Kamis, 22 Februari 2018

Jelang Hari Valentine, Ini Sejarah Memberi Cokelat

Reporter:

Anastasia Pramudita Davies

Editor:

Mitra Tarigan

Senin, 12 Februari 2018 14:30 WIB
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Jelang Hari Valentine, Ini Sejarah Memberi Cokelat

    Ilustrasi pria memegang cokelat. shutterstock.com

    TEMPO.CO, Jakarta - Memberi dan menerima cokelat telah menjadi salah satu cara paling umum dan populer bagi pasangan untuk merayakan Hari Valentine. Menurut History.com, tercacat sebanyak 58 juta pon cokelat dibeli selama minggu-minggu Valentine. Memang banyak dari Anda yang menyukai cokelat dan tidak masalah untuk menerima cokelat. Namun, pernahkah Anda terpikir kenapa ketika Hari Valentine, cokelat menjadi hal yang wajib? Apa kaitannya? Baca: Studi Ini Menunjukkan Orang Single Lebih Bahagia, Setuju?

    Pertama, perlu diingat bahwa biji kakao memiliki manfaat kesehatan yang sangat besar. Menurut Forbes, cokelat telah terbukti baik untuk kesehatan jantung, meningkatkan fungsi kognitif, dan secara mengejutkan juga kaya akan nutrisi.

    Kembali lagi ke sejarah hubungan antara cokelat dan cinta. Ternyata, hubungan pertama yang tercatat antara cokelat dan hari kasih sayang kembali kepada suku Aztec. Menurut The New York Times, kaisar terkenal Montezuma dikabarkan menggunakan biji kakao, seperti M&Ms, untuk memicu suasana pertemuan romantisnya.

    Cokelat mengandung triptofan dan phenylethylamine, yaitu dua bahan kimia yang mempengaruhi pusat kesenangan dan penghargaan di otak. Kebanyakan ilmuwan setuju bahwa dalam kandungan cokelat, jumlah takaran dua bahan kimia ini terlalu sedikit untuk memiliki efek yang ditandai dengan sebuah hasrat. Baca: Tangan Terus Menggigil, Wanita Ini Lakukan Terapi dengan Musik

    Pegawai toko merapihkan susunan cokelat untuk perayaan hari valentine di Dapur Coklat, Bintaro, Tangerang, 10 Februari 2015. Meski kebanyakan pengunjung membeli cokelat untuk rayakan hari Valentine, namun beberapa pengunjung mengaku memang hanya sedang ingin mengkonsumsi cokelat. Tempo/Aditia Noviansyah

    Dalam era Ratu Victoria di Inggris, masyarakat masih mempertahankan hubungan antara cokelat, cinta, dan rayuan terkait romantisme. Menurut The Independent, seorang pengamat abad ke-19 mengamati bahwa hampir secara naluriah pria menginterpretasikan cokelat sebagai jalan menuju hati seseorang.

    Hal ini juga memberi pria kesempatan untuk menunjukkan rasa dan kemampuan mereka saat memilih kotak "yang tepat" untuk wanita tertentu yang mereka coba rayu. Dan saat perkembangan zaman terus memperkuat hubungan antara cokelat dan cinta, The Independent juga mencatat munculnya peringatan etika terhadap wanita agar tidak menerima sekotak cokelat dari seseorang yang tidak mereka temui. Baca: Dulu, Wartawan Sampai Titip Naskah ke Pilot untuk Kirim Berita

    Meskipun hubungan antara cokelat dan cinta belum didukung oleh sains, paling tidak, Anda tahu bahwa manfaat kesehatan dari dark chocolate adalah nyata dan benar. Pada akhirnya, bagaimanapun asal muasal keterkaitan antara cokelat dan cinta, hal tersebut sudah menjadi budaya bagi kebanyakan orang untuk menunjukkan sisi romantis mereka dalam menyambut hari kasih sayang.

    ELITE DAILY | THE INDEPENDENT UK


     

     

    Lihat Juga


    Selengkapnya
    Grafis

    Vino G Bastian, Sherina Munaf, dan Para Pemeran Wiro Sableng 212

    Bersama Sherina Munaf dan Marsha Timothy, Vino G Bastian menghidupkan kembali tokoh penggenggam Kapak Maut Naga Geni 212 dalam film Wiro Sableng.