Ini Perbedaan antara Gangguan Bipolar dan Ambang

Reporter:
Editor:

Nurhadi

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Bagikan Berita
    Ilustrasi gangguan bipolar (Pixabay.com)

    Ilustrasi gangguan bipolar (Pixabay.com)

    TEMPO.CO, Jakarta - Gangguan bipolar atau bipolar disorder kerap disamakan dengan ambang atau borderline personality disorder. Meskipun keduanya berkaitan dengan perubahan emosi yang cepat dan tendensi untuk melakukan sesuatu bersifat impulsif, keduanya memiliki perbedaan. Oleh karena itu keduanya juga memiliki perbedaan dalam penanganannya.

    Gangguan bipolar diasosiasikan dengan perubahan emosi yang cepat, dari depresi ke kegembiraan yang menggila (mania). Sementara ambang berhubungan dengan perubahan emosi yang kerap disebut disregulasi emosional atau ketidakstabilan afektif. Dilansir dari Verywell Mind, orang-orang dengan ambang dapat berubah-berubah dari baik-baik saja hingga tertekan dalam waktu singkat. 

    Episode depresif dan mania yang dapat bertahan berminggu-minggu hingga berbulan-bulan adalah salah gejala gangguan bipolar. Sedangkan orang penderita ambang mengalami pergantian emosi yang cepat dan berdurasi lebih singkat, biasanya hanya beberapa jam.

    Perubahan emosi pada penderita bipolar dapat mengubah perilaku, kebiasaan, durasi tidur, energi, hingga pemikiran mereka. Penyebabnya tidak dapat diketahui dengan pasti dan terjadi secara tiba-tiba. Sedangkan perubahan emosi pada penderita ambang diakibatkan karena rasa kekosongan, sakit hati, keputusasaan, kemarahan, hingga kesepian.

    Menurut penelitian, orang dengan gangguan bipolar lebih banyak ketimbang penderita ambang. Sejauh ini, belum ada penelitian yang menunjukkan korelasi antara ambang dengan gangguan bipolar. Meskipun ada kemiripan di antara keduanya, perbedaan yang mencolok jelas terlihat di antara dua kondisi ini.

    Dilansir dari laman WebMD, penanganan gangguan bipolar dilakukan terus-menerus agar kondisi mereka tetap stabil. Biasanya, obat-obatan diperlukan untuk menstabilkan emosi bersamaan dengan antipsikotik dan antidepresan. Terapi juga dapat dilakukan untuk membantu orang-orang dengan gangguan bipolar mengerti cara mengatasi situasi yang mereka hadapi.

    Dalam jangka panjang, penanganan terhadap orang dengan ambang diperlukan. Pengobatan dilakukan dengan psikoterapi seperti Terapi Perilaku Dialektika dan psikoterapi yang berfokus pada transferensi untuk membantu orang-orang mengontrol impulsivitas seperti percobaan bunuh diri, kemarahan, dan sensitivitas berlebihan ketika berinteraksi dengan orang lain. Obat-obatan juga bisa diberikan untuk mengatasi gejala meskipun tidak selalu efektif.

    DINA OKTAFERIA

    Baca juga: Mengenal 3 Jenis Gangguan Bipolar, Ada yang Tidak Dramatis

    Selalu update info terkini. Simak breaking news dan berita pilihan dari Tempo.co di kanal Telegram “Tempo.co Update”. Klik https://t.me/tempodotcoupdate untuk bergabung. Anda perlu meng-install aplikasi Telegram terlebih dahulu.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Pemerintah Larang WNA dari 11 Negara Masuk untuk Cegah Varian Omicron

    Pemerintah telah berupaya membendung varian Omicron dari Covid-19. Luhut Binsar Pandjaitan menegaskan, pemerintah sudah membuat sejumlah kebijakan.