Awas, Kebiasaan Buruk Ini Berbahaya buat Otak

Reporter:
Editor:

Yayuk Widiyarti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi wanita  bersembunyi di balik selimut. shutterstock.com

    Ilustrasi wanita bersembunyi di balik selimut. shutterstock.com

    TEMPO.CO, Jakarta - Ketika menerapkan gaya hidup sehat, biasanya orang hanya memperhatikan ukuran pinggang, kondisi kulit, ginjal, dan jantung. Padahal, ada organ lain yang sangat penting untuk diperhatikan juga, yakni otak.

    Otak adalah salah satu organ yang kompleks dan memainkan peran kunci di hampir semua fungsi tubuh. Otak itu sensitif dan kondisinya juga dipengaruhi oleh gaya hidup. Apa yang Anda makan, minum, dan bagaimana bersosialisasi dapat membahayakan atau meningkatkan kesehatan otak. Berikut lima kebiasaan buruk bagi otak, seperti dilansir Medical Daily.

    #Menutup kepala saat tidur
    Tidur dengan kepala di bawah selimut berpotensi membahayakan otak karena asupan oksigen berkurang. Saat menutup kepala dengan selimut, Anda bernapas di udara yang baru saja diembuskan. Kurangnya oksigen yang mengalir ke otak dapat meningkatkan risiko demensia dan penyakit Alzheimer, begitu menurut Capital FM.

    #Latihan mental dan fisik yang buruk
    Menjaga pikiran dan tubuh dapat membantu meningkatkan kesehatan otak. Kurang olahraga akan memengaruhi daya ingat dan mungkin membuat lebih mungkin menderita demensia. Beberapa kegiatan yang dikenal efektif untuk merangsang otak termasuk membaca dan bersosialisasi.

    Ilustrasi otak. medicalnews.com

    #Kualitas tidur buruk
    Tidak cukup tidur setiap malam untuk waktu yang lama dapat membahayakan otak dan meningkatkan risiko gangguan neurologis. Selama tidur, tubuh bekerja untuk mengeluarkan racun dan produk sampingan lain dari otak. Kurang tidur kronis dapat menunda proses tersebut dan memungkinkan pembentukan zat berbahaya.

    #Kurang minum
    Kekurangan air dalam tubuh tidak hanya berdampak pada kinerja fisik tetapi juga otak. Dehidrasi dapat menyebabkan migrain, perubahan suasana hati, lekas marah, cemas, dan kelelahan. Otak mengandung air dan saat tubuh mengalami dehidrasi, volume organ akan berkurang dan mempengaruhi fungsinya.

    #Stres
    Stres kronis memicu produksi hormon steroid yang disebut kortisol. Memiliki kelebihan kortisol dalam tubuh telah dikaitkan dengan ketidakseimbangan hormon, kanker, pertambahan berat badan, penyakit jantung dan diabetes. Stres juga dapat berpengaruh terhadap kelenjar adrenal. Anda mungkin mengalami kabut otak, kehilangan ingatan, dan kecemasan.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Calon Menteri yang Disodorkan Partai dan Ormas, Ada Nama Prabowo

    Presiden Joko Widodo menyatakan bahwa sebanyak 45 persen jejeran kursi calon menteri bakal diisi kader partai.