Manfaat Daun Pare dan Rahasia Pahit Pada Pare

Reporter:
Editor:

S. Dian Andryanto

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) melakukan penellitian terhadap manfaat buah pare untuk bantu mengobati cacingan. Dok/ugm.ac.id KOMUNIKA ONLINE

    Mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) melakukan penellitian terhadap manfaat buah pare untuk bantu mengobati cacingan. Dok/ugm.ac.id KOMUNIKA ONLINE

    TEMPO.CO, Jakarta - Tumbuhan yang cenderung berwarna hijau ini, dengan permukaan kulitnya bergerigi memang menjadi santap sedap dan cukup dikenal  masyarakat. Manfaat daun pare dan buah pare kerap digunakan sebagai pengobatan. Walau terdapat beberapa jenis pare di Indonesia, umumnya rasa pahit masih mendominasi daging tumbuhan yang nama latinnya Momordica  Carantia.

    Menurut Artikel Ilmiah dari Universitas Mercubuana, rasa pahit yang tedapat pada tumbuhan pare akibat adanya Zat Glikoserin yang di dalamnya memuat unsur mamordicin dan charitin.

    Senyawa aktif dalam Glikoserin (Glikosida) ada disebut dengan Saponin. Saponin merupakan glikosida yang larut dalam air Etanol tapi tidak larut dalam eter, Dalam berbagai kasus, Saponin tertentu berfungsi sebagai antimikroba yang juga dapat dihasilkan dari beberapa tumbuhan. Hasil yang baik pada Saponin ini sering digunakan pada bidang kesehatan seperti dibuat menjadi bahan baku pembuatan sintesis hormon steroid.

    Baca: Mau Tahu Manfaat Daun Pare dan Jenis-jenis Pare?

    Kemudian ada yang disebut dengan Tritepen, ekstrasi kandungan Pare yang banyak khasiat dari berbagai penelitian membukti bahwa rasa pahit pada Pare efektif sebagai pengobatan. Tritepen adalah sebuah susunan dari Glikosida, yang disebut Glikosida Tritepen atau juga biasa disebut Kukurbitasin karena tumbuhan Pare masih berada dalam bangsa Cucurbitaciae.

    Selain manfaat daun pare, biji pare punya khasiat. Berdasarkan penelitian ekstrasi biji pare yang menunjukkan adanya Momordikosida utama (pahit), Momordikosida L dan Momordikosida K yang di kedua jenis ini bersifat Sitotoksik. Sitotoksik berasal dari dua kata Sito yang berarti Sel dan Toksik yang berarti racun, menurut artikel Ilmiah dari Universitas Andalas (Unand) senyawa Sitotoksik adalah senyawa atau zat yang mempu merusak sel normal atau kanker, serta dapat digunakan untuk menghambat pertumbuhan Sel Tumor Maligna.

    TIKA AYU


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Forbes: Ada Perempuan Indonesia yang Lebih Berpengaruh Daripada Sri Mulyani

    Berikut sosok sejumlah wanita Indonesia dalam daftar "The World's 100 Most Powerful Women 2020" versi Forbes. Salah satu perempuan itu Sri Mulyani.