Jadi Korban PHK, Pahami 4 Dampak Psikologisnya Menurut Ahli

Reporter:
Editor:

Mitra Tarigan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • ilustrasi berhenti kerja/PHK. Shutterstock

    ilustrasi berhenti kerja/PHK. Shutterstock

    TEMPO.CO, Jakarta - Berdasarkan data dari Kementerian Ketenagakerjaan per 1 Mei 2020, pemutusan hubungan kerja (PHK) dan dirumahkan akibat pandemi Covid-19 telah dialami 2,9 juta karyawan. Tentunya, ini bukan kabar baik lantaran berbagai dampak negatif bisa ditimbulkan.

    Dari sisi psikologi, psikolog Retno Dewanti Purba mengatakan bahwa setidaknya terdapat empat akibat yang bisa dirasakan karyawan karena PHK. Pertama dari fungsi diri yang terganggu. Ia menjelaskan bahwa bagi banyak individu, karier dan pekerjaan merupakan media aktualisasi diri yang memberikan seseorang arti dan tujuan hidup, sense of accomplishment, dan self-efficacy.

    “Sehingga saat media untuk melakukan aktualisasi diri itu hilang, maka seseorang akan merasakan fungsi dirinya terganggu sehingga dapat turut mengganggu kualitas hidupnya secara umum,” katanya dalam R&R Talks Sesi 2 #NgobrolPakaiHati pada Rabu, 20 Mei 2020.

    Selain itu, identitas dan tingkat kepercayaan diri juga akan terganggu. Sebab saat kehilangan pekerjaan secara mendadak, bisa saja individu merasa salah satu bagian dari jati dirinya tercabut. “Hal ini bisa menimbulkan rasa putus asa, meragukan diri sendiri, kecemasan, depresi, hingga merasa diri tidak berharga (low self-esteem),” katanya.

    Adapun dampak psikologis lain yang bisa dirasakan, termasuk hilangnya rasa nyaman. Menurut Retno, selain financial security atau keamanan ekonomi, pekerjaan memberikan rasa aman dengan memberikan predictability terhadap masa depan. “Itulah kenapa saat pekerjaan hilang, rasa takut dan kenyamanan itu ikut terguncang,” katanya.

    Terakhir, rasa kehilangan koneksi sosial rentan dialami. Sebab selain kehilangan interaksi sosial di tempat kerja, seseorang yang kehilangan pekerjaan akan menarik diri dari kehidupan sosial akibat rasa malu dan tertekan. “Menyendiri pun menjadi hal yang sangat bisa dipahami dan dialami oleh seseorang yang baru kehilangan pekerjaan,” katanya.

    Keempatnya pun tidak boleh dibiarkan terus menerus. Sebagai alternatif, Retno menyarankan agar setiap orang segera move on atau melupakan apa yang sudah terjadi dengan menerima dan berjalan maju. “Ini memang berat tapi bukan akhir dari segalanya. Fokuskan diri akan apa yang akan datang dengan menerima dan hindari semua yang telah lalu,” katanya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    BPOM, Panduan Penerapan New Normal di Kantor dan Tempat Kerja

    BPOM melansir panduan penerapan new normal alias tatanan baru. Ada sembilan rekomendasi agar pandemi tak merebak di kantor dan tempat kerja.