Pahami Risiko Tidur dengan Lampu Menyala

Reporter:
Editor:

Yayuk Widiyarti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi wanita tidur. Freepik.com/Tirachardz

    Ilustrasi wanita tidur. Freepik.com/Tirachardz

    TEMPO.CO, Jakarta - Ada orang merasa nyaman tidur dalam keadaan lampu menyala. Namun, ada juga yang mungkin hanya bisa tertidur lelap jika lampu kamar dimatikan atau gelap.

    Tidur dalam kondisi gelap atau mematikan lampu kamar akan membuat kualitas tidur menjadi lebih baik. Paparan cahaya adalah faktor kunci yang mengatur tidur dan jam biologis tubuh. Cahaya menjadi acuan jam biologis tubuh karena cahaya yang diterima tubuh saat tidur dapat memberikan sinyal yang menunjukkan waktu-waktu tertentu bagi tubuh.

    Paparan cahaya saat tidur bekerja dengan merangsang aliran sel saraf dari mata ke bagian dari otak. Mereka dapat mengontrol hormon, suhu tubuh, dan fungsi lain yang bertugas membuat mengantuk. Kebiasaan tidur dengan ditemani lampu tidur yang terang menyimpan kemungkinan dampak buruk bagi kesehatan.

    Selain dapat mengganggu irama sirkadian tubuh, penelitian menunjukkan adanya kemungkinan kontribusi cahaya di malam hari terhadap obesitas, depresi, bahkan kanker. Setiap warna cahaya bisa menyebabkan efek yang tidak sama.

    Lampu dengan sinar berwarna biru pada siang hari dapat memberi efek positif pada suasana hati dan meningkatkan konsentrasi. Namun, efeknya dapat berbalik pada malam hari karena sinar biru justru memberi dampak negatif pada tubuh ketika saatnya beristirahat.

    Pancaran cahaya pada tubuh ketika tidur malam justru dapat menghambat terbentuknya melatonin. Melatonin adalah hormon yang mempengaruhi irama sirkadian atau irama biologis tubuh yang berlangsung 24 jam.

    Kekurangan melatonin inilah yang diduga terkait dengan gangguan tidur dan kesehatan secara umum. Itulah mengapa melatonin juga dapat diberikan sebagai obat tidur untuk membantu orang lebih mudah terlelap dan digunakan untuk mengatasi gangguan tidur.

    Jika cahaya lampu tidur sampai menimbulkan gangguan tidur, berikut beberapa risiko gangguan kesehatan yang dapat terjadi.

    Obesitas
    Dari sebuah penelitian, didapatkan kemungkinan kebiasaan tidur dengan cahaya dapat berdampak kepada pola makan yang meningkatkan risiko berat badan berlebih.

    Depresi
    Sebuah penelitian menunjukkan ada kemungkinan penggunaan lampu tidur, bahkan dengan cahaya redup, dapat meningkatkan perubahan fisiologis tertentu. Efek perubahan tersebut dapat menimbulkan perubahan tertentu pada otak dan memicu depresi. Meski demikian, hal ini masih terus diteliti.

    Gangguan kesehatan reproduksi
    Paparan cahaya pada malam hari sering dialami pada orang yang bekerja dengan sistem shift. Hal ini dapat memicu terjadinya gangguan kesehatan reproduksi, terutama pada kaum wanita. Sebuah penelitian menyatakan semakin sering wanita bekerja dengan sistem tersebut, maka semakin tinggi risiko siklus haid mengalami gangguan. Para peneliti menduga hal tersebut juga berkaitan dengan siklus tidur yang mengganggu stabilitas hormon.

    Kanker
    Sebuah penelitian menyebutkan sistem kerja shift dapat mengganggu siklus tidur serta menjadi salah satu faktor risiko kanker prostat dan payudara. Senada dengan hal tersebut, penelitian lain menyatakan tidur malam dengan lampu yang menyala merupakan salah satu faktor yang dapat meningkatkan risiko kanker payudara.

    Baca juga: Lampu Kamar Nyala Saat Tidur, Bikin Berat Badan Bertambah


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Negara-negera yang Sudah Melakukan Vaksinasi Anak di Bawah 12 Tahun

    Di Indonesia, vaksin Covid-19 baru diberikan ke anak usia 12 tahun ke atas. Namun beberapa negara mulai melakukan vaksinasi anak di bawah 12 tahun.