Tubuh Sakit, Tapi Diperiksa Normal? Ini Alasannya

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Bagikan Berita
    greatsanddunes.info

    greatsanddunes.info

    TEMPO.CO, Jakarta - Ilmu kedokteran modern memang lebih menintikberatkan pengobatan kepada sisi fisik atau biologis pasien. Namun, ilmu kedokteran juga memiliki cabang bernama psikosomatik. Psikosomatik adalah salah satu cabang ilmu penyakit dalam. Secara terminologi adalah keterkaitan antara psiko (jiwa) dan soma (badan).

    Antara jiwa dan badan adalah satu kesatuan. Interaksi pasangan ini, ditambah dengan interaksi pada lingkungan, selalu ada sepanjang hayat. "Kalau jiwa sakit, badannya sakit. Kalau jiwa terganggu, badannya bisa terganggu," ujar Presiden Indonesian Society of Psychosomatic Medicine E. Mudjaddid yang ditemui di divisi Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia/RS Cipto Mangunkusumo. Gangguan itu berupa keluhan kelainan di badan yang dalam organ tubuhnya ternyata tidak ditemukan ada masalah. Misal diare karena gugup atau maag akibat stres.

    Lantaran melibatkan psikis dan fisik, pengobatannya harus holistik. Mudjaddid mengatakan perlu menyembuhkan empat unsur dalam pengobatan psikosomatis. Pertama adalah biologis, yaitu badan pasien. Diobati sesuai keluhan, yang diare diberi antidiare, yang maag diresepkan antimaag. Lalu, dari sisi psikisnya, diterapi jiwanya dengan psikoterapi dan kalau perlu diberi obat-obatan yang memiliki modifikasi psikis, yaitu psikofarmaka.

    Mudjadid menjelaskan, faktor ketiga yang tak kalah penting adalah sosial. Bagaimana memberi tahu orang-orang di sekitarnya yang menjadi penyebab pasien tertekan atau menderita. "Mereka juga harus dilibatkan," kata staf akademik divisi Psikosomatik Fakultas Kedokeran UI ini. Terakhir, adalah aspek spiritual. Menurut dia, orang-orang yang punya pegangan spiritual cepat sembuhnya ketimbang yang kosongan.

    Bentuk psikoterapi itu bisa bermacam-macam, ada meditasi, zikir hingga baca doa. Intinya, kata Mudjaddid adalah kegiatan yang menghasilkan efek rileksasi. Yang membuat stabik kinerja dua sistem saraf otonom tubuh, simpatis dan parasimpatis. Dua sistem tersebut bertugas memelihara homeostatis yaitu keadaan yang relatif konstan di dalam tubuh. (baca juga: Anak Autis Bisa Terapi Gratis Di Sini)

    Ia mencontohkan, di siang hari, kinerja sistem saraf simpatis lebih tinggi. Sehingga membuat orang bisa bekerja dengan baik dan terjaga konsentrasinya. Waktu malam tiba, giliran parasimpatis yang bekerja lebih keras, yang membuat tubuh masuk fase istirahat. Kalau seimbang kinerja dua sistem saraf tersebut, tubuh tentunya bisa berfungsi optimal.

    Untuk memilih terapi apa yang aman menangani gangguan psikosomatik, Mudjaddid menegaskan, tentu harus yang berbasis ilmiah. Melewati serangkaian penelitian dan teruji klinis. (baca juga: Olga, Aburizal, Mahfud MD, Terapi Stem Cell)

    DIANING SARI

    Terpopuler:
    Tersebar, Foto Pacaran Anggota JKT48 di Medsos?
    Lionel Richie, Ayah Kandung Khloe Kardashian?
    Jay Subiakto Kecewa Konser Salam 3 Jari
    Lola Amaria Diundang Ajang Bergensi di Hong Kong
    Anwar: Pendukung Prabowo Akhirnya Terima Jokowi

     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Ronaldo Cetak Gol ke-800: Ini Jejak Gol Bersejarah CR7

    Ronaldo mencetak 800 gol sepanjang kariernya. Gol itu ia torehkan di laga Liga Inggris melawan Arsenal, 3 Desember lalu. Apa saja gol bersejarahnya?