Pentingnya Tidur Siang saat Puasa Ramadan Menurut Pakar

Reporter:
Editor:

Yayuk Widiyarti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi wanita tidur. Freepik.com

    Ilustrasi wanita tidur. Freepik.com

    TEMPO.CO, Jakarta - Ibadah malam Ramadan dan sahur pada dini hari dapat membuat kebiasaan tidur berubah. Penelitian menunjukkan orang yang berpuasa tidur sekitar satu setengah jam lebih sedikit dari biasanya. Kualitas tidur juga bisa terganggu karena waktu tidur terpecah-pecah selama periode 24 jam.

    Oleh karena itu, dokter menyarankan untuk mengatur jadwal tidur yang bisa diterapkan selama sebulan dan untuk memastikan setiap orang bisa tidur setidaknya empat jam tanpa gangguan di malam hari.

    “Tidur adalah bagian penting dari menjaga kesehatan yang memungkinkan tubuh untuk mengisi energi dan memulihkan diri. Kurang tidur dapat mempengaruhi suasana hati serta kesehatan fisik, termasuk penambahan berat badan hingga peningkatan risiko penyakit jantung atau bahkan diabetes," kata Dr. Sobia Farooq, ahli paru di Klinik Cleveland Abu Dhabi, dikutip dari Gulf News.

    Rata-rata orang dewasa membutuhkan 7-8 jam tidur setiap malam sedangkan anak-anak berusia 6-12 tahun membutuhkan 9-12 jam tidur setiap hari. Dr. Muhammed Anas Ayoob, spesialis penyakit paru di Rumah Sakit Spesialis NMC, mengatakan banyak orang kurang tidur akut pada malam hari, yang menyebabkan lelah, mengantuk, dan perubahan suasana hati di siang hari.

    “Penelitian telah menunjukkan penundaan waktu tidur dan bangun yang tiba-tiba pada peserta yang menjalankan puasa Ramadan jika dibandingkan dengan bulan-bulan lain. Selain itu, persentase subyek yang bangun setelah pukul 12.00 secara signifikan lebih tinggi pada minggu ketiga Ramadan dan kantuk di siang hari lebih tinggi secara signifikan.

    Terakhir, persentase siswa yang mengatakan mereka tertidur secara tidak sengaja di kelas meningkat secara signifikan dari 15 persen sebelum Ramadan menjadi 36 persen kala Ramadan," ujar Ayoob.

    Kurang tidur dapat menyebabkan perubahan suasana hati, nyeri sendi, dan rasa kantuk. “Mengantuk dapat mengganggu fungsi kognitif, merusak daya ingat, menyebabkan perubahan kepribadian, bahkan depresi. Mengemudi dalam keadaan mengantuk terbukti lebih berbahaya daripada di bawah pengaruh alkohol," jelas Farooq.

    Dokter mengingatkan akumulasi kurang tidur memiliki banyak dampak yang lebih berbahaya, termasuk peningkatan risiko obesitas, diabetes, dan penyakit jantung. Merencanakan rutinitas tidur baru selama Ramadan bisa membantu mengurangi risiko kurang istirahat.

    Ayoob mengatakan orang harus menargetkan waktu tidur setidaknya empat jam di malam hari, idealnya sebelum bangun sahur, dan kemudian tidur beberapa jam lagi setelah salat Subuh sebelum menjalankan aktivitas. Ia juga merekomendasikan tidur siang jika memungkinkan.

    Tidur siang bisa menjadi cara yang fantastis untuk mengejar sedikit tidur dan membantu merasa lebih berenergi. Namun, penting untuk mengatur tidur siang dengan benar untuk mendapatkan manfaatnya. Saya menyarankan batasi tidur siang hingga 20 menit dengan menyetel alarm karena tidur lebih lama bisa menjadi kontraproduktif dan menyebabkan perasaan lebih lelah dan pening daripada sebelumnya, ” katanya.

    Pola makan dan aktivitas fisik berperan penting dalam memastikan kualitas tidur. Kurangi makanan berat yang kaya lemak jenuh dan karbohidrat pada periode sebelum tidur. Ini akan membantu pencernaan yang lebih baik sebelum dan selama tidur. Aktivitas fisik sedang hingga tinggi juga sangat efektif dalam memastikan kualitas tidur.

    Orang tua juga harus memastikan anak-anak dapat waktu tidur yang cukup. Batasi waktu melihat gawai sebelum tidur agar cahaya biru tidak mengganggu tidur.

    Baca juga: 4 Manfaat Tidur Siang Bagi Orang Dewasa Hingga Balita


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    5 Cara Perlawanan 75 Pegawai KPK yang Gagal TWK

    Pegawai KPK yang gagal Tes Wawasan Kebangsaan terus menolak pelemahan komisi antirasuah. Seorang peneliti turut menawarkan sejumlah cara perlawanan.