakarta - Virus corona yang menyebar di berbagai negara di dunia membuat masyarakat takut dan panik. Sebagai bentuk antisipasi dari masalah kesehatan ini, tak sedikit orang berbelanja bekal persiapan. Sebenarnya, ini adalah hal biasa dan dikategorikan sebagai disaster panic.

    “Ini adalah suatu aktivitas dimana orang-orang mulai berbelanja berbagai persediaan karena tahu akan terjadi kekacauan,” kata pakar konsumen dan ilmu perilaku di University College London, Dimitrios Tsivrikos, seperti yang dilansir dari situs Sky.

    Ternyata, ada perbedaan pilihan berbelanja dari masyarakat di dunia. Indonesia misalnya, masyarakatnya memburu masker sebab penularan COVID-19 memang dilakukan lewat percikan (droplets) air liur. Dengan menggunakan masker, tentu pencegahan saat melakukan kontak erat dengan pasien bisa dilakukan.

    Berbeda dari Tanah Air, negara-negara di Eropa dan Amerika Serikat justru berburu tisu toilet. Apa yang menyebabkan hal ini terjadi? Psikolog berbelanja di Universitas Seni London, Paul Marsden menjelaskan ini disebabkan oleh rasionalitas masyarakat yang mulai menurun akibat rasa panik.

    Pertama, orang yang dalam keadaan kalut melihat sesuatu dengan volume besar sebagai perlindungan.

    “Itu sebabnya ketika mereka melihat tisu toilet dengan bentuk besar dan bervolume di supermarket, langsung dijadikan tujuan utama,” katanya seperti yang dilansir dari situs CNBC.

    Selain itu, ada pula istilah fear contagion. Asisten profesor jurusan psikologi sosial di Universitas Cambridge, Sander van der Linden, menjelaskan bahwa ini adalah suatu kondisi di mana masyarakat merasa takut jika melihat banyak stok yang hilang akibat diborong.

    “Ini seperti sinyal untuk mereka agar melakukan hal serupa,” katanya.

    Tak heran, di tengah kekalutan, Van der Linden mengimbau agar masyarakat tetap tenang agar bisa berpikir rasional. “Jangan mudah terpapar berita dan pesan singkat dari grup di media sosial. Perbanyak informasi yang valid agar bisa membekali diri dengan baik saat COVID-19,” katanya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Pelonggaran Kembali PPKM: Aturan Baru WFO, Bioskop, dan Anak-anak

    Pemerintah kembali melonggarkan sejumlah aturan PPKM yang berlaku hingga 4 Oktober 2021. Pelonggaran termasuk WFO, bioskop, dan anak-anak di mall.