Kamis, 20 September 2018

Pelecehan Seksual di National Hospital, ini Cara Pencegahannya

Reporter:
Editor:

Mitra Tarigan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi operasi. REUTERS

    Ilustrasi operasi. REUTERS

    TEMPO.CO, Jakarta - Dugaan pelecehan yang terjadi pada seorang pasien wanita oleh seorang petugas anastesi di Rumah Sakit Swasta National Hospital, Surabaya masih menjadi perhatian masyarakat. Pengamat Kesehatan Jusuf Kristianto mengatakan ada beberapa cara agar pelecehan seksual tidak terjadi di rumah sakit.

    Pertama, memasang Closed Circuit Television alias CCTV di kamar pemulihan. "Kamar pemulihan rawan tempat terjadinya pelecehan seksual. Di ruang ini, para pasien masih tidak sadar karena dampak obat bius setelah operasi," katanya saat dihubungi 26 Januari 2018. Baca: Cari Pacar? Pilih yang Punya Mata Cokelat, Bisa Lebih Dipercaya

    Ruang pemulihan adalah ruangan yang dekat dengan kamar operasi. Di ruangan itu, pasien biasanya hanya mengenakan pakaian khusus setelah operasi. Maklum, demi menjaga kebersihan dan sterilisasi, pasien dan para dokter serta perawat dan petugas kesehatan lain hanya mengenakan pakaian operasi. Di ruangan pemulihan itu, biasanya pasien akan dilihat kondisi kesehatannya pasca operasi. Tensi darah, dan detak jantung pun akan dipantau oleh para dokter dan perawat. Setelah dinilai stabil, dari kamar pemulihan itu, pasien diperbolehkan beristirahat di kamar rawat inap.

    ilustrasi pelecehan seksual (pixabay.com)

    CCTV ini yang memantau bukan tim satuan pengaman, namun duty manajemen rumah sakit atau kepala perawat. "Orang yang memantau CCTV itu bisa melihat apakah tangan pasien sudah mulai bergerak, sudah mulai sadar, atau ada orang atau perawat lain yang mendekati pasien yang masih tidak sadar itu," katanya. Baca: Waspadai 3 Kesalahan Pemakaian Pelembap, Kulit Bisa Cepat Tua 

    Pencegahan kedua yang bisa dilakukan keluarga berada dekat dengan kamar operasi. Jusuf mengatakan kamar pemulihan biasanya dekat dengan kamar operasi. Bisa saja di kamar pemulihan keluarga masih belum boleh menemani pasien, tapi biasanya ada kaca bening dekat ruang pemulihan sehingga keluarga bisa memantau dari luar. "Kalau ada keluarga yang memantau dan mengawasi, kemungkinan pelecehan seksual tentunya akan kecil terjadi," katanya.

    Cara ketiga, pasien ditemani orang terdekat saat hendak mendapatkan penanganan oleh dokter. Menurut Jusuf, kasus ini biasanya terjadi bila dokter harus meraba beberapa organ tubuh yang sangat privat. Pasien juga sebaiknya tidak ditinggal sendiri saat akan diberi obat bius dan setelah anastesi. "Banyak dokter obgyn yang mengijinkan bumil didampingi saat melahirkan. Sehingga tindakan dokter terpantau suami," katanya. 

    Hal keempat yang perlu diperhatikan adalah pentingnya rumah sakit menyediakan tenaga kesehatan wanita bagi pasien wanita. Jusuf mengatakan sebagian besar perawat ruangan pemulihan memang berjenis kelamin wanita, sedangkan mayoritas petugas anastesi di ruang operasi biasanya adalah pria. Baca: Heboh Pelecehan Seksual, Waspada Trauma Lanjutan pada Korban

    Pengamat kesehatan Robert Imam Sutedja menambahkan sebaiknya melakukan penataran untuk mengingatkan para dokter dan perawat penting untuk menjaga kode etik. "Perlu memberi tahu komunitas kesehatan bahwa umumnya pelanggaran yang dilakukan mempunyai dampak etik, dampak dispilin, hukum pidana dan kompetensi serta akibatnya," kata Robert.

    Robert menyarankan juga agar melakukan tes psikologi untuk tenaga kesehatan. "Tes psikologi ini tidak hanya untuk perawat, tapi juga dokter yang juga rawan dengan pelanggaran sejenis," katanya. Tes psikologi ini penting dilakukan karena petugas kesehatan dinilai sering melihat organ tubuh lawan jenis lawan jenis saat memberikan pelayanan," katanya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Salah Tangkap, Penangkapan Terduga Teroris, dan Pelanggaran HAM

    Sejak insiden Mako Brimob Kelapa Dua pada Mei 2018, Polri tak mempublikasi penangkapan terduga teroris yang berpotensi terjadi Pelanggaran HAM.