Jumat, 23 Februari 2018

5 Pekerjaan Ini Rentan Mengundang Depresi  

Oleh :

Tempo.co

Sabtu, 12 Agustus 2017 14:01 WIB
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • 5 Pekerjaan Ini Rentan Mengundang Depresi  

    Ilustrasi wanita depresi menggenggam ponsel. shutterstock.com

    TEMPO.CO, Jakarta - Isu depresi semakin nyata setelah rentetan kejadian kasus bunuh diri yang terjadi belakangan. Depresi bisa disebabkan banyak hal. Selain trauma dan konflik tidak berkesudahan, depresi juga bisa dipicu stres di tempat kerja.

    Baca: Binatang Peliharaan Juga Bisa Depresi, Ini Tanda-tandanya

    Beberapa pekerjaan bahkan disebut-sebut memiliki kecenderungan tinggi memicu stres dan depresi. “Ada beberapa aspek dalam profesi tertentu yang bisa berkontribusi dalam memperparah tingkat depresi pada seseorang,” kata Deborah Legge, PhD, psikolog yang juga konselor kesehatan mental berlisensi di New York, Amerika Serikat.

    Dalam studi di Britania Raya yang dilansir laman Therichest.com, disebutkan bahwa profesi dengan tingkat risiko depresi tertinggi adalah profesi yang berhubungan dengan pelayanan publik.

    Pekerja di pelayanan publik berpotensi mengalami konflik karena harus berurusan dengan orang-orang yang memiliki beragam karakter. Tentu saja, hal ini juga bergantung pada ketahanan mental, lingkungan yang sehat, serta kondisi kesehatan fisik para pekerja.

    Sehingga jika Anda menggeluti salah satu pekerjaan di bawah ini, Anda dituntut lebih waspada. Apa saja pekerjaan dengan tingkat risiko depresi tinggi?

    Pengemudi kendaraan umum
    Pengemudi transportasi umum menjadi profesi dengan peluang depresi yang tinggi, sebesar 16,2 persen. Penyebabnya, para pengemudi harus berurusan dengan lalu lintas yang tidak bersahabat, penumpang yang kasar, dan penghasilan yang tidak tinggi.

    Mereka juga bekerja dengan jam kerja panjang dan melewati rute yang sama setiap hari. Faktanya, pengemudi transportasi umum juga sering menjadi korban kekerasan fisik dan verbal yang dilakukan penumpang.

    Perawat
    Dalam survei yang dilakukan laman kesehatan health.com, profesi perawat menempati profesi dengan tingkat risiko depresi tinggi. Sebanyak 11 persen dari orang yang menekuni profesi perawat pernah mengalami depresi. Penyebabnya, hari-hari perawat dilalui dengan mengurusi orang sakit, mulai memberi makan, memandikan, hingga memberikan obat.

    “Mereka (pasien) jarang berterima kasih atau memberikan apresiasi kepada perawat, bisa jadi karena kondisinya sakit atau memang tidak terbiasa melakukannya,” kata Christopher Willard, psikolog klinis di Universitas Tufts di Massachusetts, Amerika, yang juga penulis buku psikologi anak, Child's Mind.

    “Melihat orang sakit secara terus-menerus dan tidak mendapatkan respons positif sangatlah membuat stres,” kata Willard. Diperparah lagi dengan adanya sif malam.

    Pramusaji restoran
    Pramusaji restoran juga masuk daftar profesi paling memicu depresi dengan peluang sebesar 10 persen. Penghasilan rendah, pekerjaan melelahkan—harus sigap berdiri dan mondar-mandir mengantar pesanan dan membereskan meja—ditambah kemungkinan dimarahi pelanggan yang tidak puas membuat 15 persen dari perempuan yang menggeluti profesi ini pernah mengalami depresi.

    “Orang bisa sangat kejam dan pekerjaan ini sangat menguras tenaga. Ketika orang depresi, sulit mendapatkan energi dan motivasi sehingga pekerjaan ini bisa terasa sangat berat,” kata Legge.

    Pekerja sosial
    Pekerja sosial identik dengan kegiatan membantu sehingga diperlukan empati yang tinggi terhadap orang lain. Namun, ketika seseorang menjalani profesi sebagai pekerja sosial dengan sepenuh hati, terkadang mereka terlalu memikirkan orang lain lebih dari diri sendiri.

    Ini sebabnya pekerja sosial pun rentan terkena depresi dengan peluang sebesar 14 persen. Pekerja sosial juga terlalu sering terpapar oleh kasus dan kisah memilukan dari para klien yang berdampak pada kesehatan mental mereka sendiri.

    Konsultan keuangan
    Mengatur uang memang bukan urusan mudah. Apalagi terkait dengan keuangan orang lain. Ini sebabnya profesi konsultan keuangan masuk ke jajaran pekerjaan yang dapat memicu depresi.

    “Tanggung jawab yang besar terhadap kondisi finansial orang lain menimbulkan perasaan bersalah. Dan ketika klien kehilangan uangnya, mereka mungkin akan menyalahkan konsultan keuangan atas kegagalan itu,” ucap Legge.

    Stres dan depresi yang dialami konsultan keuangan biasanya terjadi jika mereka salah memberikan nasihat dan strategi terutama dalam urusan investasi sehingga mengakibatkan kerugian kepada klien mereka.

    TABLOID BINTANG


     

     

    Lihat Juga


    Selengkapnya
    Grafis

    Deretan Kasus Rizieq Shihab, 11 Tuntutan dalam 9 Bulan

    Kabar kepulangan Rizieq Shihab pada 21 Februari 2018 membuat banyak pihak heboh karena sejak 2016, tercatat Rizieq sudah 11 kali dilaporkanke polisi.