Bahayanya Bayi yang Menangis Terus

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Bagikan Berita
    REUTERS/Rick Wilking

    REUTERS/Rick Wilking

    TEMPO.COJakarta - Menangis bagi bayi mungkin terdengar wajar. Tapi jika air mata dan jeritan tersebut muncul lama, maka bisa jadi salah satu pertanda gangguan kesehatan. "Bayi yang lebih dari tiga jam menangis, mungkin dia sedang kolik," ujar Profesor dr Mohammad Juffrie dalam workshop Gejala-Gejala Gangguan Pencernaan pada Bayi dan Cara Pencegahannya di Hotel JW Marriot, Selasa, 25 November 2014. (Baca: Tangis Bayi Deteksi Potensi Autisme)

    Tangisan, kata dokter spesialis anak ini, merupakan komunikasi lisan pertama bayi. Lewat menangis, bayi mengungkapkan perasaannya, entah lapar atau nyeri. Tapi, ada yang khas pada bayi yang menangis karena sakit. Ciri itu adalah si kecil tak bisa diam meski sudah diberi asupan, ditimang-timang, maupun dihibur. Maka orang tua perlu waspada bahwa dia mengalami kolik, gangguan pencernaan yang berujung pada nyeri di perut bayi. (Baca: Mengapa Tangis Bayi Reda Ketika Digendong)

    Dokter Juffrie menjelaskan ciri kolik bisa diperkuat dengan momen dan tipikal tangisan. Umumnya ditandai bayi yang menangis di malam hari tanpa alasan yang jelas. Tangisannya bernada tinggi dengan kening yang berkerut dan wajah memerah. "Kalau dibiarkan tentu akan mempengaruhi kualitas hidup keluarga," kata pengajar di Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, ini. (Baca: Peneliti Ciptakan Alat Analisis Tangis Bayi)

    Kolik, kata Profesor Yvan Vandenplas, umum terjadi pada bayi yang mengalami masa peralihan dari menyusui di puting ke menggunakan botol. "Penyebabnya masih belum diketahui," kata pengajar di Universitas Kinderziekenhuis, Belgia, ini. Ilmu kedokteran menengarai kejadiannya merupakan kombinasi gabungan beberapa gejala. Mulai dari sistem perkembangan pencernaan, intoleransi makanan, resistan terhadap laktase, alergi susu, hingga pertumbuhan flora di saluran pencernaan yang belum seimbang.

    Yvan menyarankan untuk memberi terapi diet pada bayi. Caranya, dengan memberi asupan yang banyak bakteri baik atau probiotik atau modifikasi makanan yang rendah laktosa. "Hindari obat-obatan, tidak ada bukti yang mendukung bahwa obat memberi manfaat," kata dia. Lagi pula bayi yang kolik, bukan karena dia memiliki penyakit. Tapi memang dia dalam masa pertumbuhan, di mana sistem pencernaannya belum sempurna.

    DIANING SARI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Pentingnya Air Putih Setelah Anda Makan

    Makan tentu tak nikmat bila tidak minum air putih setelahnya. Selain nikmat, air putih juga memiliki khasiat yang baik bagi kesehatan tubuh.